Bahaya di Balik Fenomena Candu K-Pop

CNN Indonesia | Minggu, 03/02/2019 17:02 WIB
Ilustrasi para penggemar K-Pop di Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap idola mesti memiliki penggemar. Dan sebagian di antara mereka memiliki rasa cinta yang lebih besar sehingga cenderung fanatik. Begitu pula yang terjadi dengan K-Pop. Namun dari sudut pandang psikologi, kegandrungan para K-Popers ini menimbulkan ketertarikan sekaligus kecemasan.

Hal itu diakui oleh praktisi dan akademisi psikologi Vierra Adella. Dosen Universitas Atma Jaya Jakarta tersebut bahkan menyebut bahwa kegandrungan para K-Popers yang jumlahnya bisa dibilang masif sebagai sebuah "fenomena" dan jadi lahan baru bagi sebagian orang mendulang cuan.

"[Hiburan] Korea ini fenomenanya dipoles sedemikian [rupa] sehingga didukung semua [aspek]: media mendukung, bisnis dukung. terus sosial media enggak berhenti. Mereka [industri hiburan Korea] juga produktif," kata Adella kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, baru-baru ini.


"Ini berbeda dengan idola biasa, macam Katy Perry atau Justin Bieber," lanjutnya. "Kalau secara alaminya, ada masa hidup-mati, naik-turun. Kalau Korea ini bukan hanya mengangkat satu figur. Semua sistem bekerja membuat ini menjadi langgeng,"


"Sehingga masyarakat seperti diciptakan sebagai sebuah ladang bagi mereka, sehingga betah di dalam itu berlama-lama," tambah Adella.

Adella bukan sembarang berkomentar pedas terkait gelombang budaya Korea yang sudah 'menginvasi' Indonesia lebih dari sedekade lalu. Dirinya kerap menemukan berbagai kasus, yang sebagian besar melibatkan anak di bawah umur, keranjingan konten hiburan Korea hingga menimbulkan masalah perkembangan psikologis atau pun dalam kehidupan mereka.

Adella tak menampik bila fenomena fandom atau keranjingan akan idola tersebut telah ada sejak dulu kala, termasuk era The Beatles atau pun Elvis Presley. Namun faktor "kelanggengan" dan bisnis yang kental terasa dalam fenomena ini membuat sebagian ahli kejiwaan, kata Adella, menyamakan K-Pop dengan narkoba.

"Masyarakat jadi nagih. Dibuat 'sakau' kalau tidak melihat," kata Adella. "Kalau sudah seperti itu, minimal pulsa [yang terkorbankan],"

Fans SUJU rela menantikan idola mereka jelang konser di Jakarta, 2015 lalu.Ilustrasi K-Popers: Fans SUJU rela menantikan idola mereka jelang konser di Jakarta, 2015 lalu. (CNN Indonesia/Safir Makki)

CNNIndonesia.com sendiri telah bertemu dengan sejumlah penggemar K-Pop yang memiliki kisah fanatisme yang tak biasa, seperti mulai dari mengejar idola hingga rela menginap satu hotel, mengeluarkan ratusan juta untuk membeli album demi kesempatan dapat tanda tangan, hingga merasa 'tidur bersama idola' hanya karena ada posternya mengarah ke tempat tidur.

Sejumlah aksi fanatisme K-Popers lainnya pun pernah terekam dalam pemberitaan, baik di Indonesia maupun di negara lain, mulai dari rela menunggu berjam-jam untuk menyambut kedatangan idola, hingga menyakiti diri sendiri kala idolanya meninggal dunia.

Menyasar Remaja

Menurut Adella, kelompok remaja memang adalah sasaran dan alasan utama mengapa konten atau pun segala hal tentang Korea, termasuk K-Pop ataupun K-Drama, menjadi langgeng.

Adella menilai bahwa konten hiburan yang dibawa Korea lebih banyak menyebabkan fungsi otak pada remaja yang rentan menjadi pruning alias penurunan fungsi akibat terputusnya neuron karena tidak digunakan.

Pruning sebenarnya terjadi secara alamiah seiring dengan perkembangan otak pada manusia. Namun menurut Adella, ketika seseorang terlalu berlebihan dalam menyukai hiburan yang membuat senang, maka fungsi produktif pada otak bisa terancam.

"[Konten] Korea lebih banyak ke hiburan kan? Hiburan sebenarnya ada porsi yang dibutuhkan oleh manusia. Nah di [hiburan] Korea ini porsi hiburannya melebihi porsi untuk otak produktif," kata Adella.

"Jadi, berpikir waras dengan khayalan, porsinya tidak imbang. Makanya temuan-temuan [kasusnya] yang paling banyak, yang fanatik ini," lanjutnya.


Meski terkesan menakutkan, masih ada hal baik dari kegandrungan akan K-Pop di halaman selanjutnya... (agn/end)
1 dari 2