Label Buka Suara soal Kisruh Aset Musik Taylor Swift

Tim, CNN Indonesia | Senin, 01/07/2019 12:38 WIB
Label Buka Suara soal Kisruh Aset Musik Taylor Swift Big Machine Records menegaskan bahwa yang terjadi sebenarnya tak seperti yang diungkapkan oleh Taylor Swift. (Kevin Winter/Getty Images for DIRECTV/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan pemilik Big Machine Records, Scott Borchetta buka suara atas keluh kesah Taylor Swift soal kepemilikan label yang berpindah ke tangan Scooter Braun, termasuk aset musik Swift. Borchetta memaparkan kronologi terkait penjualan label lewat sebuah pernyataan yang diunggah di laman situs resmi Big Machine Records.

Dalam keterangan, ia mengungkapkan bahwa ayah Taylor, Scott Swift merupakan salah satu pemegang saham label. Borchetta pun mengaku sebelum menjual label telah mengingatkan dan mengundang semua pemegang saham resmi untuk bertemu, tepatnya pada 25 Juni lalu.

"Pada panggilan itu, para pemegang saham diberitahukan tentang kesepakatan yang tertunda dengan Ithaca Holdings dan memiliki waktu tiga hari untuk membahas semua rincian transaksi yang diusulkan. Kami kemudian melakukan panggilan terakhir pada hari Jumat, 28 Juni di mana transaksi selesai dengan suara mayoritas dan tiga dari lima pemegang saham memberikan suara 'ya' dengan 92 persen suara pemegang saham," papar Borchetta.


Saat itu, ia juga mengaku telah menghubungi Taylor secara pribadi via pesan singkat pada Sabtu (29/6) malam, sebelum kabar pindah tangan diumumkan pada Minggu (30/6) pagi.


"Saya kira mungkin saja, entah bagaimana ayahnya Scott, pengacara 13 Management Jay Schaudies (yang mewakili Scott Swift pada panggilan pemegang saham) atau eksekutif 13 Management dan pemegang saham Big Machine LLC, Frank Bell (yang ada di panggilan pemegang saham) tidak mengatakan apa pun pada Taylor selama lima hari sebelumnya. Saya kira mungkin saja dia [Taylor] tidak melihat teks saya," lanjut Borchetta.

"Tapi, saya benar-benar ragu bahwa dia baru tahu tentang kabar [penjualan label] itu bersama semua orang lain," tambahnya.

Selain itu, Borchetta juga menyatakan telah melampirkan beberapa poin kesepakatan yang sangat penting tentang apa yang menjadi bagian dari penawaran resmi terakhir dari pihak label kepada Taylor Swift untuk tetap tinggal di Big Machine Records. Tim manajeman Swift dan pengacaranya Don Passman disebut telah memeriksa dokumen itu dengan terperinci dan melaporkan persyaratan kepada Taylor dengan sangat rinci juga.

"Taylor dan saya kemudian berbicara melalui kesepakatan bersama. Seperti yang Anda baca, 100 persen dari semua aset Taylor Swift harus ditransfer kepadanya segera setelah menandatangani perjanjian baru. Kami bekerja bersama dalam jenis kesepakatan baru untuk dunia streaming yang tidak harus terikat pada 'album', tetapi lebih dari jangka waktu yang lama," tulis Borchetta.

Lampiran perjanjian dari Big Machine Records. (dok. Big Machine Records)

Selepas itu, Borchetta mengungkapkan bahwa dia dan Taylor masih berhubungan baik saat pelantun Shake It Off itu hendak bernegosiasi dengan label musik lain. Dia mengatakan tak pernah menghalangi dan mendoakan yang terbaik untuk Taylor.

"Pagi hari ketika pengumuman kerjasama Taylor dan Universal Music Group dibuat, dia mengirim pesan singkat kepada saya sesaat untuk memberi tahu bahwa pengumuman itu akan tersiar dalam beberapa menit. Ketika kami sama-sama mengumumkannya di media sosial, kami saling menghormati dan memberi semangat satu sama lain," ungkapnya sembari mengatakan bahwa Taylor yang memilih pergi dan meninggalkan aset musiknya.

