Beda Daya Tarik Anime dan Live-Action di Mata Produser

chri/has, CNN Indonesia | Jumat, 13/11/2020 07:00 WIB
Produser animasi Jepang, Shuichiro Tanaka, mengungkap perbedaan daya tarik adaptasi manga dalam bentuk anime dan live-action. Ilustrasi. (Dok. Netflix via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia --

Manga sejak dahulu kerap diadaptasi dan dikembangkan menjadi anime serta live-action yang sama-sama disukai penggemar. Produser animasi Jepang, Shuichiro Tanaka, mengungkap perbedaan daya tarik kedua konten itu.

Tanaka mengatakan bahwa anime punya daya tarik tersendiri ketimbang live-action dengan seni visual yang begitu hidup. Menurutnya, tradisi Jepang memengaruhi seni visual tersebut.

"Mungkin karena tradisi artistik ukiyo-e Jepang, anime tidak berusaha menciptakan sesuatu yang realistis, melainkan sesuatu yang impresionistik," kata Tanaka.


Ukiyo-e merupakan sebutan untuk teknik cukil kayu yang sudah berkembang di Jepang sejak zaman Edo. Awalnya, teknik itu dilakukan untuk menggandakan lukisan pemandangan dan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Tanaka sendiri merupakan produser David Production, anak perusahaan Fuji TV yang selama ini dikenal lewat sederet serial anime hasil adaptasi manga hit, mulai dari Level E, JoJo's Bizarre Adventure, Captain Tsubasa, dan Inu x Boku SS.

Ia tak mengaku kerap merasa tertekan saat hendak mengadaptasi manga menjadi anime. Menurutnya, perasaan itu yang kemudian mendorongnya melakukan pertemuan dalam beberapa hari.

"Saya benar-benar merasakan tekanan dari para penggemar, terutama ketika mengerjakan manga yang memiliki banyak penggemar. (Dalam pertemuan) Kami akan membahas yang unik tentang anime dan yang bisa kami bawa bersama dengan cerita sekaligus apa yang ingin kami capai dengan membuat animasi dari manga orisinal ini," ucap Tanaka.

Sementara itu, Chief Producer Anime Netflix, Taiki Sakurai, juga mengaku sering sekali ditanya mengenai perbedaan anime dan live-action hasil adaptasi manga. Menurutnya, salah satu perbedaan mendasar dari kedua konten tersebut adalah karakter.

"Anime itu tentang karakter. Karakter anime sering sekali tidak secara definitif dari latar belakang ras atau budaya tertentu," kata Taiki.

"Kalau live-action, penonton kadang seperti, 'Oh, karakter ini dari ras kaukasoid, Asia. Namun, dalam anime itu menjadi karakter yang digambar."

Taiki meyakini karakteristik anime itu memudahkan penonton untuk merasa terhubung dengan karakter atau cerita dari perspektif yang lebih universal.

Tanaka dan Taiki menyampaikan pendapat tersebut dalam Festival Anime Netflix yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.

[Gambas:Youtube]

Dalam kesempatan tersebut, layanan streaming itu juga mengumumkan rencana perilisan sekitar 16 judul anime baru, salah satunya Yasuke yang menyoroti isu rasial.

Yasuke mengisahkan samurai Afrika bernama Yasuke yang melayani penguasa feodal Jepang kuno legendaris, Nobunaga Oda (1534-1582).

Yasuke merupakan ronin terhebat yang tidak pernah dikenal. Ia kesulitan menjalani hidup yang damai setelah menjalani masa lalu penuh kekerasan.

Namun, Yasuke harus kembali beraksi ketika sebuah desa menjadi pusat pergolakan sosial di tengah pertikaian para daimyo.

Aktor Afrika-Amerika, Lakeith Stanfield, akan menjadi salah satu pengisi suara anime tersebut.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK