Horor Kultus dan Magi Luar Nalar dalam Budaya Populer

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 20/06/2021 06:55 WIB
The Conjuring: The Devil Made Me Do It bukan hanya menampilkan kisah horor, tetapi juga latar cerita berdasarkan fenomena di tengah masyarakat: satanic panic. Ilustrasi. Banyak pembunuhan berantai dilakukan oleh para pengikut sekte sesat. (iStockphoto/mammuth)
Jakarta, CNN Indonesia --

Film The Conjuring: The Devil Made Me Do It yang tayang beberapa pekan lalu bukan hanya menampilkan kisah horor dari pengalaman Ed dan Lorraine Warren, tetapi juga latar cerita berdasarkan fenomena yang terjadi di tengah masyarakat: satanic panic.

Saga ketiga dari The Conjuring itu berlatar pada era ketika masyarakat Amerika Serikat tengah digegerkan beragam kasus pembunuhan serta tingkah laku orang yang dianggap berasosiasi dengan kekuatan gaib yang jahat, dalam hal ini adalah setan.

Anggapan itu jelas membuat banyak masyarakat Amerika saat itu ketakutan. Jelas, banyak pembunuhan berantai dilakukan oleh para pengikut sekte sesat. Pelecehan anak-anak dilakukan atas nama pengamalan, serta beragam tindakan kejahatan lainnya.


Kasus yang paling terkenal di era ini adalah pembunuhan oleh kultus bernama Manson Family yang dipimpin Charles Manson. Mereka terbukti membunuh aktris Sharon Tate yang tengah hamil delapan bulan secara brutal, bahkan mereka merasa kurang puas karenanya. Belum lagi dari kejadian serupa lainnya.

Pihak berwenang pun sibuk menyelidiki ratusan tuduhan. Fenomena itu begitu meluas dan dikenal dengan beberapa nama, seperti ritual abuse scare, satanic ritual abuse, dan masih banyak lagi. Tapi hanya satu nama yang kemudian begitu dikenal hingga saat ini, yakni satanic panic.

"Buktinya tidak ada tapi tuduhan pelecehan ritual setan (satanic ritual abuse) tidak pernah benar-benar hilang," kata Ken Lannig, mantan agen F.B.I yang menangani ratusan kasus ini.

Fenomena ini tergambar dalam budaya populer. Berbagai film yang menyinggung soal keberadaan kultus-kultus penyembah setan dengan berbagai niat mereka yang mengerikan beredar selama masa satanic panic itu. Sebut saja yang paling ikonis adalah The Exorcist (1973).

Kemudian sejumlah film-film lainnya yang menggambarkan kekuatan sekelompok orang untuk 'menguasai' dunia sebagai perpanjangan tangan setan, seperti saga The Omen (1970-an) hingga Trick or Treat (1986) yang menampilkan musik heavy metal.

Bersamaan dengan kehebohan akan kultus yang menjalar ke industri film, dunia musik sebenarnya sudah lama dikait-kaitkan dengan sentimen mistik ini. Elvis Presley saja pernah dianggap kesurupan pada dekade '50-an. Bahkan, Charles Manson menyebut tindakan kejahatan yang ia lakukan terinspirasi dari lagu Helter Skelter milik The Beatles.

Sentimen itu makin kencang ketika Black Sabbath lahir bersamaan dengan genre heavy metal. Genre ini bahkan dicap sebagai alat perekrutan untuk setan yang memikat anak-anak muda untuk masuk ke dalamnya.

"Ini adalah dunia setan. Iblis telah lebih memegang kendali sekarang. Orang tidak bisa bersatu, tidak ada kesetaraan. Menempatkan diri Anda di atas orang lain adalah dosa. Namun, itu yang dilakukan orang-orang," ucap bassist Black Sabbath, Terence Michael Joseph "Geezer" Butler.

Menariknya, fenomena satanic panic dan kultus setan dalam The Conjuring 3 juga menggambarkan hal yang akrab bagi penonton di Indonesia, sebuah ritual ilmu hitam yang sebagian besar dikenal sebagai santet.

Santet juga pernah menimbulkan kepanikan massal di Indonesia. Pada Oktober 1997, sebanyak 174 orang dibantai karena dianggap sebagai dukun santet. 

Musnahkan Ilmu SantetFilm "Musnahkan Ilmu Santet". (Dok. Rapi Films)

Bukan hanya itu, beberapa waktu lalu, publik digegerkan dengan kabar keberadaan babi ngepet di Depok. Meski kemudian diketahui bahwasanya hal itu adalah rekayasa semata, kepanikan warga setempat jelas tergambar dalam banyak berita.

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan kepada CNNIndonesia.com, bahwa masyarakat masih mempercayai beragam hal mistis itu karena menilai hal-hal itu sebagai cara cepat menyelesaikan masalah.

"Yang jelas itu ada buktinya. Intinya pola pikir seperti itu menyelesaikan masalah. Misalnya saya pengin kaya, kemudian saya datang ke dukun dan saya jadi kaya. Itu kan bukti kalau pola pikir dukun itu benar," kata Heddy, beberapa waktu lalu.

"Kasus-kasus itu dianggap sebagai bukti dari kebenaran pola pikir tadi. Selain bukti-bukti itu tadi, kemudian disosialisasikan anggota-anggota beserta bukti-bukti pendukungnya, itu akan tetap dipercaya," lanjutnya.

Beragam fenomena budaya bersifat magi dalam budaya populer ini akan dibahas dalam Fokus edisi Juni 2021: Panik Kultus Horor Budaya Pop.

Kisah yang ditampilkan dalam seri artikel Fokus ini tidak bermaksud mengunggulkan konspirasi maupun membenarkan asumsi tertentu, melainkan hanya mengulas balik fenomena yang pernah terjadi dan melihatnya dari sudut pandang yang lebih saintifik.

Terlepas dari penilaian benar-salah soal beragam anggapan atas sesuatu yang jadi fenomena horor di tengah masyarakat, fakta bahwa sebuah kejadian jadi pergunjingan juga legenda adalah bukti bahwasanya selalu ada ruang pembahasan dan perhatian dari masyarakat terkait hal di luar nalar.

(end/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK