CERITA DI BALIK LAYAR

Paranoia Tim Assassins Buru CCTV Pembunuhan Kakak Kim Jong-un

CNN Indonesia | Sabtu, 16/01/2021 10:33 WIB
Paranoia menghantui sutradara Assassins, Ryan White, kala memburu CCTV pembunuhan Kim Jong-nam untuk film dokumenter mengenai kakak tiri Kim Jong-un itu. Paranoia menghantui sutradara Assassins, Ryan White, kala memburu CCTV pembunuhan Kim Jong-nam untuk film dokumenter mengenai kakak tiri Kim Jong-un itu. (Arsip IMDb Pro)
Jakarta, CNN Indonesia --

Paranoia sempat menghantui sutradara Assassins, Ryan White, ketika memburu rekaman CCTV pembunuhan Kim Jong-nam untuk film dokumenter terbarunya mengenai sang kakak tiri Kim Jong-un tersebut.

"Saya tidak melebih-lebihkan ketika saya mengatakan bahwa saya merasa seperti hidup dalam sebuah film mata-mata," ujar White seperti dikutip The Hollywood Reporter.

Secara garis besar, Assassins memang menyoroti peristiwa menegangkan kala dua perempuan diduga meracuni Kim Jong-nam di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2017 lalu.


Kedua perempuan itu mengaku dijebak dengan modus mereka sedang mengikuti acara realitas usil. Mereka diminta untuk mengusapkan sapu tangan ke wajah Kim Jong-nam.

Mereka mengklaim tidak tahu bahwa ternyata sapu tangan itu sudah dilumuri racun VX. Belakangan, kedua perempuan itu diketahui merupakan warga negara Indonesia dan Vietnam.

Film Assassins.Assassins. (Arsip IMDb Pro)

White mengatakan bahwa salah satu daya tarik Assassins adalah memperlihatkan detail-detail yang terekam dalam potongan CCTV di bandara.

"Tak akan ada film tanpa potongan CCTV dan film ini akan memperlihatkan kebenaran. Kami benar-benar mencoba segala cara untuk mendapatkannya (CCTV)," ucap White.

Tim produksi pun mulai mencari akses untuk mendapatkan CCTV. Kepolisian, pengadilan, bandara, semua pihak menolak untuk membantu.

Hingga akhirnya, mereka mendapatkan setumpuk DVD berisi ratusan rekaman yang memperlihatkan kejadian tersebut dari berbagai sudut pandang. Namun, White enggan mengungkap pihak yang memberikannya data tersebut demi keamanan.

"Bukan kepolisian, jadi kami harus benar-benar hati-hati dengan potongan gambar ini," tuturnya.

White dan kawan-kawan pun berupaya keras agar data tersebut tidak rusak atau hilang. Mereka menyimpannya di berbagai tempat agar masih ada cadangan ketika terjadi sesuatu.

Setelah mereka merangkai potongan-potongan rekaman CCTV tersebut, White dan timnya terperangah dengan fakta yang dihimpun.

"Mata kalian akan mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua perempuan itu. Kami mulai melihat wajah-wajah berbeda yang muncul beberapa kali," kata produser Assassins, Jessica Hargrave.

[Gambas:Youtube]

Menurut Hargrave, data Interpol dan kepolisian mengidentifikasi wajah-wajah yang muncul di rekaman CCTV tersebut sebagai agen Korea Utara. Dalam rekaman CCTV itu, mereka terlihat menginstruksikan semua pergerakan kedua perempuan tersebut.

"Sangat mengerikan melihat pria-pria itu mengamati mereka untuk memastikan mereka melakukan apa yang disuruh," ujar Hargrave.

White kemudian menimpali, "Ketika kami menyatukan rekaman-rekaman itu, kami menyadari, 'Sial, ini memang menunjukkan apa yang kita takuti selama ini.'"

Setelah rampung, White mengaku lega dapat terlepas dari paranoia yang menyelimutinya ketika berupaya mengumpulkan potongan gambar CCTV dengan berbagai cara.

"Membuat film mengenai sebuah kejahatan seperti itu, kalian selalu merasakan paranoia seperti, 'Apakah saya sedang diintai?'" katanya.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK