Film Tentang Tsunami Aceh Buka JAFF 2018

CNN Indonesia | Rabu, 14/11/2018 17:04 WIB
Film Tentang Tsunami Aceh Buka JAFF 2018 JAFF 2018 menampilkan film kolaborasi Indonesia-Jepang sebagai pembuka. (Foto: Dok. JAFF)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jogja-NETPAC Asian Film Festival kembali digelar tahun ini. Pada pergelaran ke-13, mereka memberikan kepada film Umi wo Kakeru (The Man From The Sea) sebagai pembuka.

"Film pembuka adalah Umi wo Kakeru yang digarap oleh sutradara asal Jepang bernama Koji Fukada. Syuting film ini di Aceh, bercerita tentang tsunami," kata Direktur Program JAFF 2018 Ismail Basbeth saat jumpa media di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (13/11).




Film bercerita tentang Banda Aceh setelah dilanda tsunami. Seketika datang seorang penyelamat tak bernama yang diperankan oleh Dean Fujioka. Seiring berjalannya waktu ia dikenal dengan nama Laut.

Kisah tentang Laut cepat tersebar sampai akhirnya sampai ke telinga seorang pekerja sosial bernama Takako (Mayu Tsuruta). Takako mengetahui kisah tentang Laut dari seorang jurnalis bernama Ilma (Sekar Sari) yang tengah bertugas di Banda Aceh.

"Ini percampuran antara surealis dan realis. Orang tiba-tiba muncul dari laut surealis, tapi ceritanya realis," kata Ismail.

Bukan sekadar bercerita tentang kehadiran Laut yang misterius, film ini juga dibumbui kisah cinta. Ilma diceritakan bersahabat dengan anak Takako yang bernama Takashi (Taiga). Sementara Ilma baru saja menyudahi hubungan dengan Chris (Adipati Dolken) yang berteman dengan Takashi.

Chris sendiri sebenarnya menyimpan perasaan terhadap Sachiko (Junko Abe). Sachiko merupakan sepupu Takashi yang baru pertama kali ke Indonesia.



Lebih lanjut, Ismail menjelaskan JAFF 2018 mengusung tema Disruption. Tema itu diambil oleh penyelenggara setelah melihat perubahan iklim, politik dan teknologi di kawasan Asia dalam satu dekade terakhir.

"Tema itu juga muncul karena sinema Asia yang kita baca bebrapa tahun terakhir," Direktur Festival JAFF 2018 Ifa Ifansyah menambahkan.

Secara tidak langsung, perubahan tersebut membentuk lanskap sosial budaya. Bahkan menggoyang kenyataan yang selama ini diterima, dengan kata lain berhadapan dengan 'disruption' dalam beragam bentuk dan skalanya.

"Kami ingin mengajak para penonton untuk mengikis bias masing-masing dengan cara menonton sinema Asia. Tentunya kami berharap dari kegiatan menonton ini bisa lahir visi-visi baru tentang masyarakat budaya Asia," kata Predisen JAFF 2018 Budi Irawanto dikutip dari siaran pers.

Budi melanjutkan, "Tema 'Disruption' ini bukan perkara menanggapi perubahan. Melainkan soal meretas perubahan itu sendiri."



JAFF 2018 menghadirkan enam program, yaitu Asian Feature, Light of Asia, Asian Perspective, JAFF Indonesian Screen Awards dan Open Air Cinema. Selain itu juga ada program Focus On yang menyorot satu sutradara, kali ini Garin Nugroho yang akan menjadi sorotan.

"Akan ditayangkan film panjang dan film pendek karya Garin Nugroho," kata Ismail.

Total ada 137 film yang tayang di JAFF 2018. Jumlah itu terdiri 69 film panjang dan 68 film pendek. (adp/rea)