Hari Film Nasional

'Racun' di Balik Manisnya Angka Box Office Indonesia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 30/03/2018 12:40 WIB
Penonton film Indonesia mulai melonjak beberapa tahun belakangan. (Ilustrasi/MorgueFile/mconnors)
Jakarta, CNN Indonesia -- Segelas kopi Americano dari gerai kopi di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di Jakarta Selatan masih mengepulkan asap. Tidak berapa lama, sosok yang naik daun di media sosial beberapa waktu terakhir datang menyapa.

"Sore," sapa Sigit Prabowo, pria yang mengaku menjadi sosok di balik akun Bicara Box Office, yang naik daun di dunia media sosial Twitter. Akun itu secara rutin membahas pendapatan film dari pasar baik dalam bentuk admission atau tiket yang terjual maupun dari pendapatan.

"Saya hanya seorang penggemar film yang hobi memperhatikan box office," kata Sigit. "Sudah 10 tahun saya menjalani hobi ini. Namun baru dua tahun terakhir saja mulai memperhatikan film Indonesia," kata admin dengan jumlah pengikut lima ribuan itu.


Perkembangan film nasional memang menarik dalam beberapa tahun terakhir. Tandanya bukan hanya lonjakan jumlah penonton film lokal. Itu juga diikuti munculnya akun anonim yang membahas soal pendapatan dalam bisnis film, Bicara Box Office.


Sigit mengakui berdasarkan data berbagai sumber yang ia analisis, perfilman Indonesia memang tengah bergairah. Penonton yang datang ke bioskop bukan cuma mencari film Hollywood, namun juga karya sineas lokal.

Satu dekade lalu, film Indonesia yang mampu menorehkan sejarah terlaris bisa dihitung dengan jari. Sebut saja Ada Apa dengan Cinta? (2002) yang sukses menembus satu juta penonton, sebuah angka fenomenal kala itu.

Lalu ada Laskar Pelangi (2008) dan Ayat-ayat Cinta (2008) yang menembus angka penonton atau tiket terjual sebesar 4,7 juta dan 3,6 juta. Juga Habibie & Ainun (2012) dengan 4,5 juta.

Hingga pada 2016, film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 menggulingkan Laskar Pelangi sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan 6,8 juta tiket terjual.


Sejak saat itu, terutama sepanjang 2017, lebih banyak lagi film yang mendulang penonton. Sebut saja Pengabdi Setan (4,2 juta), Warkop DKI Reborn 2 (4 juta) dan Ayat Ayat Cinta 2 (2,8 juta). Angka 'keramat' satu juta penonton sebagai batas 'aman' sejak era awal reformasi pun kini terasa hambar.

"Kalau dahulu, sejuta penonton tuh prestasi banget. Sekarang sudah tiga, empat, enam juta penonton. Lebih bagus," kata Sunil Samtani, produser Rapi Film yang memproduksi Pengabdi Setan (2017) bersama CJ Entertainment dari Korea Selatan.

Secara kasat mata, dunia perfilman Indonesia seolah mulai kembali bangkit dan menjadi tuan di rumah sendiri. Namun sejatinya, jumlah penonton yang banyak beredar di internet itu belum menggambarkan secara utuh pasar film Indonesia hingga layak disebut industri.

Masalah yang nyaris luput dipantau adalah jumlah uang yang dihasilkan perfilman Indonesia seperti industri pada umumnya. Namun jangankan uang, data pendapatan film atau box office saja Indonesia tak jelas.

"Bisnis modern itu manajemennya berdasarkan data. Cuma untuk mencapai kesepakatan bersama [antar elemen dunia perfilman Indonesia] ini tidak mudah. Ya banyak hal bagaimana kita menerjemahkan peraturannya ke arah itu," kata Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif.

Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif.Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Permen Satu Dekade

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3