Review Konser

Konser Apik Jalan Enam Tiga Efek Rumah Kaca yang Tak Klimaks

adp, CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 20:05 WIB
Konser Apik Jalan Enam Tiga Efek Rumah Kaca yang Tak Klimaks Efek Rumah Kaca menyajikan penampilan indah di sesi pertama Konser Jalan Enam Tiga, Selasa (28/1). Sayang keindahan serupa tak terasa di dua sesi lain. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai band yang berusia 19 tahun, Efek Rumah Kaca pasti sudah beberapa kali menggelar konser. Mereka seharusnya sudah paham bagaimana membuat konser yang bagus dari berbagai aspek, seperti Konser Sinestesia pada 2016 lalu.

Sayang hal itu tidak terulang pada Konser Jalan Enam Tiga di M Bloc, Jakarta Selatan, kemarin (28/1) malam. Konser itu sebenarnya bagus dari segi teknis, tata panggung dan tata suara. Tapi kurang dari segi mood yang mereka bangun. Terasa nanggung.


Konser Jalan Enam Tiga dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama membawakan lagu yang didominasi album Sinestesia (2015), sesi kedua sepenuhnya membawakan lagu dari mini album Jalan Enam tiga dan sesi terakhir berisi lagu yang kebanyakan diambil dari album Kamar Gelap (2008).


Sesi pertama merupakan penampilan terbaik Efek Rumah Kaca. Pada sesi ini mereka membawakan 15 lagu tanpa jeda dengan aransemen baru yang belum pernah diperlihatkan. Luar biasa.

Ada pula beberapa lagu yang mereka medley, seperti menyanyikan lagu Jalang saat memainkan bagian instrumental lagu Cipta Bisa Dipasarkan. Atau saat membawakan lagu Ada-ada Saja dan Lara di Mana-mana yang di-medley dengan Cara Pengolahan Sampah.

[Gambas:Youtube]

Beberapa kali saya merinding ketika menyaksikan penampilan Efek Rumah Kaca di sesi tersebut. Bagian terbaik adalah ketika band yang terbentuk sejak 2001 ini membawakan Nyata Tak Terperi yang di-medley dengan lagu Di Udara versi aransemen baru. Mereka didukung pula oleh empat orang penyanyi latar, yang memperdengarkan harmonisasi indah di antara transisi lagu.

Penampilan Efek Rumah Kaca semakin bagus karena sangat nyaman dinikmati secara visual. Tata lampu hanya menyorotkan cahaya warna merah pada personel yang semuanya mengenakan pakaian warna hitam. Kemudian di sisi kiri panggung ada pantomim yang dimainkan oleh Wanggi Hoed, dengan bermandikan cahaya putih.

Mood yang dibangun pada sesi ini sangat baik dan tanpa cela. Hampir semua pengunjung terlihat amat khusyuk menikmati penampilan Efek Rumah Kaca. Sangat jarang ada yang terlihat mengeluarkan telepon genggam untuk mengambil gambar atau video. Mereka benar-benar ingin menikmati konser.

Sayang mood tersebut turun drastis saat memasuki sesi kedua. Lagu-lagu Jalan Enam Tiga yang lebih enteng dan tidak rumit ketimbang lagu-lagu Efek Rumah Kaca sebelumnya masih asing bagi mayoritas pengunjung. Sangat sedikit yang bernyanyi.

Beruntung lagu Tiba-Tiba Batu, yang dirilis lebih dulu sebagai single Jalan Enam Tiga dibawakan terakhir. Lagu ini cukup akrab di telinga dan banyak pengunjung yang ikut bernyanyi. Setidaknya bisa mengangkat sedikit mood yang sudah tak seperti di sesi pertama.

[Gambas:Youtube]

Mood berangsur-angsur membaik ketika sesi ketiga berlangsung, karena Efek Rumah Kaca membawakan banyak lagu yang anthemic. Seperti Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Balerina, Tubuhmu Membiru Tragis, Menjadi Indonesia dan Seperti Rahim Ibu.

Ya, memang mood naik pada sesi ketiga. Tapi tidak setinggi di sesi pertama, lantaran sesi itu sangat, sangat bagus.

Mood terasa semakin naik ketika memasuki akhir Konser Jalan Enam Tiga. Cholil mengajak Adrian Yunan naik ke panggung untuk membawakan lagu Sebelah Mata dan Cinta Melulu. Pemilihan Cinta Melulu sebagai penutup sangat tepat karena lagu itu mudah dinyanyikan dan bertempo riang.

Tapi, sekali lagi, pemulihan mood di sesi terakhir tak dapat mengembalikan perasaan di sesi pembuka yang istimewa. Pada akhirnya Konser Jalan Enam Tiga terasa tanggung, atau dengan kata lain, kurang klimaks. (rea)