Cerita Luntang-lantung Keluarga Cari Jenazah Nike Ardilla

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 13:51 WIB
Pemakaman Heroik Nike Ardilla saat masih anak-anak. (Dok. Istimewa)

Pemakaman Heroik

Alan yang panik menanti kepastian kondisi sang adik tak mengerti akan perlakuan polisi. Bahkan Alan menyebut polisi seolah bersikap santai, hingga kemudian ia diberi tahu bahwa Nike berada di Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin.

Alan tak langsung percaya karena ia tak menemukan Nike di sana. Namun ia tak kuasa mendengar keterangan anggota polisi selanjutnya, bahwa Nike bukan berada di ruangan rawat inap ataupun UGD, melainkan di ruang jenazah.

"Pas pamit mau ke rumah sakit, kaki saya lemas enggak bisa berdiri. Saya duduk lagi dan minum sebanyak tiga kali, setelah itu baru bisa berdiri. Saat menuju ke rumah sakit, ketemu dengan rombongan Papi, jadi bareng kesana," kata Alan.



Suasana Bandung dekade '90-an yang sejuk terasa sesak di hari libur itu. Suasana semakin sesak saat ruang jenazah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dipadati banyak orang kala Alan dan keluarga tiba.

Setidaknya, ada 150 orang dari penggemar dan kerabat Nike sudah berkumpul menyambut keluarga yang dirundung duka itu.

Alan tak menyangka bahwa sudah banyak pihak mengetahui kabar kepergian Nike bahkan sebelum ia dan keluarga. Sebagian dari mereka mengaku mengetahui kabar kecelakaan itu dari televisi dan radio.

Sisa mobil yang digunakan Nike Ardilla dalam tragedi kecelakaan 19 Maret 1995.Sisa mobil yang digunakan Nike Ardilla dalam tragedi kecelakaan 19 Maret 1995. 9CNN Indonesia/M Andika Putra)

Alan dan keluarga pun masuk ke ruang jenazah, sesak dan lemas kala melihat kondisi si bungsu yang kerap dipanggil Neneng atau Amoy itu telah tiada. Mereka pun menerima laporan autopsi dari pihak rumah sakit.

Tak ingin lama membiarkan Nike terbaring di ruang jenazah, Alan dan keluarga memutuskan langsung membawanya ke rumah.

Sekitar pukul 10.30 WIB, mereka tiba di rumah dan sudah disambut ratusan orang yang menunggu. Sama seperti keluarga, mereka tak percaya bahwa Nike yang cantik, baik, bersuara emas, dan sedang di puncak karier itu telah tiada.

Persiapan langsung diadakan. Keluarga pun memandikan dan mengafankan Nike Ardilla yang diteruskan dengan salat jenazah yang diikuti oleh para kerabat juga penggemar.


"Selama perjalanan ke rumah, Papi bilang mau makamkan [Nike Ardilla] di Ciamis. Karena Papi mau menghabiskan masa pensiun di sana. Kami berangkat ke Ciamis pukul 14:00 WIB dikawal polisi, pemakaman selesai pukul 17:30," kata Alan menjelaskan.

"Saya enggak menyangka pengantaran jenazah begitu heroik. Mobil sudah banyak banget, ada beberapa mobil yang saya pukul karena menghalangi jalan, padahal itu kerabat Nike," katanya mengenang.

Data Hilang

Kini tepat sudah 24 tahun kepergian sang adik, tapi Alan masih tetap mendengar beragam kabar membahas soal tragedi memilukan tersebut. Selain karena penghormatan setiap tahunnya, beragam isu diakui Alan menyelubungi kecelakaan Nike Ardilla.

Salah satu kabar santer didengar pria yang kini berusia 49 tahun tersebut adalah dugaan Nike mengalami kecelakaan karena mabuk akibat menegak minuman beralkohol.

Ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com tentang isu ini, Alan justru menilai hal tersebut wajar terjadi. Ia mengetahui Nike mengalami kecelakaan usai pulang dari dua diskotek, Studio Is di kawasan Cihampelas, dan Pollo di BRI Tower.

Sejumlah isu tetap beredar menyelimuti kepergian Nike Ardilla, 24 tahun lalu.Sejumlah isu tetap beredar menyelimuti kepergian Nike Ardilla, 24 tahun lalu. (Dok. Istimewa)


Menurut Alan, Nike datang ke Pollo untuk menghadiri acara pesta ulang tahun sebuah tabloid. Alan menyebut kondisi Nike kala itu sebenarnya sedang lelah karena sehari sebelumnya baru rampung syuting.

Namun Nike Ardilla memaksakan diri untuk hadir karena merasa namanya ikut dibesarkan oleh tabloid tersebut. Atas kondisi tersebut, Alan menilai Nike mengalami kecelakaan karena kelelahan. Apalagi, hal itu dikuatkan oleh hasil autopsi.

"Begitu lihat hasil autopsi, clear [dari alkohol]. Di bagian atas perut ada memar, karena tabrakan kayaknya. Yang fatal di belakang kuping, sobek, kena gantungan seat belt yang terbuat dari besi," kata Alan.

"Pada dasarnya kami kehilangan data, saat Nike meninggal itu kan banyak orang di rumah. Jadi kami enggak begitu fokus sama berkas autopsi. Kami mau klarifikasi ke orang bagaimana? Data hilang." lanjutnya.

[Gambas:Youtube] (adp/end)
2 dari 2