Penjelasan Kisruh Aset Taylor Swift, Scooter Braun, dan Label

Tim, CNN Indonesia | Senin, 01/07/2019 17:39 WIB
Penjelasan Kisruh Aset Taylor Swift, Scooter Braun, dan Label Taylor Swift terlibat masalah dengan pihak label terkait kepemilikan aset musik dari enam album pertamanya. (REUTERS/Danny Moloshok)
Jakarta, CNN Indonesia -- Drama baru berputar di kehidupan Taylor Swift. Ia mengaku merasa sedih dan dicurangi menyusul kabar Scooter Braun telah mengakuisisi label Big Machine milik Scott Borchetta, yang mencakup hak atas seluruh albumnya sejak awal karier hingga Reputation (2017).

Swift bahkan menyebut hal ini sebagai skenario terburuk dalam hidupnya.

"Selama bertahun-tahun saya bertanya, memohon kesempatan untuk memiliki hasil kerja saya. Alih-alih, saya diberi kesempatan untuk menandatangani (memperbarui) kontrak dengan Big Machine Records dan 'mendapatkan' satu (album lama) untuk setiap album baru yang saya masukkan," tulis Swift.


"Saya keluar karena saya tahu begitu saya menandatangani kontrak itu, Scott Borchetta akan menjual label, dengan demikian menjual saya dan masa depan saya. Saya harus membuat pilihan luar biasa berat untuk meninggalkan masa lalu saya," tambahnya.


Tak lama setelah Swift mengeluarkan pernyataan itu, banyak spekulasi bermunculan termasuk alasan Borchetta, yang sejak lama mengklaim bahwa ia menemukan dan membantu mengembangkan talenta Swift menjadi superstar global. Kini, permasalahan aset musik menempatkan dirinya di posisi sulit dengan Swift yang diakuinya dicintainya. 

Di saat yang sama, pertanyaan juga muncul soal alasan Braun yang telah membangun reputasi sebagai orang baik namun membiarkan kredibilitasnya dibongkar.

Berikut sejumlah penjelasan terkait kisruh antara Taylor Swift, Scott Borchetta, dan Scooter Braun, berdasarkan pernyataan sejumlah sumber yang dekat dengan ketiga orang itu kepada Variety.

Posisi Swift saat Penjualan Label

Lewat pernyataannya di situs Big Machine, Borchetta mengatakan telah memberitahu Swift beberapa waktu sebelum pengumuman akuisisi ini via pesan singkat. Hanya saja, sumber terdekat Swift mengungkapkan bahwa penyanyi 29 tahun itu berkata jika ia akan menyebut mengetahui kabar ini dari laporan media massa, persis seperti yang kemudian dilakukannya. 


Sementara, soal pernyataan Borchetta yang memberitahu bahwa ayah Swift merupakan salah satu pemegang saham dan telah mendapatkan informasi soal ini juga dibantah. Menurut sumber, ayah Swift memiliki saham minoritas di Big Machine dan sengaja tidak datang dalam rapat dewan yang diadakan pada 25 Juni lalu.

Sementara, menurut pihak Swift ayahnya tidak di berada dalam deretan dewan direksi, bahkan belum pernah bergabung.

"Pada 25 Juni, ada panggilan telepon pemegang saham yang tidak diikuti Scott Swift, karena NDA yang sangat ketat yang mengikat semua pemegang saham dan melarang diskusi apa pun sama sekali tanpa risiko penalti berat. Ayahnya tidak bergabung dengan panggilan itu karena dia tidak ingin diharuskan menahan informasi apa pun dari putrinya sendiri," ujar sumber itu.

Di sisi lain, perihal kesepakatan ini disebut tidak dipaparkan secara spesifik hingga diumumkan pada Minggu (30/6) kemarin lewat media massa. Ada pula laporan yang mengungkapkan bahwa Braun dan Borchetta telah terlihat bersama beberapa minggu belakangan dan kesepakatan ini sudah dikerjakan sejak beberapa tahun lalu, tanpa pengetahuan Swift.


Alasan Swift Tak Punya Kendali atas Aset Musiknya

Menurut ketentuan kesepakatan Swift dengan Big Machine pada 2005, label memiliki hak atas rekaman miliknya, sebagaimana standar untuk sebagian besar persetujuan label dan artis. Selama bertahun-tahun, Swift menyatakan telah berusaha untuk mendapatkan kendali atas master rekamannya dan mengusulkan untuk menjadikan kepemilikan itu sebagai bagian dari kesepakatan baru. Namun pada akhirnya mereka tidak menemukan titik temu.

Swift mengklaim dalam pernyataan di media sosial bahwa Big Machine menawarkan kesepakatan di mana ia akan mendapatkan hak atas satu album lama untuk setiap album baru yang ia kirimkan ke label. Sumber yang mengetahui syarat-syarat kesepakatan Big Machine-Ithaca memberi tahu Variety bahwa selama proses setidaknya ada dua penawaran penjualan master pada Swift sendiri, yang mana keduanya ditolak.

Sementara pihak Swift mengatakan tidak pernah terjadi negosiasi dengan itikad baik.

Alasan Scooter Braun Ingin Kuasai Big Machine

Menurut Variety, Big Machine memiliki beberapa aset besar termasuk lagu-lagu hit milik Florida Georgia Line dan Lady Antebellum, di samping enam album Swift. Seorang eksekutif di industri musik berpendapat bahwa, "Jika kau menguasai konten, maka kau menang."

Braun sendiri diketahui sudah memiliki label Schoolboy Records, perusahaan yang juga bekerja sama dengan Universal Music Group, tetapi ia disebut tak punya infrastruktur atau seorang operator (Borchetta). Sehingga, hal itulah yang kemudian dia kejar.

"Tidak seorang pun di musik country bisa melakukan apa yang dia [Borchetta] lakukan dan membangun label dari awal," ujar petinggi industri musik tersebut, mengutarakan pandangannya.


Arah Drama Berlanjut

Dalam kekisruhkan ini, Variety menyatakan bahwa Swift merupakan penyanyi dan penulis lagu yang mengeluarkan darah, keringat, dan air mata untuk menciptakan segudang hitnya. Tak ada salahnya bila kemudian Swift menyuarakan apa yang seharusnya menjadi haknya.

Hal tersebut juga ia tulis dalam unggahannya di Tumblr bahwa, "Saya harus membuat pilihan berat untuk meninggalkan masa lalu saya. Musik yang saya tulis di lantai kamar tidur dan video yang saya impikan dan bayarkan dari uang yang saya peroleh dari bermain di bar, lalu kelab malam, arena, hingga stadion."

Di sisi lain, banyak pendukung Braun merasa bahwa ia bisa tampil seperti pahlawan jika mau mengambil jalan dan menemukan cara untuk membuat kesepakatan hingga Swift mendapatkan aset-aset rekaman itu, dengan cara yang adil tetapi juga menguntungkan baginya.

[Gambas:Video CNN] (agn/rea)