Konflik Super Bowl Halftime Show, antara Isu Rasial vs Bisnis

CNN Indonesia | Minggu, 03/02/2019 00:17 WIB
Konflik Super Bowl Halftime Show, antara Isu Rasial vs Bisnis Salah satu momen dalam Super Bowl 2018 yang berlangsung di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, 4 Februari 2018. (REUTERS/Chris Wattie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertunjukan bergengsi Super Bowl 2019 Halftime Show yang biasanya dinanti kini menuai kontroversi. Penyelenggara Liga Sepakbola Amerika (NFL) pun kalang kabut meredakan kemarahan penggemar atas isu keadilan sosial dan rasial yang menerpa.

Penyanyi kelas kakap seperti Rihanna, P!nk, dan Cardi B telah menolak untuk mengisi pertunjukkan jeda paruh pertama laga New England Patriots dan Los Angeles yang digelar Minggu (3/2). Hal itu sebagai bentuk solidaritas atas aksi Colin Kaepernick. Kaepernick adalah eks pemain NFL dari tim San Fransisco 49ers, menjadi buah bibir setelah melakukan aksi berlutut kala lagu kebangsaan Amerika Serikat 'The Star-Spangled Banner' berkumandang. Aksi Kaepernick itu adalah bentuk protes pribadinya terkait kebrutalan polisi dan isu rasial dua tahun lalu.


Tahun ini, penyelenggara NFL mengikat kontrak dengan band Maroon 5 untuk mengisi Super Bowl 2019 Halftime Show. Namun, saat kabar band yang digawangi Adam Levine tersebut beredar, muncul petisi yang mengajak agar Maroon 5 menolak tampil di Super Bowl 2019 Halftime Show.


Penggagas petisi penolakan Vic Oyedeji menuliskan imbauan agar para artis dan musisi tidak bekerja sama dengan NFL setidaknya sampai liga mengubah kebijakan dan mendukung pemain. Pemboikotan ,kata Oyedeji, menjadi satu-satunya cara untuk memengaruhi keuntungan penyelenggara.

"Pemilik NFL hanya melihat keuntungan," ujar Oyedeji seperti dikutip dari AFP, Sabtu (2/2).

Konflik Super Bowl Halftime Show, antara Isu Rasial vs BisnisMaroon 5 akan mengisi panggung Super Bowl 2019 Halftime Show. (REUTERS/Danny Moloshok)

Setelah Maroon 5 menerima tawaran NFL, dua rapper kulit hitam yakni Travis Scott dan Big Boi juga diberitakan akan mengisi acara yang sama.

Namun, hal itu dianggap sebagai cara NFL  untuk meredakan kemarahan, tidak hanya terkait kasus Kaepernick tetapi juga isu rasial mengingat selama ini pengisi acara tersebut adalah artis atau musisi kulit putih yang berasal dari California. Padahal, acara tersebut diselenggarakan di selatan kota Atlanta yang menjadi salah satu pusat inovasi industri musik hip hop.

Selain itu, untuk meredakan kemarahan penggemar, penyelenggara acara juga meminta legenda musik Atlanta, Motown Gladys Knight, untuk menyanyikan lagu kebangsaan AS 'Star Spangled Banner' sebelum pertandingan dimulai.

Maroon 5 dikabarkan setuju untuk mengisi setelah setelah penyelenggara dan labelnya sepakat untuk memberikan donasi untuk membantu organisasi untuk anak-anak.

"Ini bagaimana bisnis besar menangani isu rasial. Mereka melemparkan uang untuk menyelesaikan masalah," ujar Oyadeji.

Oyadeji juga mempertanyakan keputusan Big Boi yang merupakan bagian dari grup hiphop legendaris asal Atlanta, Outkast.

"Saya bisa melihat di satu sisi ia melakukan ini untuk kotanya. Namun banyak orang yang menyesalkan keputusan tersebut karena mereka tidak ingin menjadi pemain kedua dari artis kulit putih di Atlanta, kota orang kulit hitam," ujarnya.


Jay-Z, rapper yang turut mendukung aksi Kaepernick lewat penolakan permintaan manggung di Super Bowl 2017 dan merilis lagu khusus atas penolakannya tersebut untuk penyelenggaranya pada 2018 silam itu pun disebutkan telah mencoba membujuk Scott agar membatalkan kerja sama dengan NFL.

Dan, bukan hanya Jay-Z, sejumlah rapper seperti Meek Mill dan Common pun menyuarakan ketidaksukaan mengetahui Scott bakal tetap tampil.

Konflik Super Bowl Halftime Show, antara Isu Rasial vs BisnisJay-Z disebutkan sempat membujuk Travis Scott secara langsung untuk membatalkan kerja sama dengan NFL. (AFP PHOTO / ANGELA WEISS)

Berdasarkan pemberitaan Billboard, serupa Maroon 5, Scoot dikabarkan baru setuju untuk bekerja sama setelah penyelenggara sepakat untuk menyalurkan donasi sebesar US$500 ribu untuk organisasi yang bergerak di bidang keadilan sosial.

Aktivis hak-hak warga sipil Al Sharpton juga menegur artis yang tetap bekerja sama dengan NFL. Sharpton mengatakan 'Anda tidak bisa membantu orang memasarkan sesuatu kemudian berbalik badan dan mengatakan Anda setuju dengan apa yang diprotes oleh orang-orang.'

Sementara itu, NFL tidak memberikan tanggapan atas permintaan AFP untuk memberikan komentar.

Ahli pemasaran musik dari Universitas Saint Joseph Philadelphia David Allan menilai meski diboikot, Super Bowl akan bertahap menghadapi kontroversi.

"Akan sangat sulit untuk memboikot Super Bowl -- Ini merupakan acara yang besar," ujar Allan.

Menurut Allan, kontroversi ini bisa dilihat sebagai publisitas karena lebih baik mendapatkan publisitas yang buruk dibandingkan tidak ada publisitas sama sekali. Pada akhirnya, penjualan NFL akan melonjak, terlepas penyelenggaraan berlangsung baik atau buruk.

Sejak 2016, reputasi NFL menghadapi tantangan setelah aksi Kaepernick yang menarik perhatian publik pada isu ketidakadilan rasial. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kala itu menjadikan protes dengan cara berlutut yang dilakukan Kaepernick sebagai persoalan yang besar. Bahkan, ia menyebut siapapun yang melakukan sebagai 'anak keparat' (son of a bitch) dan mengatakan mereka harus dipecat.

Setelah Kaepernick tidak lagi bermain di liga sepakbola Amerika itu ia menuding NFL dan pemilik klub telah berkonspirasi untuk tidak mengizinkannya bermain.

(sfr/kid)