Review Drama Korea: It's Okay To Not Be Okay

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 19:15 WIB
Dengan pendalaman materi dan karakter, It's Okay to Not Be Okay tak hanya memanjakan penonton dengan kisah romansa, tapi juga membawa pesan penting kehidupan. Dengan pendalaman materi dan karakter, It's Okay to Not Be Okay tak hanya memanjakan penonton dengan kisah romansa, tapi juga membawa pesan penting kehidupan. (Dok. tvN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seperti judulnya, drama Korea bertajuk It's Okay to Not Be Okay membawa pesan penting untuk bisa lebih menerima diri sendiri.

Secara garis besar, drama yang dibintangi Kim Soo-hyun dan Seo Ye-ji ini masih mengangkat cerita cinta seperti kebanyakan drama Korea.

Namun, isu kesehatan mental yang juga menjadi tema besar dalam drama ini menjadi nilai lebih It's Okay to Not Be Okay sehingga terasa lebih menarik.


Drama yang disutradarai Park Shin-woo ini menceritakan romansa antara Moon Kang-tae (diperankan Kim Soo-hyun) dan Ko Moon-young (Seo Ye-ji).

Moon Kang-tae merupakan pekerja di bangsal psikiatris yang tak percaya pada cinta. Ko Moon-young merupakan seorang penulis buku cerita anak-anak berkepribadian anti-sosial, sangat egois, dan sombong.

Meski plot drama ini bercerita tentang dua karakter tersebut, tapi ada satu peran lain yang tak kalah penting, yakni kakak laki-laki Kang-tae yang mengidap autisme, Moon Sang-tae (Oh Jung-se).

Keseluruhan drama ini bergerak di sekitar kehidupan ketiga tokoh tersebut. Mereka saling mengisi, menemukan penghiburan satu sama lain, dan menyembuhkan luka psikologis serta emosional.

Kisah dibuka dengan animasi tentang gadis kecil yang hidup terkungkung dalam kastel terkutuk di tengah hutan. Dia dijauhi oleh teman-temannya dan disebut sebagai monster.

Hingga suatu hari, hidupnya terasa berwarna ketika bertemu bocah laki-laki yang mengikuti kemana pun ia pergi. Namun tak lama, bocah itu kemudian lari ketika melihat hal mengerikan yang ia lakukan. Hidupnya pun kembali kelam.

Cuplikan animasi ini menjadi pembuka menarik dan memiliki ikatan yang cukup erat dengan garis besar cerita.

It's Okay to Not Be OkayTiga karakter utama It's Okay to Not Be Okay. (Dok. Chun Youngsang for Netflix)

Pada beberapa episode awal, drama ini mulai menceritakan latar kehidupan masing-masing karakter. Intensitas drama ini cukup naik turun saat perlahan mengungkap bagian masa lalu tiap karakter utama serta ikatan mereka.

Alur maju mundur ini pun cukup sukses membuat penasaran, tapi di sisi lain aura kelam dari cuplikan di masa lalu membuat drama terasa horor pada beberapa bagian.

Suasana tersebut paling terasa ketika menceritakan masa lalu hidup Ko Moon-young yang masih menjadi bayang-bayang trauma kehidupannya masa ini.

Yang patut diapresiasi dari cerita hasil garapan Jo-yong adalah proses perkembangan para karakter utama juga pendukungnya. Ia dapat menggambarkan betapa masa lalu membentuk karakter para pemeran utama hingga akhirnya menerima diri juga keadaan.

Moon Kang-tae yang semula menutupi yang ia rasakan dan berlagak kuat serta bisa mengatasi semua masalah, pada akhirnya mulai menerima dan membuka diri.

Kang-tae perlahan sadar bahwa ia juga butuh hidup untuk kebahagiaan dirinya sendiri setelah selama beberapa waktu mengorbankan segalanya demi sang kakak.

Seperti kata Nam Joo-ri, kawan lama Moon Kang-tae, "Jika kau ingin membuat sekelilingmu bahagia, kau perlu mencari kebahagiaanmu sendiri. Menjadi egois tidak selalu buruk."

It's Okay to Not Be Okaydok. tvN via HancinemaMoon Kang-tae. (Dok. tvN via Hancinema)

Lalu ada Ko Moon-young. Di awal, karakter ini beberapa kali cukup membuat dahi mengernyit karena berlaku semaunya, dan tak peduli pada kekacauan yang ia buat.

Namun, pertemuannya dengan dua Moon bersaudara membuat ia perlahan belajar memahami bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Di sini, eksplorasi karakter Ko Moon-young juga mendalam karena dapat menangkap bagaimana masa lalu dan trauma membentuk dirinya kini. Di balik itu, ia pun sebenarnya cukup rentan dan kesepian. Yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang dan perhatian.

