Alasan Jebolan Ajang Pencarian Bakat Tak Kunjung Tenar

CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 18:23 WIB
Alasan Jebolan Ajang Pencarian Bakat Tak Kunjung Tenar Tak sedikit jebolan ajang pencarian bakat banting setir di tengah perjalanan jadi musisi, diduga karena banyak 'lubang' di jalan menjalani karier. (Istockphoto/ Jgroup)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ajang pencarian bakat meramaikan acara hiburan Indonesia sejak 1962 melalui Bintang Radio dan Televisi di TVRI.

Acara serupa pun makin berkembang dari tahun ke tahun dan menghasilkan sejumlah musisi ternama seperti Judika, Kunto Aji dan Virzha sebagai jebolan Indonesian Idol. Begitu pula dengan Billy Simpson The Voice serta Tika Tiwi (T2) Akademi Fantasi Indonesia (AFI).

Namun, tak sedikit jebolan ajang pencarian bakat yang banting setir di tengah perjalanan menjadi musisi. Bojes dan Veri AFI contohnya yang kini lebih sibuk berusaha makanan serta kafe.


Belum lagi beberapa yang tersandung permasalahan hukum karena dugaan penyalahgunaan narkotika seperti Edo dan Aris Idol.

Fenomena sinar jebolan ajang pencarian bakat yang meredup diduga karena banyak "lubang" di jalan dalam mempertahankan status musisi.

Pengamat sekaligus akademisi musik Yuka Narendra menduga hal tersebut terjadi akibat tak ada kontinuitas dalam manajemen karier para kontestan.

Yuka menegaskan seorang musisi memerlukan banyak hal untuk tetap bertahan di industri musik, termasuk di Indonesia. Hal-hal tersebut yang dinilai masih belum optimal diberikan kepada para kontestan termasuk pemenang.

Ia mencontohkan ragam acara serupa seperti festival band pada '80-an yang lebih banyak memberikan hadiah berupa uang dibandingkan kontrak dengan label rekaman.

'Jalan Berlubang' Jebolan Ajang Pencarian BakatBeberapa jebolan ajang pencarian bakat tersandung permasalahan hukum karena dugaan penyalahgunaan narkotika seperti Edo dan Aris Idol. (Screenshot via instagram (@aris_officiall))

"Mungkin enggak full seperti setelah lulus ke mana. Mungkin setelah itu enggak ada yang mengurusi karier mereka, mikirin perkembangan karier, mungkin juga enggak punya manajer, booking agent. Kan infrastruktur dalam ekosistem musik bukan penyanyinya saja," kata Yuka kepada CNNIndonesia.com.

Tak hanya itu, Yuka turut menilai keberadaan sejumlah ajang pencari bakat tak terlalu berpengaruh terhadap industri musik Indonesia.

"Kalau menurut saya pribadi memang ada musisi yang datang dari situ. Tapi bukan berarti enggak ada acara itu musik Indonesia enggak jalan," kata Yuka.

"Bukan berarti enggak perlu ada [ajang pencarian bakat] juga. Tapi bagaimana caranya yang semua ada ini dioptimalkan jadi jejaring, ekosistem yang besar," Yuka menegaskan.

Secara terpisah, rumah produksi Fremantle Media angkat bicara terkait penanganan para kontestan ajang pencarian bakat. Di Indonesia, Fremantle menangani beberapa acara, salah satunya adalah Indonesian Idol.

"Jadi untuk juara, mendapatkan kontrak recording single atau album dari recording company ternama," ucap Co-Managing Director Fremantle Media kepada CNNIndonesia.com.

Tak hanya itu, mereka juga menegaskan tetap bertanggung jawab pada tiap kontestan melalui kerja sama dengan grup stasiun televisi swasta.

"Untuk seluruh kontestan yang masuk 15 besar akan di-manage talent agency besar dari grup MNC," tutur Fremantle Media. (chri/end)