Review Film: Ma Rainey's Black Bottom

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 05/02/2021 19:30 WIB
Ma Rainey's Black Bottom berhasil jadi mesin pengingat sejarah perjuangan kulit hitam di AS dengan kepekatan akting dan sinematografi apik sebagai pelumasnya. Ma Rainey's Black Bottom berhasil jadi mesin pengingat sejarah perjuangan kulit hitam di AS dengan kepekatan akting dan sinematografi apik sebagai pelumasnya. (Arsip Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

"Kita hidup di dalam budaya di mana kita langsung lupa dengan apa yang baru saja terjadi dua pekan lalu."

Pernyataan itu terlontar dari mulut seorang kreator teater Broadway legendaris, August Wilson, saat menjelaskan betapa penting pengabadian sejarah melalui karya seni.

Medio 1980-an, Wilson menggarap pentas Broadway bertajuk Ma Rainey's Black Bottom untuk mengingatkan perjuangan kulit hitam melawan eksploitasi di awal masa pembebasan dari perbudakan pada 1920-an.


Hingga kini, pernyataan tersebut masih punya relevansi, apalagi di tengah deras arus informasi era teknologi kiwari. Orang semakin cepat melupakan masalah yang baru saja terjadi, hingga kasus kematian warga kulit hitam di tangan aparat AS saja terus berulang walau sudah ada berbagai demonstrasi.

Kisah Ma Rainey's Black Bottom pun masih relevan ketika diadaptasi menjadi film, meski sebelumnya sudah berulang kali diproduksi ulang untuk panggung teater selama nyaris empat dekade belakangan ini.

Ma Rainey’s Black BottomMa Rainey's Black Bottom. (Arsip Netflix)

Film Ma Rainey's Black Bottom ini akhirnya dapat menjadi mesin pengingat yang beroperasi sempurna. Kepekatan akting para pemeran utama menjadi pelumas pergerakan mesin pengingat tersebut, yang kian canggih dengan sinematografi apik.

Mesin pengingat itu juga makin mutakhir dengan penambahan detail-detail adegan yang tak ada dalam versi teater. Detail-detail tersebut pada akhirnya mempertegas, bahkan menambah makna dari kisah Ma Rainey.

Secara garis besar, Ma Rainey's Black Bottom mengangkat kisah tentang penyanyi di dunia nyata, Ma Rainey, yang dikenal dengan julukan The Mother of the Blues.

Kisah bermula ketika Ma Rainey (Viola Davis) sudah menjadi musisi tenar di Amerika Selatan medio 1920-an. Ia kemudian ke utara Amerika, tepatnya Chicago, untuk merekam album di bawah naungan Paramount Records.

Ia dibantu band pengiringnya yang beranggotakan empat orang, salah satunya Levee (Chadwick Boseman). Levee merupakan pemain trompet berbakat yang punya segudang mimpi untuk membuat musik dan membentuk bandnya sendiri.

Dengan sikap antusias dan ambisiusnya, Levee kerap berselisih paham dengan Ma Rainey mengenai arah bermusik mereka. Di tengah gesekan tersebut, mereka juga harus berhadapan dengan orang-orang dari Paramount Records yang punya agenda untuk mengeksploitasi musisi kulit hitam.

Ma Rainey dan Levee punya cara masing-masing untuk mempertahankan harga diri dan musik mereka. Lebih dari itu, mereka juga punya pandangan tersendiri mengenai jati diri sebagai kulit hitam di tengah segregasi yang masih terus berlanjut di Amerika.

[Gambas:Youtube]

Chadwick Boseman dan Viola Davis dapat menghidupkan karakter Levee dan Ma Rainey dengan sempurna, membuat penonton merasakan berbagai lapisan manusia di dalam jiwa mereka.

Tak heran ketika mereka mendapatkan nominasi kategori aktor terbaik dan aktris terbaik dalam ajang Golden Globe 2021.

Dengan berbagai gestur dan mimik mukanya, Davis dapat memancarkan pesona Ma Rainey. Ia dapat menonjolkan sisi garang sekaligus kerapuhan sang musisi secara bersamaan.

