REVIEW KONSER

Merasakan 'Roller Coaster' Hindia yang Membosankan

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 07:07 WIB
Merasakan 'Roller Coaster' Hindia yang Membosankan Satu pekan setelah perilisan album perdana 'Menari Dalam Bayangan', Hindia menggelar konser bertajuk Perayaan Bayangan pada Rabu (5/12) malam. (Dok. Belief Images/Davian Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisa dibilang Hindia alias Baskara Putra adalah solois yang sangat cepat dikenal. Selain karena dikenal lebih dulu lewat band .Feast, mungkin karya solonya memang bagus sehingga menarik perhatian.

Kurang lebih satu pekan setelah perilisan album perdana bertajuk Menari Dengan Bayangan, Hindia menggelar konser bertajuk Perayaan Bayangan pada Rabu (5/12) malam. Ia percaya diri untuk langsung menggelar konser.

Melalui akun Instagram @wordfangs, Hindia memberikan kisi-kisi konser yang diadakan di Studio Palem, Kemang, Jakarta Selatan. Ia ingin lagunya yang biasa digunakan sebagai pelepas emosi berfungsi dengan baik saat konser.


Penjelasan itu bukan sekadar omong kosong karena Perayaan Bayangan memang menggugah emosi. Dari awal sampai akhir konser, pengunjung diajak menyelami pengalaman depresi seseorang bernama Denisa Dhaniswara.

Pengalaman depresi dikisahkan lewat empat babak, yaitu Babak I: Mati Sendiri-Sendiri, Babak II: Bertahan Hidup, Babak III: Jangkar dan Babak IV: Kelahiran Kedua. Pada setiap babak ada suara Denisa yang mengisahkan pengalamannya menghadapi depresi.

Pada setiap babak, Hindia membawakan lagu yang sesuai tajuk babak tersebut. Misalnya pada babak pertama, ia membawakan lagu Evakuasi, Untuk Apa / Untuk Apa, dan Secukupnya tanpa jeda.

Penampilan Hindia sangat menarik ketika membawakan lagu Evakuasi karena tertutup tirai putih sehingga hanya menampilkan bayangan. Sesuai dengan tajuk album Hindia, Menari Dengan Bayangan.

Sayang tirai itu hanya tertutup saat satu lagu dibawakan, rasanya akan lebih menarik bila tirai ditutup lebih lama, setidaknya selama satu babak. Namun agaknya Hindia tidak berani melakukan itu karena berpotensi diprotes pengunjung.

Terlepas dari tirai, bila mendengarkan lirik tiga lagu tersebut dan dikombinasi dengan cerita Denisa, akan bisa memunculkan rasa empati dan sedih. Memang belum tentu semua pengunjung merasakan, tetapi mereka yang benar-benar memahami lirik lagu dan kisah Denisa pasti akan 'kena'.
Merasakan 'Roller Coaster' Hindia yang MembosankanKurang lebih satu pekan setelah perilisan album perdana bertajuk Menari Dalam Bayangan, Hindia menggelar konser bertajuk Perayaan Bayangan pada Rabu (5/12) malam. (Dok. Belief Images/Davian Akbar)

Emosi seketika berubah pada babak kedua yang bertajuk Bertahan Hidup. Hindia membawakan lagu-lagu yang bisa dibilang berisikan lirik semangat hidup, seperti Jam Makan Siang (feat. Matter Mos), Besok Mungkin Kita Sampai, dan Dehidrasi.

Menghadiri konser Perayaan Bayangan seperti naik wahana roller coaster yang membuat emosi naik turun. Konser yang sangat konseptual.

Terlebih kualitas suara konser Perayaan Bayangan sangat baik, vokal Hindia dan semua alat musik terdengar detail tanpa saling menutupi. Hal itu tidak lepas dari Studio Palem yang kualitas akustiknya cukup bagus.

Penampilan apik bukan hanya pada tiga lagu tersebut. Pada babak dua ini, Petra Sihombing yang berperan sebagai pemain tambahan, juga membawakan lagu miliknya yang bertajuk Cerita Kita Milik Semua.

