Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Nama adalah Doa, Pun Begitu Zoro Anak Saya

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Sabtu, 25/07/2020 09:53 WIB
Lewat nama 'Zoro', saya tiupkan harapan bahwa anak laki-laki saya tumbuh menjadi sosok pemberani, tangguh, dan memegang teguh janji dan cita-citanya. Roronoa Zoro, salah satu karakter di manga One Piece. (dok. Toei Animation via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama adalah perwujudan sebuah doa. Saya percaya, harapan-harapan baik yang dititipkan orang tua pada anak berwujud pada pemberian sebuah nama.

Tak heran, menentukan nama anak tentu merupakan salah satu proses dan momen penting dalam kehidupan manusia ketika menginjak fase orang tua.

***


Siang di sebuah lobi rumah sakit, 22 Juli beberapa tahun lalu, saya duduk di kursi panjang yang bisa menampung lima orang. Detik di jam dinding berjalan seperti biasa, tapi waktu seolah telah berjalan panjang.

Dengan tas istri melingkar di bahu kiri, saya bingung harus berbuat apa untuk membunuh waktu saat menunggu istri saya, Endah berjuang di ruang bersalin. Main game di ponsel terasa tak menarik lagi di waktu yang saya anggap sulit dan menegangkan itu.

"Anak pertama ya, Mas? Tenang saja, lancar kok semuanya," ucap suara di sebelah saya. Seorang laki-laki yang beberapa tahun lebih tua tampak duduk dengan tenang.

"Nunggu istri lahiran juga Mas? tanya saya.

"Iya. Anak Keempat," ucap laki-laki tersebut.

Pantas. Dia begitu tenang. Sudah menang pengalaman dan unggul jam terbang rupanya.

Belasan menit menunggu yang serasa selamanya itu akhirnya berakhir. Nama saya dipanggil. Saya sigap maju. Pemberitahuan bahwa bayi kami sudah lahir.

Istri saya masih di ruang bersalin sementara saya harus bergegas ke atas bersama bayi untuk proses identifikasi dan pengisian data diri. Di tengah perasaan haru dan lepasnya ketegangan, saya bergegas ke lantai atas. Tentu dengan tas istri di bahu kiri dan tak lupa tangan kanan menggenggam sandal milik istri.

Irama ketegangan dalam diri mulai menurun meski tak sepenuhnya berakhir. Salah satu hari yang paling membahagiakan hadir dalam kehidupan kami.

***

Jauh sebelum memiliki anak, saya sudah membayangkan nama-nama yang bakal saya sematkan pada anak saya.

Pernah ada masa ketika saya ingin menyematkan nama 'Roberto' pada nama calon anak karena kekaguman saya terhadap Roberto Baggio, empunya nomor punggung 10 di tim nasional Italia.

Nama Roberto dipadu dengan nama ejaan lama Indonesia yang mengandung huruf 'tj' atau 'dj' sepertinya akan terdengar manis dan jadi kombinasi yang pas.

Lalu munculah nama 'Roronoa Zoro' yang kemudian terus mengusik pikiran saya. Nama 'Roronoa Zoro' jauh sudah saya kenal sebelum saya mulai memikirkan nama anak.

Sejak membaca One Piece tahun 2003, nama Zoro memang jadi salah satu karakter yang mencuri perhatian saya. Zoro adalah tokoh dengan karakter yang sangat kuat.

Sejak pertama muncul, Zoro digambarkan sebagai sosok yang punya ambisi tinggi, penuh percaya diri, dan berpikiran lurus. Melihat gambaran tokoh di Kelompok Bajak Laut Topi Jerami, sosok Zoro yang secara nyata terlihat paling ideal sebagai petarung dibandingkan anggota lainnya.

Zoro muncul dengan ambisi tinggi ingin menjadi pendekar pedang terhebat di dunia. Ia tak ragu untuk langsung menantang Mihawk, pendekar pedang terhebat di dunia, ketika bertemu untuk pertama kalinya.

Ketika Zoro mengikat sumpah setia untuk menjadi anak buah Luffy, Zoro benar-benar memegang sumpah tersebut sampai saat ini.

Zoro yang paling marah pada Usopp ketika dia seenaknya keluar-masuk Kelompok Bajak Laut Topi Jerami.

Zoro rela menanggung semua luka Luffy di Thriller Bark saat Bartholomew Kuma memberikan ancaman pada mereka.

Zoro lalu rela menundukkan kepala pada Mihawk agar bisa melatih dirinya. Zoro bersedia membuang harga diri demi bisa menjadi kru yang hebat untuk Luffy.

Setiap pertarungan Zoro di East Blue hingga paruh pertama Grand Line adalah pertarungan yang epik dan berdarah.

Di balik keganasan dan kegarangan Zoro, ia tetap tak kehilangan kelembutan. Zoro memegang setia janji Kuina, menolong Nico Robin di Pulau Langit, hingga membantu Tashigi melarikan diri di Punk Hazard.

Meski Monkey D. Luffy pastilah jadi yang terhebat, saya tetap lebih memilih Zoro sebagai tokoh favorit.

Seiring kehidupan memasuki pernikahan, nama anak kembali terlintas. Saya mulai yakin bahwa nama 'Zoro', bila anak saya laki-laki, adalah sebuah pilihan yang paling tepat. Tidak ada lagi nama yang terlintas di pikiran yang saya anggap bisa menandingi nama 'Zoro'.

Lewat nama 'Zoro', saya tiupkan harapan bahwa anak laki-laki saya tumbuh menjadi sosok pemberani, tangguh, dan memegang teguh janji dan cita-citanya.

Ide nama 'Zoro' itu selalu saya genggam sejak saat itu, erat dan kuat, tanpa pernah tergantikan oleh ide lainnya.

Perihal nama sendiri terkadang jadi salah satu hal yang rumit untuk dirumuskan. Mengatasi hal tersebut, saya dan istri pun mencapai kesepakatan bahwa nama pertama dari dia dan nama kedua, saya yang pilihkan yaitu Zoro.

***

Saya tiba di ruang bayi. Tas dan sandal istri saya letakkan lalu saya cuci tangan. Setelah pemeriksaan tubuh bayi, saya kemudian mengumandangkan adzan dengan suara yang sepertinya bergetar di telinga kanan anak saya.

Suster lalu bertanya: Sudah disiapkan nama bayinya Pak?

"Namanya Raynar Zoro Fitrizki."

Selamat ulang tahun Raynar Zoro, Selamat Ulang Tahun One Piece!

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS