Bila Hasimah dan Sanwani seolah merasa merugi dengan perubahan drastis di Kemang, Poking justru menikmati hidupnya. Ia merasa terselamatkan atas kedatangan para ekspatriat.
Kala muda, Poking berusaha untuk tidak terus hidup bergantung pada orang tua. Dia coba mencari nafkah dengan berjualan buah. Tokonya kecil, hanya sebentuk bilik berukuran 1x1 meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seniman Bang Poking di rumahnya yang sederhana. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
Dari beberapa lukisan yang ditunjukannya, karya Poking memang terbilang nyeleneh. Salah satunya berupa lukisan bertuliskan 'Es Goblog.' Itu hanya bentuk huruf alfabet yang dibuat acak dengan perpaduan warna oranye dan hitam.
"Saya bikin kayak ini 10, laku. Satunya Rp5 jutaan. Pernah bikin yang bagus, malah enggak laku," katanya sambil tertawa.
Bakat seni yang diperoleh Poking secara otodidak itu turut membangun kedekatan dengan para ekspatriat di Kemang. Selain sebagai pelanggan, mereka juga menjadi teman baik Poking yang kerap ikut ragam kegiatan di kampungnya.
Mereka juga banyak memberi masukan bagi Poking.
Kemang masa lalu dalam potret Bang Poking. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
Poking bercerita soal galeri kecil yang berbentuk bak toko kelontong di kaki lima jalan Kemang. Itu merupakan saksi bisa awal dirinya mulai memiliki usaha sebagai pedagang buah sekaligus seniman.
Ada pula potret Kemang zaman dahulu. Hewan ternak yang pernah menjadi bagian penting kehidupan kawasan tersebut, abadi dalam foto. Jemarinya lalu berpindah menunjukkan keakrabannya dengan warga negara asing.
Poking mengawali bisnis buah sekaligus menjadi seniman. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
Zaman dulu, kata dia, sulit untuk memiliki koleksi foto berwarna atau bahkan memiliki kamera. Hanya orang-orang menengah ke atas yang mungkin memilikinya.
"Awal ketemu mereka ya karena dagang kaki lima sampe sekarang sudah punya galeri ada yang masih berteman. Sekarang karena galeri lagi direnovasi jadi ya pelanggan suka ke rumah aja kadang, sudah pada tahu kok," ungkapnya.
Lihat juga:Tiga Hari Dikubur di Bawah Jalanan Australia |
Pelanggan Poking datang dari berbagai negara. Amerika, Inggris, Jerman, juga Australia. Tidak hanya datang langsung, ada pula yang minta dikirimkan karyanya langsung ke negara mereka masing-masing.
Dalam sebulan, setidaknya ia menjual paling sedikit dua hingga tiga karya. Per buahnya dihargai mulai Rp5 juta.
"Yang penting cukup buat makan," katanya.
Sembari menyeruput kopi, dengan pandangan menerawang Poking bercerita bahwa meski ia merasakan untung dari kehidupan Kemang sekarang, ia turut menyesali atas apa yang terjadi pada kampungnya.
Poking menunjuk teman-teman bulenya. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
"Jadi kurang enak kayak kalau Hari Raya seperti ini, karena tetangga kita sudah habis. Terus itu juga gedong tinggi banget, enggak enak pemandangannya," keluh Poking.
"Kalau musik dari kafe-kafe ya kedengeran kalau malam. Awal-awal mah repot dah, berisik, tapi sekarang sudah terbiasa," ungkapnya lebih lanjut.
Demi tetap mendapat ketenangan di kampungnya. Poking memelihara puluhan ekor burung yang berkicau setiap harinya. Menurut dia, itu juga sebagai hiburan agar ia lupa kalau kini mengidap penyakit asma.
Poking di rumahnya yang dipenuhi burung. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
Di rumah yang ia tinggali dengan adik bungsunya itu, Poking memelihara beberapa ekor burung elang, perkutut, hingga beo. Persisnya ia kurang tahu jumlah pasti burung yang sudah ia miliki. Menurutnya, ada lebih dari 30 ekor.
"Adem banget dulu mah, orang Kemang itu dulu petani, sekarang sawahnya sudah jadi apartemen karena tahun 1980-an dijual ke orang Arab," ungkap Poking.
Kemang identik dengan kawasan eksklusif untuk ekspatriat. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri) |
Kawasan yang cukup strategis dengan pusat perkantoran di Jakarta pun membuat kebanyakan ekspatriat betah. Kemang akhirnya makin berkembang dan dikenal sebagai kawasan hunian eksklusif.
Terletak di Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, konon nama Kemang berasal pohon kemang yang banyak tumbuh di sana. Sayang, lantaran pembangunan yang masif kini tak ada lagi pohon kemang yang bisa dijumpai di kawasan tersebut.
Kemang sekarang, dipenuhi kafe dan restoran mewah. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko) |
Hotel, bank, restoran, kafe, salon, hingga toko-toko yang menyajikan berbagai kebutuhan bagi kalangan kelas menengah ke atas Jakarta berjejeran di kawasan itu. Sekolah dan perguruan tinggi berstatus internasional bahkan ada di sana.
Dinamisnya pembangunan bisnis di kawasan Kemang juga semakin menjadi, tatkala Kemang didaulat sebagai 'Kampung Modern' berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 140 Tahun 1999.
Tapi jangan lupa, di balik tembok-tembok tebal modernitas Kemang, ada penduduk Betawi asli yang mengorbankan hidupnya seperti Hasimah, Sanwani dan Poking. (rsa)
Seniman Bang Poking di rumahnya yang sederhana. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Kemang masa lalu dalam potret Bang Poking. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Poking mengawali bisnis buah sekaligus menjadi seniman. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Poking menunjuk teman-teman bulenya. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Poking di rumahnya yang dipenuhi burung. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Kemang identik dengan kawasan eksklusif untuk ekspatriat. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Kemang sekarang, dipenuhi kafe dan restoran mewah. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko)
Kampung di balik tembok tinggi Kemang. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Pemandangan gedung-gedung tinggi Kemang dari Gang Langgar. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Hasimah, salah satu warga Betawi asli yang masih tinggal di kampung Kemang. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Suasana di Gang Langgar, kampung Betawi asli di balik kemegahan Kemang. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Suasana di Gang Langgar, Kemang. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Anak-anak di Gang Langgar Kemang kekurangan tempat bermain. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)