Review Serial: Messiah Season 1

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 19:05 WIB
Review Serial: Messiah Season 1 Ide Messiah berangkat dari ajaran agama Samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) akan sosok penyelamat umat manusia di akhir zaman. (dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia -- Review Messiah berikut berpotensi mengandung spoiler atau beberan.


Messiah bak menggambarkan dampak nyata bahaya penyebaran berita bohong, apalagi terkait kepercayaan dan agama yang erat dengan emosi manusia.

Messiah menjadi perbincangan setelah Netflix merilis trailer serial ini. Cerita serial yang membahas sosok yang diyakini dalam narasi sebagai Isa atau Yesus Al Masih ini mengundang kontroversi banyak kalangan.


Belum lagi sebagian netizen dan pencinta konspirasi menilai serial ini mengisahkan Dajal, atau yang dalam dunia Arab juga dikenal sebagai Al-Masih Ad-Dajjal.

Cerita serial ini dimulai ketika sosok pria misterius muncul di tengah pergolakan Suriah di masa pertempuran dengan ISIS.

Sosok ini menarik banyak pihak, selain karena karismanya, juga ucapan dan tindakannya yang menggoyahkan iman banyak orang. Sinopsis lengkap serial Messiah bisa di lihat di sini.

Ide Messiah yang berangkat dari ajaran agama Samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) akan sosok penyelamat umat manusia di akhir zaman harus saya katakan sebenarnya sudah kuat.

Cerita konspirasi, akhir zaman, apalagi yang berkaitan dengan agama akan selalu bisa menarik perhatian orang. Apalagi, serial ini bisa mengejawantahkan ide tersebut dalam karakter Al Masih yang diperankan oleh Mehdi Dehbi.

Namun rupanya Michael Petroni selaku kreator masih butuh waktu untuk membuat Messiah lebih sempurna.

Messiah memang menawarkan ide yang menarik, visual apik, hingga menggunakan properti yang dibuat semirip mungkin dengan latar cerita, salah satunya di Yerusalem. Efek visual serial ini juga terbilang mantap untuk sekelasnya.

Namun keinginan Petroni untuk menyajikan Messiah dengan berbagai keajaibannya yang di luar nalar dibalut visual apik rupanya tak diimbangi dengan narasi yang kuat dan logis.

Review Serial: Messiah Season 1Ide Messiah berangkat dari ajaran agama Samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) akan sosok penyelamat umat manusia di akhir zaman. (dok. Netflix)

Di sisi lain, wajar sebenarnya bila dalam cerita sebuah film atau serial menyisakan banyak ruang yang berpeluang untuk dikembangkan.

Namun Messiah menyisakan ruang itu terlalu banyak, mengingat penonton mesti berjibaku terlebih dahulu dengan tempo yang amat lambat di awal.

Selain itu, amat disayangkan Petroni terlambat menyisipkan hal-hal yang menarik dan menimbulkan rasa penasaran di episode-episode awal. Hal penasaran itu justru baru ditemukan di tengah perjalanan dari 10 episode musim pertama.

Kemudian, sejumlah logika dari cerita Messiah tampak tak terhubung dengan baik. Faktor ragam konflik dari berbagai karakter yang cukup banyak dalam serial ini bisa jadi membuat Petroni alpa memerhatikan keselarasan cerita.

Namun bisa jadi itulah tujuan Petroni. Ia sempat mengatakan amat menginginkan banyak perdebatan tentang serial ini. Walaupun saya yakin perdebatan yang dimaksud adalah soal sosok utama atau pun konten agama yang dibawa, bukan dari kecacatan serial tersebut.

[Gambas:Youtube]

Meski begitu, Messiah dan kelanjutannya terbilang serial yang berpotensi dinanti banyak orang karena topiknya. Konspirasi, masa depan, dan agama akan selalu jadi pembahasan menarik untuk diperdebatkan.

Apalagi, Messiah memang mengangkat masalah kekinian yang dirasakan oleh banyak orang, mulai dari masalah kepercayaan, keyakinan terhadap ajaran agama, hubungan asmara, sampai masalah penyebaran berita bohong, terorisme, dan politik lintas negara.

Selepas dirilis, serial ini juga berhasil menimbulkan banyak asumsi dan teori di kalangan penonton. Hal ini menunjukkan setidaknya ada minat masyarakat untuk kelanjutan serial ini.

Dengan hal itu Michael Petroni setidaknya sudah ada modal maju ke Netflix dengan proposal Messiah musim kedua. Asalkan, sejumlah kecacatan dari serial ini mesti diperbaiki bila tak hanya ingin meninggalkan sederet kontroversi. (end)