Ma Rainey’s Black BottomViola Davis di Ma Rainey's Black Bottom. (Arsip Netflix)

Boseman juga seakan memberikan kemampuan terbaiknya di film terakhirnya sebelum meninggal ini. Ia memang selalu prima dalam berakting.

Namun, karakter Levee lebih kompleks ketimbang peran-peran Boseman sebelumnya, dan ia berhasil mengupas semua lapisan emosinya.

Boseman dapat membawa penonton ke dalam petualangan naik turun emosi, menyelami kepribadian kompleks sang musisi melalui adegan-adegan panjang tanpa henti.

Sebut saja adegan saat Levee mengungkap masa lalu kelamnya. Adegan dimulai dengan Levee kegirangan memamerkan musik karyanya ke bos Paramount Records, sementara anggota lainnya tertawa melihat tingkah sang pemain trompet yang mereka anggap bak menjilat kulit putih.

Awalnya, Levee menanggapi ringan guyonan rekan-rekannya. Namun kelamaan, emosinya membuncah, menceritakan perjuangan dan kisah kelam keluarganya akibat kekerasan kulit putih.

Hingga akhirnya, emosi Levee berangsur turun setelah mencapai inti pembicaraannya mengenai pembalasan dendam kepada kulit putih.

"I can smile and say, 'Yes, sir,' to whomever I please. I got my time coming," katanya.

Ma Rainey’s Black BottomChadwick Boseman di Ma Rainey's Black Bottom. (Arsip Netflix)

Naik turun emosi Levee ini dapat terekam sempurna berkat teknik pengambilan gambar one shot, di mana kamera mengikuti pergerakan sang musisi dari dekat. Dengan demikian, penonton dapat melihat tiap detail perubahan emosi dalam diri Levee.

Semua adegan mengalun sempurna, seolah memiliki irama. August Wilson memang dikenal dengan naskahnya yang berirama, dan George C. Wolfe berhasil menerjemahkan pentas teater itu ke format layar lebar.

Lebih jauh, Wolfe menambahkan detail yang tak ada dalam versi teater. Penambahan ini mempertegas makna dari kisah Ma Rainey.

Ambil contoh perubahan latar musim kisah ini. Dalam teater, kisah Ma Rainey diceritakan dengan latar musim dingin. Namun di film, sesi rekaman Ma Rainey di tengah musim panas, membuat segala emosi lebih terasa berkobar.

Film ini juga mempertegas pembahasan mengenai Bessie Smith, musisi yang dikenal sebagai ikon blues di awal kemunculan aliran tersebut. Ma Rainey's Black Bottom meluruskan sejarah bahwa Ma Rainey merupakan pionir musik blues.

"Ma Rainey memang tak mencerminkan estetika yang mau dikedepankan oleh orang, seperti Bessie Smith. Dia urakan dan badannya berukuran besar. Apakah kalian mau menyoroti itu untuk mewakili blues? Atau kalian mau mewakilinya dengan paket lain?" kata pemeran karakter Cutler, Colman Domingo, dalam satu wawancara.

"Kita harus menggali sejarah lebih dalam karena terkadang, kita menggeser narasinya agar lebih menjual untuk semuanya, ketimbang benar-benar menggali lebih dalam sejarahnya."

Tak hanya itu, ada pula adegan Levee yang selalu penasaran dengan salah satu pintu di dalam studio yang tak bisa terbuka. Di akhir film, ternyata pintu itu hanya membawa Levee ke satu ruang hampa.

Adegan yang tak ada dalam versi teater ini seakan menjadi simbol janji surgawi terhadap kulit hitam di era 1920-an.

Saat itu, terjadi fenomena The Great Migration, di mana orang-orang kulit hitam bergerak dari selatan Amerika menuju utara, mengharapkan penghidupan yang lebih baik setelah lepas dari perbudakan. Namun ternyata, harapan itu palsu.

Harapan palsu itu kemudian dipertegas dengan adegan di akhir film yang juga tak ada di versi teater. Sekelompok musisi kulit putih merekam lagu karya Levee yang dibeli dengan harga murah.

Lirik lagu itu seolah menyimpulkan seruan yang ingin disalurkan melalui film ini, yaitu melengkapi dan meluruskan sejarah perjuangan musisi kulit hitam di Amerika.

"Oh, my jelly roll. Please, baby, let me have it all."

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK