Review Film: Humba Dreams

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 19:15 WIB
Humba Dreams Review film Humba Dreams menyebut, Riri Riza mengajarkan arti penting dari sebuah kenangan lewat film ini. (Dok. Miles Film/Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setidaknya ada dua hal yang saya rasakan begitu rampung menyaksikan Humba Dreams, film garapan Riri Riza pada 2019 yang baru dirilis di Netflix pada Kamis (9/7).

Hal pertama, adalah kenangan personal akan pengalaman saya ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, beberapa tahun lalu. Tempat itu, dan mungkin masih hingga kini, membuat saya merasa berada bukan di Indonesia yang saya kenal saking menakjubkannya.

Kenangan personal lainnya yang saya rasakan dari film ini adalah betapa sudah lama sekali saya tidak menggunakan kamera analog dan datang ke tukang foto untuk afdruk alias mencetak foto.


Riri Riza sukses membuat kenangan pra-digital itu kembali muncul di tengah kecanggihan teknologi saat ini, yang dalam film ini saya rasa dilambangkan dengan penggunaan ponsel dan laptop dari salah satu jenama kenamaan asal Amerika Serikat.

Melalui cerita dari Humba Dreams, Riri mengenang sekaligus mengenalkan kembali -kepada generasi Z, saya yakin- proses fotografi dan pembuatan film jadul yang membutuhkan proses juga perjuangan.

Namun kenangan akan momen, proses, dan perjuangan mengabadikan itulah yang membuat sebuah karya fotografi dan film dari era "lawas" menjadi begitu terasa abadi juga berharga.

Mungkin itulah sebabnya, mengapa dahulu ketika masih menggunakan kamera analog, hasil afdruk 'terbakar' dan tak jelas pun masih disimpan. Bahkan si pengambil foto masih ingat momen kejadian di balik foto terbakar itu.

Beda hal dengan teknologi digital kala ini yang begitu mudah mengabadikan sesuatu sehingga kadang momen terasa tak begitu berharga ketika hasilnya tak seperti yang diharapkan.

Dengan kata lain, Riri Riza mengajarkan arti penting dari sebuah kenangan.

Film Humba Dreams oleh Riri Riza.Humba Dreams berisi perjuangan Martin yang memecahkan 'misteri' warisan dari ayahnya yang meninggal tiga tahun lalu namun belum jua dikubur.: (dok. Miles Films via YouTube)

Poin itu juga terlihat dari cerita Humba Dreams. Kisah film 58 menit ini berisi perjuangan Martin yang memecahkan 'misteri' warisan dari ayahnya yang meninggal tiga tahun lalu namun belum jua dikubur.

Martin, mahasiswa sekolah film di Jakarta, terpaksa harus pulang kembali ke Sumba untuk memenuhi panggilan ibunya yang terus-menerus mendesak ia pulang kampung.

Alasan sang ibu sederhana, selain rindu dengan anaknya yang meneruskan hobi suaminya soal film, Martin diminta pulang karena ada wasiat dari sang mendiang untuk dibuka. Wasiat yang ada dalam kotak itu hanya boleh dibuka ketika Martin ada di Sumba.

Padahal, Martin sedang dalam tugas akhir berupa proyek film bersama teman-temannya. Ia pun berusaha kabur, namun berbagai kejadian membuatnya 'terjebak' di Sumba dan terpaksa untuk menuruti permintaan ibunya itu.

Film Humba Dreams oleh Riri Riza.Ana adalah seorang perempuan Sumba yang ditinggal suaminya menjadi tenaga kerja di Malaysia. (dok. Miles Films via YouTube)

Ketika kotak itu dibuka, Martin rupanya masih belum bisa melihat 'pesan asli' dari sang ayah. Hal itu karena wasiat disimpan dalam rol film ukuran 16 mm yang sudah barang tentu tak bisa disaksikan dengan cara digital.

Martin pun ke sana ke mari untuk mencari cara mencari tahu isi rol film tersebut. Dalam pencarian itu, Martin bertemu dengan Ana.

Ana adalah seorang perempuan Sumba yang ditinggal suaminya menjadi tenaga kerja di Malaysia. Namun sudah bertahun-tahun Ana tak mendapatkan rimba suaminya itu.

Martin tertarik dengan Ana. Namun keterikatan Ana dengan masa lalunya rupanya membawa Martin mengenal masalah lain yang kerap terjadi di daerah: nasib masyarakat di daerah terpinggirkan. Inilah hal kedua yang saya rasakan dari film ini.

Riri memotret masalah sosial itu di sela-sela cerita cinta Martin dan Ana yang tarik ulur. Masalah sosial itu salah satunya seperti keterbatasan lapangan pekerjaan di daerah yang membuat banyak penduduk rela merantau ke negeri seberang.

Tapi di negeri seberang pun mereka tak mendapatkan perlindungan juga perhatian dari pemerintahnya sendiri.

Masalah sosial lainnya adalah berupa diskriminasi terhadap penganut kepercayaan dan tradisi. Riri memotret, melalui Sumba, Indonesia terbangun di atas keragaman kepercayaan dan tradisi yang turun menurun masih dilakukan sebagian masyarakatnya.

Data Kemendikbud pada 2017 sendiri mencatat, setidaknya ada 187 aliran kepercayaan yang tersebar di 13 provinsi di Indonesia.

Namun anehnya, masyarakat tradisi yang menjadi bagian dari keanekaragaman bangsa di Indonesia itu, kerap kali tak mendapatkan pengakuan yang sama karena tak masuk dalam kelompok 'yang telah ditentukan' oleh negara.

Humba Dreamsdok. Miles Film via NetflixReview film Humba Dreams menyebut, Riri Riza mengajarkan arti penting dari sebuah kenangan lewat film ini. (dok. Miles Film via Netflix)

Akibatnya, mereka dan keluarga serta keturunannya tak diakui. Mereka tak mendapatkan perlindungan hukum karena bukti bahwa mereka bagian dari masyarakat Indonesia tak ada.

Sedikit banyak, ini mengingatkan saya akan masalah pengakuan aliran kepercayaan seperti Sunda Wiwitan pada 2017 silam. Mahkamah Konstitusi sendiri pada 7 November 2017 sudah memutuskan memperbolehkan aliran kepercayaan dicantumkan di KTP, setelah perjuangan yang begitu panjang.

Meski kesan yang saya dapat dari Humba Dreams begitu menyentuh, saya harus mengakui masih belum nyaman menikmati alur cerita yang disajikan Riri.

Kadang saya membutuhkan waktu lebih banyak untuk bisa memahami film ini, terlepas dari pemandangan Sumba yang begitu menakjubkan.

[Gambas:Youtube]



Narasi Riri dimulai lambat dari awal, perlahan dan setahap demi setahap, namun pada bagian jelang akhir langsung dipercepat seakar dikejar durasi.

Riri tampak memutar-mutar cerita sehingga seolah perjalanan Martin menyelesaikan masalahnya begitu melelahkan dan panjang. Padahal, solusi Martin sudah muncul jauh sebelum bagian ceritanya datang.

Belum lagi Riri banyak menggunakan bahasa simbol dalam film ini.

Bila saya sedang fokus, saya bisa menangkap simbol itu baik berupa sindiran maupun lelucon selipan Riri. Tapi bila tempo lambat dengan nuansa Sumba yang tenang nan menakjubkan berbalut sinematografi indah yang membuai, lewatlah sudah.

Secara keseluruhan, Humba Dreams seperti mimpi yang mengajarkan arti penting dari menghargai kenangan, meskipun hal itu terasa begitu ketinggalan zaman. Namun satu hal yang harus diingat, era kini tak akan pernah ada tanpa ada masa lalu.

(end)