Penulis 'Thumbelina' di Balik Hari Buku Anak Internasional

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 02/04/2018 20:41 WIB
Penulis 'Thumbelina' di Balik Hari Buku Anak Internasional Hans Christian Andersen, tokoh di balik Hari Buku Anak Internasional yang diperingati hari ini, Senin (2/4). (buecher.at via Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Buku Anak Internasional yang diperingati hari ini, Senin (2/4) merupakan hari lahir Hans Christian Andersen. Penulis asal Denmark ini dikenal sebagai penulis buku anak termasyhur yang dongeng-dongengnya masih diingat dan diturun-temurunkan sampai sekarang.

Sebut saja The Little Mermaid, Thumbelina dan The Ugly Ducking.

Hans Christian Andersen lahir di Odense, Denmark, 2 April 1805. Ia ditinggal meninggal oleh sang ayah ketika masih berusia 11 tahun. Keluarganya tidak kaya, meski ada rumor ia punya hubungan darah dengan keluarga kerajaan. Namun ibunya sejatinya hanya buruh cuci.



Meski begitu, ia sudah diperkenalkan dengan dunia baca sejak kecil oleh sang ayah. Sebelumnya meninggal, ayah Andersen suka membacakan Arabian Nights untuk anaknya.

Setelah tak lagi bersama ayahnya dan masuk sekolah asrama, Andersen terbiasa bekerja. Pada usia 14 tahun, ia pindah ke Kopenhagen demi memburu cita-cita sebagai aktor. Saat itu ia punya suara sopran yang luar biasa, sehingga dirinya diterima di Royal Danish Theatre.

Sayang, suara Andersen remaja tak selamanya bersamanya. Beranjak dewasa, suaranya berubah. Seorang kawan kemudian menyarankannya menjadi penyair. Dari sana lah ia mulai menulis.


Ia lantas disekolahkan menulis, terutama soal tata bahasa, oleh Jonas Collin yang merupakan direktur di Royal Danish Theatre.

Saat usianya 17 tahun, ia sudah menerbitkan cerita pertamanya. Judulnya The Ghost at Palnatoke's Grave, meski Andersen mengaku sekolah adalah masa-masa pahit sekaligus manisnya. Andersen menuturkan ia sering dikerasi di sekolah.

Bukan hanya itu, ia juga tak dukung untuk terus menulis.

Meski begitu, Andersen tetap aktif menghasilkan karya sepanjang 1820-an. Salah satu yang ia hasilkan The Tallow Candle dan A Journey on Foot from Holmen's Canal to the East Point of Amager. Masih ada beberapa judul puisi dan karya dongeng yang ia hasilkan.


Sampai-sampai Andersen mendapat hadiah dari raja untuk berjalan-jalan keliling Eropa. Dari masing-masing kota yang ia injak, Andersen menghasilkan cerita yang berbeda-beda.

Dongeng-dongeng Andersen yang dikenal hingga kini, berasal dari tahun 1830-an. Itu karena kesulitan penerjemahan ke bahasa Inggris. Pada 1835 dan 1837, dunia baru mengenal dua seri bukunya, Fairy Tales. Di dalam buku itulah terdapat cerita-cerita seperti The Tinderbox, The Princess and the Pea, Thumbelina, The Little Mermaid, dan The Emperor's New Clothes.

Anak-anak zaman sekarang tentu masih akrab dengan cerita seperti tentara miskin yang bertemu penyihir (The Tinderbox), putri yang tak bisa tidur karena ada satu kacang polong di antara lapisan kasurnya (The Princess and the Pea), gadis kecil seukuran jempol (Thumbelina), putri duyung yang mengorbankan jiwanya untuk menjadi manusia (The Little Mermaid), dan raja yang telanjang karena dibohongi penjahit (The Emperor's New Clothes).

Beberapa cerita itu menjadi dasar untuk film, termasuk The Little Mermaid.


Cerita-cerita Andersen itu juga menjadi dasar bagi 'cerita rakyat' dalam dunia sastra klasik Inggris. Andersen sendiri berkawan dengan novelis Inggris Charles Dickens.

Andersen juga membawa pengaruh bagi penulis buku anak lain seperti A.A. Milne dan Beatrix Potter. Penulis di Skandinavia bahkan Amerika Serikat pun terpengaruh gaya Andersen. Ia juga menginspirasi sebuah taman bermain yang dibuka pada 2006 di Shanghai.

Andersen meninggal di Kopenhagen pada 4 Agustus 1875, dalam usia 70 tahun. Sepanjang hidupnya, Andersen tidak pernah menikah. Namun, ia diketahui menyukai pria dan wanita. (rsa)