Review Drama: Was It Love?

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 20:56 WIB
Review Was It Love menilai, sejumlah nilai tambah membuat aksi Song Ji-hyo ini menjadi drama Korea yang cukup menghibur kala pandemi. Review Was It Love menilai, sejumlah nilai tambah membuat aksi Song Ji-hyo ini menjadi drama Korea yang cukup menghibur kala pandemi. (dok. jTBC via hancinema)
Jakarta, CNN Indonesia --

Was It Love menjadi drama Korea yang cukup menghibur di kala pandemi meski beberapa hal terasa membosankan, karena kebetulan yang berulang serta durasi panjang untuk satu adegan.

Was It Love secara garis besar menceritakan perjuangan hidup ibu tunggal, Noh Ae-jeong (Song Ji-hyo) bersama anaknya, Noh Ha-nee (Uhm Chae-young), dan ibunya Choi Hyang-ja (Kim Mi-kyung).

Suatu hari, Ae-jeong yang sehari-hari bekerja sebagai produser tiba-tiba terlilit utang besar karena pemimpin perusahaan kabur.


Demi melunasi utang, ia berencana membuat film atas kesepakatan bersama Koo Pa-do, gangster yang malah menjadi investor proyek tersebut. Kesepakatan itu membuat Noh Ae-jong bertemu kembali dengan pria-pria di masa lalunya, Oh Dae-o (Son Ho-jun) serta Ryu Jin (Song Jong-ho).

Sementara itu, karena menemukan sebuah catatan, Noh Ha-nee jadi mulai penasaran dan mencari tahu ayah kandungnya yang disebut telah meninggal oleh ibunya selama 14 tahun terakhir. Ha-nee juga menjadi salah satu yang membuat Noh Ae-jung kembali bertemu Oh Yeon-woo (Koo Ja-sung), adik kelasnya di kampus.

Salah satu hal yang membuat saya tergelitik adalah terlalu banyak kejadian kebetulan di sepanjang 16 episode drama ini.

Was It Love?Was It Love secara garis besar menceritakan perjuangan hidup ibu tunggal, Noh Ae-jeong (Song Ji-hyo) bersama anaknya, Noh Ha-nee (Uhm Chae-young), dan ibunya Choi Hyang-ja (Kim Mi-kyung). (dok: JTBC)

Contohnya adalah ketika empat laki-laki di sekitar Noh Ae-jong dengan profesi penulis terkenal, artis terkenal yang akan mengembangkan sayap ke Hollywood, guru olahraga, serta gangster, sangat sering berada di suatu tempat yang sama dalam waktu yang bersamaan.

Kejadian kebetulan sejatinya memang diperlukan untuk menjadi bumbu dan membuat segalanya mungkin terjadi dalam drama. Namun, apabila kebetulan itu terlalu sering terjadi, rasanya jalan cerita seperti dipaksakan dan kurang menarik untuk ditonton.

Catatan lain buat Was It Love juga kerap menampilkan adegan slow-motion dan juga durasi di beberapa bagian yang terasa terlalu lama. Alih-alih mendapatkan efek dramatis, saya malah lebih sering mempercepat banyak adegan.

Contohnya adalah ketika adegan mengambil buku kenangan yang terjatuh dalam durasi yang terasa lama, kemudian ketika para pemeran saling menatap dalam diam yang malah membuat dahi mengernyit.

Meski beberapa hal menyebabkan drama ini sedikit membosankan, banyak pula hal yang membuat saya bertahan menyaksikan Was It Love sampai akhir bahkan menantikannya setiap pekan.

Was It Love menawarkan sesuatu yang baru yakni empat kemungkinan kisah cinta di sekitar pemeran utamanya. Menariknya, empat karakter laki-laki di sini memiliki karakter yang berbeda-beda tapi terlihat cocok menjadi pasangan Noh Ae-jeong.

Tak hanya itu, kisah dari para pemeran muda yakni Noh Ha-nee dan Koo Dong-chan (Yoon Sung-woo) terasa hangat dan menarik disaksikan.

Hal utama yang tak boleh diabaikan adalah pemberdayaan perempuan sebagai pesan utama dari drama itu sendiri. Lewat Noh Ae-jong, penonton diajak melihat bahwasanya amat mungkin bagi seorang perempuan untuk bisa membangun karier, keluarga, dan kebahagiaan pribadi secara bersamaan.

Was It Love?Pelajaran penting lain yang disampaikan lewat Was It Love adalah pentingnya berkomunikasi. Banyak situasi dan faktor yang memicu kesalahpahaman dalam hubungan. (dok: JTBC)

Memang, membangun tiga hal tersebut secara bersamaan tak mudah karena mengorbankan banyak hal seperti emosi, perasaan, dan tenaga. Namun, semua itu amat mungkin asalkan mau bersabar, bekerja keras, dan bangkit ketika terjatuh.

Kekuatan dan kemampuan perempuan terutama seorang ibu jelas digambarkan melalui drama ini. Banyak hal yang sebenarnya bisa membuat Noh Ae-jong tenggelam dalam kesedihan dalam keputusasaan.

Namun, rasa sayang terhadap anak dan ibunya membuat ia terus berjalan ke depan meski sesekali terjatuh.

Dampaknya, hal itu pula yang membuatnya menjadi perempuan independen dalam 14 tahun terakhir. Noh Ae-jong juga mematahkan gambaran perempuan selalu ingin menjadi Cinderella atau 'bergantung' kepada laki-laki.

"Jadilah Wonder Woman. Aku akan urus diriku sendiri dan menjadi Batman atau Superman di sampingmu," kata Oh Dae-o memastikan Noh Ae-jong kehidupan dan karier tak akan tergantung karena perasaannya.

[Gambas:Youtube]



Pelajaran penting lain yang disampaikan lewat Was It Love adalah pentingnya berkomunikasi. Banyak situasi dan faktor yang memicu kesalahpahaman dalam hubungan. Diam tak selalu membantu menyelesaikan permasalahan.

Banyak diam dan seakan melupakan permasalahan yang terjadi malah memperburuk keadaan. Hal itu kerap berkembang menjadi rasa benci karena hanya melihat satu sisi, dikembangkan sendiri dalam pikiran tanpa mendengarkan penjelasan dan kisah pihak lain terlebih dahulu.

Melihat nilai-nilai tambah di atas, Was It Love sejatinya menjadi drama yang cukup menghibur kala pandemi.

Secara garis besar, drama ini menonjolkan sosok ibu yang luar biasa sekaligus mengajarkan untuk selalu baik kepada sekitar karena kita tidak mengetahui beban serta permasalahan hidup yang tengah dihadapi orang lain.

(end)

[Gambas:Video CNN]