Aspek lain yang menarik perhatian dari It's Okay to Not Be Okay adalah dinamika karakter kakak beradik Sang-tae dan Kang-tae.

Sang-tae merasa sudah membuka diri kepada sang adik, tapi ternyata tak demikian. Sementara itu, Kang-tae juga terlihat sangat mengenal kakaknya, ternyata juga tak seperti itu.

Diam-diam, Sang-tae masih menyimpan misteri dan belajar untuk menjadi kakak sepenuhnya yang bisa diandalkan bagi Kang-tae.

It's Okay to Not Be OkayMoon Sang-tae. (Dok. Chun Youngsang for Netflix)

Gambaran ini terlihat ketika di episode awal, Kang-tae aktif memastikan kondisi kakaknya ketika ia sedang bekerja. Ia selalu menjadi yang pertama untuk menelepon sang kakak untuk memastikan berbagai hal, mulai dari makan atau kegiatannya sehari-hari lainnya.

Pada satu titik, Sang-tae pun melakukan hal sebaliknya. Ia memberi perhatian sama, sebuah tindakan kecil yang terasa mengharukan.

Lebih jauh, chemistry di antara ketiga pemain pun cukup baik. Mereka dapat menggambarkan persahabatan ketiga karakter. Meski kerap terganjal masalah dan pertengkaran, tapi mereka tetap seperti keluarga yang sebenarnya saling membutuhkan.

Terlepas dari hidup ketiga tokoh itu, cerita It's Okay to Not Be Okay ini juga berbicara soal menggapai mimpi dan tujuan, dan betapa orang butuh waktu untuk pulih dari trauma masa lalu dan melanjutkan hidup.

[Gambas:Youtube]

Drama ini juga mengangkat bahwa memaafkan dan mengakui kesalahan pun menjadi hal penting untuk melepas beban pada diri sendiri. Selain itu, ada pula pelajaran untuk melatih diri mengendalikan emosi.

Bisa dikatakan, drama ini memuat banyak pesan hidup yang bisa dipetik tanpa kesan menggurui. Menyaksikan drama ini sampai akhir layaknya menjadi seorang pasien yang baru disembuhkan.

Ada rasa haru serta lega setelah menyaksikan segala penderitaan yang dihadapi para tokoh utama berakhir bahagia, dan mulai mewujudkan mimpi mereka satu per satu. Bak drama Korea pada umumnya, kisah ini juga menyuguhkan adegan-adegan manis nan menggemaskan.

Seperti judulnya, film ini membawa pesan bahwa tidak apa-apa memiliki kekurangan. Tidak apa-apa merasa rentan. Tidak apa-apa untuk bersedih.

Ketika merasa lelah, istirahatlah. Ketika  bersedih, menangislah. Tidak apa-apa untuk rehat sejenak.Direktur Rumah Sakit Jiwa OK, Oh Ji-wang.

Mengutip kata Oh Ji-wang, Direktur Rumah Sakit Jiwa OK, "Ketika merasa lelah, istirahatlah. Ketika  bersedih, menangislah. Tidak apa-apa untuk rehat sejenak."

Selain ketiga tokoh utama, para aktor dan aktris pendukung di drama ini memiliki porsi yang pas dan karakter cukup kuat, seperti Nam Joo-ri, Kang Soon-duk, Oh Ji-wang, Yoo Seung-jae, Lee Sang-in, serta Jo Jae-soo. Kameo di drama ini pun muncul tak sekadar selewat saja.

Ambil contoh karakter Kwon Gi-do (Kwak Dong-yeon). Di akhir drama, ia kembali dan nasibnya selepas keluar dari rumah sakit pun terungkap. Begitu juga dengan pasangan Joo Jung-tae dan Lee A-reum. Semuanya menemukan akhir yang manis.

Poin menarik lainnya dari drama ini yakni gaya busana serta penampilan Ko Moon-young yang memukau. Meski pada beberapa bagian terlihat tak masuk akal untuk mengenakan gaun untuk tidur, tapi tim tata busana tetap layak untuk diacungi jempol.

Lagu tema dalam drama ini juga cukup baik dan sesuai sebagai pendukung adegan dalam drama. Tak terkecuali lagu utama drama, In Silence, yang dinyanyikan Janett Suhh. Lagu tersebut cukup mewakili latar cerita tentang rasa kesepian.

Meski demikian, ada beberapa hal yang kurang tereksplorasi dari drama ini, khususnya latar belakang ceria ibu Ko Moon-young.

Namun secara keseluruhan, drama It's Okay to Not Be Okay menjadi salah satu tontonan menarik bagi para pencinta drama Korea.

(has)