"Taylor memiliki setiap kesempatan di dunia untuk memiliki tidak hanya rekaman masternya, tetapi setiap video, foto, semua yang berhubungan dengan kariernya. Dia memilih untuk pergi."

Tidak hanya berbicara soal kronologi masalah ini, Borchetta juga membantah terkait pengakuan Taylor yang mengaku menangis setiap nama Scooter Braun disebut.

"Tentu saja saya tidak mengalaminya [melihat Taylor menangis]. Namun soal apakah saya tahu tentang beberapa masalah antara Taylor dan Justin Bieber sebelumnya? Ya."


Borchetta pun membela rekan kerjanya Braun dengan mengatakan bahwa Taylor tahu bahwa dirinya punya kedekatan khusus dengan Braun. Dia mengatakan bahwa Braun adalah sumber informasi yang sangat baik untuk rilis album mendatang, termasuk soal tur, dan lain-lain. Menurut Borchetta, "Dan saya akan menghubunginya untuk mendapatkan informasi atas nama kami [Borchetta dan Swift]."

Selain itu, Borchetta mengungkapkan bahwa dirinya telah beberapa kali mengajak Taylor untuk berdiskusi langsung bersama dia dan Braun, namun kerap ditolak. Hingga akhirnya, Taylor membawa kabar pada 19 November 2018 bahwa dia akan menandatangani kontrak dengan label musik Universal. Borchetta turut menyertakan isi pesan dan percakapannya dengan Taylor di dalam pernyataan itu.

Sebelumnya, Taylor menuliskan keluh kesah atas aset karya-karya miliknya yang dipegang label Big Machine Records. Ia mengungkapkan bahwa sejak lama dirinya ingin membeli dan memegang hak secara penuh atas karya-karya itu.

Namun ia mengaku dipersulit oleh pemilik label yang justru menjualnya ke orang lain yakni manajer Justin Bieber, Scotter Braun, orang yang dianggap Taylor ikut menjatuhkannya saat terjadi drama dengan Kim Kardashian dan Kanye West pada 2016 silam.


"Beberapa fakta 'menyenangkan' tentang berita hari ini: saya mengetahui tentang pembelian Scooter Braun atas master [musik] saya saat diumumkan ke dunia. Yang bisa saya pikirkan hanyalah intimidasi yang tidak berkesudahan dan manipulatif yang saya terima selama bertahun-tahun," tulis Swift dalam unggahan di akun Tumblr miliknya.

Dia pun merujuk kejadian ketika Kim Kardashian membocorkan panggilan telepon yang direkam secara ilegal, di mana Braun lantas disebut melibatkan dua orang kliennya untuk menjatuhkan Swift di media sosial. Di tulisan Tumblr tersebut, Swift juga menampilkan ulang unggahan Bieber. Pada 2016, Bieber pernah mengunggah foto tangkapan layar yang menunjukkan dirinya sedang melakukan panggilan video bersama Braun dan Kanye West. Di foto itu, Bieber menambahkan tulisan, "Taylor swift what up."

"Sekarang Scooter telah menjauhkan saya dari pekerjaan sepanjang hidup saya, bahwa saya tidak diberi kesempatan untuk membeli (aset musik). Pada dasarnya, warisan musik saya akan berada di tangan seseorang yang mencoba menghancurkannya," tambah Swift

Taylor mengawali karier dengan berada di bawah naungan label Big Machine Records. Dari kerja sama itu, enam album dirilis. Di antaranya adalah debut Taylor Swift, Fearless, Speak Now, Red, 1989, dan Reputation.

Pada 19 November 2018, Taylor mengumumkan kepindahannya ke label Republic Records dan Universal Music Group lewat sebuah unggahan di media sosial.

[Gambas:Instagram] (agn/rea)