Saya sempat bingung saat itu, rasanya kurang tepat bila ada lagu milik musisi lain dalam konser suatu musisi. Namun saya coba menganalisis, mungkin lagu itu dibawakan karena sesuai tema, atau bisa juga sekadar gimik. Tak apalah, lagipula hanya satu lagu.

Seiring berjalannya konser, pandangan saya akan konser Hindia yang konseptual nan menggugah emosi buyar dalam babak bertajuk Jangkar. Pada babak ini, banyak musisi membawakan lagunya sendiri, bukan milik Hindia.

Sejumlah musisi itu adalah Nadin Amizah membawakan 'Sorai'. Ia juga membawakan lagu milik Matter Halo, 'Teralih' berduet dengan vokalis grup itu, Ibnu Dian. Lalu ada vokalis sekaligus gitaris The Adams, Saleh Husein yang membawakan Hanya Kau. Kemudian ada Rayhan Noor yang menampilkan I'll Be Around.

Entah apa alasan Hindia melakukan hal itu, yang pasti membuat konser ini jadi kurang fokus pada karya-karya Hindia dalam album Menari Dengan Bayangan.

Bila alasan mengajak musisi tersebut agar sesuai dengan tema babak ketiga, agaknya kurang tepat. Lagu-lagu Hindia sejatinya sudah sesuai dengan tema tanpa ada musisi lain ikut 'nimbrung'.

Kemudian bila alasan lain mengajak musisi lain membawakan karyanya sendiri sekadar gimik, alasan ini jelas amatlah tidak perlu. Gimik dalam pertunjukan hiburan jadi hal yang menarik, tapi bila kebanyakan akan membuat bosan.

Roller coaster konser Hindia yang tadinya menyenangkan dan membuat emosi naik turun kemudian berganti membosankan.

Merasakan 'Roller Coaster' Hindia yang MembosankanRoller coaster konser Hindia yang tadinya menyenangkan dan membuat emosi naik turun kemudian berganti membosankan. (Dok. Belief Images/Davian Akbar)
Banyak penampilan dari musisi lain membuat durasi konser semakin panjang sehingga mengganggu menghayati pengalaman depresi Denisa. Konser ini akan lebih baik bila Perayaan Bayangan dibuat ringkas dan padat.

Ragam gimik di babak ketiga membuat firasat akan lebih banyak lagi di fase selanjutnya. Firasat itu pun jadi kenyataan.

Pada babak keempat, muncul Sal Priadi membawakan Kultusan. Kemudian Kunto Aji datang dan duet bersama Iga Massardi membawakan lagu milik Barasuara, Mengunci Ingatan. Kunto pun melanjutkan dengan menampilkan lagunya sendiri, Rehat.

Selain itu Hindia juga membawakan Tidak Ada Salju di Sini Pt.1 dan Tidak Ada Salju di Sini Pt.4. Lagu dari EP Tidak Ada Salju di Sini yang ia kerjakan bersama Petra, Rubina, Enrico Octaviano, dan Krautmilk.

Penutupan konser Perayaan Bayangan juga tidak mengejutkan dan spesial karena serupa dengan Here comes The Sun, acara musik yang digelar oleh label Sun Eater, label yang menaungi Hindia. Konser ini ditutup dengan lagu Evaluasi bertulisan "Thank yourself for saving you" di LED.

Kekurangan lain dalam konser ini adalah kurang pengingat akan bahaya depresi yang cukup. Hal ini penting ketika bersinggungan dengan depresi seperti yang dialami Denisa.

Pengingat akan bahaya depresi hanya diberikan lewat tulisan "trigger warning" di awal konser, sementara 'paparan' depresi diberikan hampir di tiap babak dan tanpa imbauan secara aktif berupa lisan dan tindakan.

Meskipun Denisa bisa melewati momen tergelap depresi dan memberikan berbagai petuah menghadapi fase kelam itu, pengingat secara riil tetaplah dibutuhkan. (end)