Cerita Luntang-lantung Keluarga Cari Jenazah Nike Ardilla

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 13:51 WIB
Kakak Nike Ardilla mengisahkan kepanikan keluarga dan upaya luntang-lantung menemukan jenazah anak bungsu mereka yang kecelakaan subuh 19 Maret 1995. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raden Alan Yudi tak akan pernah bisa melupakan kejadian Minggu subuh 19 Maret 1995. 24 tahun lalu, ia harus kehilangan adiknya tersayang, Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi atau yang dikenal dengan Nike Ardilla.

Saat mendengar kabar Nike kecelakaan, Alan sedang kedatangan teman yang menginap. Beberapa jam sebelumnya Alan hanya mengetahui adiknya itu sedang mengendarai mobil Honda Civic Genio milik Nike sendiri.

Pelantun Seberkas Sinar itu dikabarkan mengalami kecelakaan di Jalan Riau, atau kini Jalan R.E. Martadinata, Bandung. Nike menabrak bak sampah dan pagar sebuah kantor.


Tragisnya, kabar kecelakaan itu tak langsung diketahui keluarga inti. Keluarga baru mengetahui anak bungsu mereka mengalami kecelakaan melalui kabar berantai dari teman yang menginap di rumah Alan.


Sedangkan teman Alan tersebut mendapatkan kabar dari paman yang akrab dipanggil Mang Udi. Dan Mang Udi mendapatkan kabar dari seorang kerabat yang melihat mobil Nike berplat D 27 AK teronggok ringsek di sudut jalan Riau yang sepi nan gelap sekitar pukul 05.00 pagi.

"Saudara kami melihat mobil Nike, tapi dia ragu kalau itu benar Nike. Akhirnya dia memutuskan untuk mengantarkan anaknya sekolah [terlebih dahulu]. Namun ketika balik lagi mobil Nike udah enggak ada," kata Alan, mengenang momen menyesakkan itu kala berbincang dengan CNNIndonesia.com di kediamannya, di Cipamokolan, Bandung, beberapa waktu lalu.

Begitu mendapatkan kabar mengagetkan itu, sang kerabat langsung meluncur ke kantor Polres Bandung Tengah, tempat yang disebut sebagai tujuan evakuasi mobil Nike. Ia pun ke rumah Mang Udi untuk memberikan kabar penyanyi kelahiran 27 Desember 1975 itu kecelakaan.

Saat mendengar kabar berantai bersumber dari Mang Udi itu, pihak keluarga Nike tak langsung mempercayainya. Bagaimana tidak, beberapa jam sebelumnya Nike yang saat itu berusia 19 tahun baru pamit pergi untuk bermalam minggu.

Kakak Nike Ardilla, Raden Alan Yudi mencari jenazah adik bungsunya itu pada 19 Maret 1995.Kakak Nike Ardilla, Raden Alan Yudi mencari jenazah adik bungsunya itu pada 19 Maret 1995. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Pihak keluarga langsung bergerak memeriksa  kabar itu. Mereka dibagi menjadi dua tim. Tim pertama, Alan menggunakan mobil Nike lainnya, Toyota CJ7 putih, ke lokasi kejadian untuk mencari konfirmasi.

Sedangkan tim lainnya yang digawangi ayah Nike, atau kerap disapa Papi, beserta sejumlah anggota keluarga pergi ke tempat lain.

Alan ingat betul ia mondar-mandir panik bukan kepalang sepanjang Jalan Riau jelang matahari terbit untuk melihat tanda bekas kecelakaan. Tapi tak satu pun tanda ia temukan meski sudah tiga kali bolak-balik.

Dengan asumsi sang adik dibawa ke rumah sakit, Alan bergegas memacu Toyota CJ7 ke sejumlah rumah sakit. Ia menyambangi Rumah Sakit Boromeus, Rumah Sakit Advent dan Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin. Namun Nike tak kunjung ia temukan.


"Saat itu kami belum tahu Nike ada di mana dan bagaimana kondisinya, masih misteri. Akhirnya saya telepon ke rumah pakai telepon umum, dan diminta datang ke Polresta. Sampai sana sudah ramai orang," kata Alan.

Begitu tiba di kantor polisi, Alan kaget melihat mobil Nike, Honda Civic Genio berplat D 27 AK, bagian depan sudah ringsek. Ia kemudian ditunjukkan oleh polisi sejumlah barang pribadi dalam tas Nike yang ditemukan di mobil.

Salah satunya, telepon genggam Advanced Mobile Phone Service (AMPS) yang menggunakan frekuensi.

Mengetahui mobil dan barang-barang adiknya berceceran, Alan bertanya kepada polisi keberadaan Nike, hingga beberapa kali. Namun ia justru diminta duduk dan diberi air mineral.

Jawaban polisi atas lokasi keberadaan Nike Ardilla ada di halaman selanjutnya...

[Gambas:Youtube]

Pemakaman Heroik

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2