Film 'Tak Ada yang Gila di Kota Ini' Tayang di Festival Busan

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 05/09/2019 05:32 WIB
Film 'Tak Ada yang Gila di Kota Ini' Tayang di Festival Busan Film 'Tak Ada yang Gila di Kota Ini' akan tayang untuk pertama kalinya di Busen International Film Festival pada Oktober mendatang. (Foto: dok. Rekata Studio)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film pendek Tak Ada yang Gila di Kota Ini akan serta berkompetisi di program Wide Angle: Asian Short Film Competition di Busan International Film Festival (BIFF) yang digelar pada 3-12 Oktober mendatang di Busan, Korea Selatan. Film hasil arahan Wregas Bhanuteja ini juga akan tayang perdana di sana.

Tak Ada yang Gila di Kota Ini yang dibintangi oleh Oka Antara menjadi salah satu dari 300 film asal 70 negara yang terpilih untuk diputar di 30 bioskop di Busan. Diprediksi, BIFF bakal dihadiri sekitar 200 ribu penonton, dan 10 ribu stakeholder perfilman dunia.

Film pendek tersebut merupakan karya adaptasi dari cerita pendek tulisan Eka Kurniawan yang diterbitkan dalam buku Cinta Tak Ada Mati (2018). Tak Ada yang Gila di Kota Ini bercerita tentang Marwan (Oka Antara) yang mendapat perintah untuk 'membuang' Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ke hutan. Beralasan karena kehadiran orang-orang itu merusak wajah kota, ternyata Marwan punya rencana rahasia.


Oka Antara mengungkapkan, dirinya mengambil kesempatan berakting dalam Tak Ada yang Gila di Kota Ini karena keunikan skenario dan arahan sutradara Wregas Bhanuteja.

"Skenarionya sangat unik dan jarang saya temui, terutama dalam film feature. Jadi cerita ini hanya bisa dicapai melalui film pendek. Dan ketika tahu director-nya Wregas, karena saya pernah menonton film Prenjak, jadi saya merasa delivery-nya pasti akan sesuai," kata Oka dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com.

Wregas sendiri sudah jatuh cinta pada akting Oka ketika menonton film Sang Penari. Ia menilai wajah dan sorot mata Oka dalam film itu adalah yang dibutuhkannya untuk Tak Ada yang Gila di Kota Ini.

"Di Jawa, ada istilah mendhem (artinya memendam). Itulah yang saya lihat dari wajah dan sorot mata Oka dalam film tersebut. Nuansa mendhem ini saya butuhkan untuk memenuhi karakter Marwan yang memendam dan menyembunyikan kompleksitasnya di belakang kepalanya saja. Ia tidak menunjukkannya di depan orang lain karena berbagai kepentingan yang ada," ujar sang sutradara.

Wregas mengaku faktor emosi menggerakkannya untuk mewujudkan Tak Ada yang Gila di Kota Ini ke layar lebar. "Saat membacanya [cerpen], saya merasakan emosi kemarahan yang sama terhadap suatu hal, yakni kuasa," kata sutradara yang pernah meraih Leica Cine Discovery Prize, Best Short Film di Cannes Film Festival 2016 lewat film Prenjak tersebut.

Ia melanjutkan, "Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa, bahkan kuasa akan dirinya."

Tak Ada yang Gila di Kota Ini berdurasi 20 menit, didukung pula oleh Sekar Sari, Pritt Timothy, Jamaluddin Latif, serta Kedung Darma Romansha. Yogyakarta dipilih sebagai lokasi syuting, untuk menyesuaikan dengan jalan cerita.

[Gambas:Video CNN] (rea)