Review Film: Ghostbusters Afterlife

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Sabtu, 04 Dec 2021 19:00 WIB
Review Ghostbusters: Afterlife menilai film sekuel versi dekade '80-an ini memang dibuat untuk penggemar Ghostbusters. Review Ghostbusters: Afterlife menilai film sekuel versi dekade '80-an ini memang dibuat untuk penggemar Ghostbusters. (dok. Columbia Pictures/BRON Studios/Ghostcorps/Sony Pictures Entertainment/The Montecito Picture Company/CTMG via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anda harus benar-benar seorang penggemar Ghostbusters untuk bisa menyelam dan menikmati arus dari Ghostbusters: Afterlife selama 125 menit di bioskop.

Bila Anda bukan seorang penggemar, apalagi belum pernah menyaksikan film Ghostbusters I pada 1984 dan sekuelnya pada 1989, percayalah Anda hanya akan mengambang-ambang dan merasa film ini 'garing'.

Sutradara Ghostbusters Afterlife, Jason Reitman, sempat mengibaratkan film ini sebagai menu andalan keluarga. Pengibaratan itu tidaklah salah mengingat ayahnya, Ivan Reitman, adalah sutradara juga penulis dari Ghostbusters I (1984) dan II (1989).


Selayaknya ketika sebuah acara keluarga besar diadakan, akan ada perbincangan atau menu makanan yang hanya diketahui juga dirindukan oleh mereka yang tergabung di dalamnya.

Bila Anda, bukan bagian dari keluarga itu atau baru akan berkenalan dengan mereka, jelas masuk dalam acara tersebut akan terasa amat canggung. Itulah yang terjadi dengan Ghostbusters: Afterlife.

Jelas film ini adalah sebuah reuni keluarga besar (baca: penggemar Ghostbusters) yang dirindukan. Rindu akan hal-hal akrab yang sudah diketahui dan terasa hangat saat dibahas kembali, atau beragam inside jokes yang bertebaran di sana-sini.

Apakah itu hal yang salah? Tidak. Tujuan Jason Reitman rasanya sudah jelas ketika mengungkapkan cara membangkitkan kembali Ghostbusters yang telah mati suri selama 32 tahun.

"Apa yang kami inginkan adalah membuat sebuah pengalaman nostalgia secara utuh, sesuatu yang membuat penonton kembali ke seperti apa rasanya melihat film asli pada 1984," kata Reitman dalam catatan produksi film ini.

"Jadi, kami menggunakan semua jenis teknik yang digunakan ayah saya dan krunya pada tahun '84. Ini mestinya terasa seperti sebuah resep keluarga lama, ya karena memang seperti itu." lanjutnya.

Saya pun harus mengatakan bahwa re-cook yang dilakukan Jason bisa dibilang berhasil. Memang tidak mungkin terasa sama persis, namun tujuan nostalgia itu bisa saya rasakan, dan juga mereka yang mengikuti Ghostbusters.

Hal itu jelas terasa dari berbagai elemen film 1984, dan sebagian film 1989, yang digunakan Jason Reitman dalam Afterlife.

Review Ghostbusters: Afterlife lanjut ke sebelah..

Review Film: Ghostbusters Afterlife

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER