Cerita di Balik Produksi Pentas Teater Daring Rumah Kenangan

CNN Indonesia | Sabtu, 15/08/2020 17:30 WIB
Pentas daring Rumah Kenangan menjadi respons para penggawa teater akan situasi pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah pertunjukan teater tak bisa digelar. Pentas daring Rumah Kenangan menjadi respons para penggawa teater akan situasi pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah pertunjukan teater tak bisa digelar. (dok: Titimangsa Foundation)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pentas daring Rumah Kenangan menjadi respons para penggawa teater akan situasi pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah pertunjukan teater tak bisa digelar.

Pentas yang akan diselenggarakan pada 15 dan 16 Agustus mendatang ini melibatkan Happy Salma selaku pendiri Titimangsa Foundation juga Nano dan Ratna Riantiarno sebagai Pendiri Teater Koma.

Ada pula Butet Kertaredjasa, Agus Noor, Susilo Nugroho dari Teater Gandrik, serta didukung oleh aktor Reza Rahadian dan aktris Wulan Guritno.


Happy Salma, selaku produser dan penggagas ide cerita 'Rumah Kenangan' menceritakan bahwa proyek ini berawal dari diskusi dirinya dengan Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian untuk membuat karya di tengah pandemi.

Dari sana, Happy kemudian menggandeng Agus Noor untuk membuat produksi bersama, di mana Agus akhirnya menyutradarai dan menulis naskah Rumah Kenangan. Keduanya menemukan ide untuk membuat sebuah pentas daring dengan mengangkat tema keluarga.

"Soal keluarga ini terasa cocok dan paling tepat karena berlatar di rumah, jadi pertunjukan pun bisa dilakukan di satu tempat dan satu ruangan," kata Happy dalam jumpa pers virtual pada Selasa (11/8).

Setelah proses itu, ia kemudian mengumpulkan nama-nama pemain yang berdedikasi di film dan teater, yaitu Butet Kartaredjasa, Happy Salma, Ratna Riantiarno, Susilo Nugroho, Reza Rahadian dan Wulan Guritno.

Berkumpulnya tokoh teater dan film dalam garapan ini diharapkan Happy menjadi upaya agar ekosistem seni bisa terus bergerak. Dia bahkan mengatakan bahwa seluruh tim dan pemain dengan terbuka untuk menciptakan karya bersama

Karena diproduksi selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), diungkapkan Happy, proses latihan diadakan via platform Zoom dengan pemain dan sutradara yang ada di berbagai penjuru kota di Indonesia.

Seluruh pemain dan kerabat kerja kemudian berkumpul di Yogyakarta setelah sebelumnya melakukan rapid test dengan hasil non-reaktif.

Rumah Kenangan Happy Salma sebagai Mutiara WijayaRumah Kenangan Happy Salma sebagai Mutiara Wijaya. (dok: Titimangsa Foundation)

Mereka juga menjalani karantina bersama di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) dan tetap menjalankan protokol kesehatan yang berlaku.

"Bu Ratna dengan semangat menyambut proyek ini bahkan rela menempuh perjalanan darat ke Yogyakarta dengan usia yang tak lagi muda. Lalu mas Butet terbuka dan menerima dengan sukacita pentas ini diadakan di PSBK. Ada mas Susilo juga dengan kemampuan improvisasi panggung yang cerdas," tuturnya.

Happy melanjutkan, "Lalu Reza, orang yang tak pernah hitungan meski sedang banyak proyek dia mau cari waktu, latihan gitar berminggu-minggu karena perannya sebagai musisi. Dan Wulan, dengan semangat yang tahan banting dia mau coba hal baru."

Bagi Happy, itu sudah menjadi bukti bahwa rumah kesenian adalah milik bersama yang harus dijaga.

Pentas Daring

Cerita Rumah Kenangan berfokus tentang enam manusia dengan beragam karakter yang diikat karena persaudaraan.

Disebabkan oleh pandemi Covid-19, keenam orang ini terpaksa berada di satu rumah bersama setelah sebelumnya berpencar. Di balik itu, segala yang selama ini terpendam, mulai terbuka secara perlahan di dalam sebuah rumah kenangan.

"Semua kisah berpusat di satu rumah dengan beragam kejadian masalah keluarga. Saya deg-degan juga. Tidak tahu jadinya akan seperti apa. Pentas dilakukan seperti pada umumnya pementasan, tidak ada cut to cut kecuali perpindahan set," tutur Happy.

Meski energi yang hadir dirasa tak semagis ketika menonton langsung, tapi Happy meyakini bahwa ini adalah pilihan terbaik dan menjadi langkah nyata bahwa dunia panggung masih hidup.

"Seperti kata sutradara dan penulis naskah Agus Noor, bahwa kita mencintai pilihan profesi kita, kita melakukan sepenuh hati dan menyerahkan pada semesta setelahnya," ujarnya lebih lanjut.

Sutradara dan penulis naskah Rumah Kenangan, Agus Noor turut berbagi soal pengalaman selama terlibat dalam produksi ini. Menurutnya, tantangan terbesar yakni bagaimana memindahkan peristiwa panggung ke sinema yang juga bisa dinikmati lewat gawai.

Rumah Kenangan Proses LatihanSutradara dan penulis naskah Rumah Kenangan, Agus Noor turut berbagi soal pengalaman selama terlibat dalam produksi ini. (dok: Titimangsa Foundation)

"Kesulitannya itu emosi harus tetap hadir dan bisa dirasakan penonton di rumah sebagaimana mereka sedang menonton pertunjukan panggung, menerjemahkan peristiwa panggung menjadi tayangan online yang menarik," kata Agus.

Untuk itu, Agus mengungkap bahwa sebisa mungkin ia tak ingin mengubah banyak aspek yang biasa terjadi di panggung, termasuk kesalahan dialog yang diucapkan oleh para pemain.

"Penyesuaiannya hanya teknis agar nyaman disaksikan di gawai dan tidak membuat mata lelah, tapi pengadegan tidak terlalu ada bedanya," katanya.

"Tidak ada re-take kalau ada salah dialog, peristiwa kepanikan pemain, itu saya pertahankan, karena situasi ini yang tetap terasa panggungnya ketika teman-teman menonton," lanjutnya.

Namun di balik itu, Butet Kartaredjasa yang juga bertindak sebagai produser pementasan Rumah Kenangan mengatakan bahwa meski ada beberapa aspek yang hilang, tapi pentas daring membuka akses bagi daerah-daerah lain.

"Di era daring ini, seluruh orang Indonesia dan dunia bisa melihat peristiwa panggung yang sama. Ada rasa keberadilan untuk menyaksikan permainan aktor yang biasanya hanya digelar di kota-kota tertentu," katanya.

Rumah Kenangan akan disiarkan secara streaming pada 15 dan 16 Agustus pukul 20.00 WIB di laman Indonesia Kaya. Tiket dijual dengan harga Rp35 ribu untuk pembelian 4-10 Agustus, dan Rp50 ribu untuk pembelian mulai 11 Agustus.

(agn/end)