Konser Pascapandemi Kok Banyak yang Kacau, Promotor Tidak Siap?
far, frl | CNN Indonesia
Minggu, 16 Okt 2022 11:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Beberapa daerah di Indonesia banjir konser dalam beberapa bulan terakhir tepat pascapandemi, tapi sebagian pun banjir keluhan dari penonton. (iStock/dannikonov)
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa daerah di Indonesia hanya dalam beberapa bulan terakhir sudah kebanjiran banyak konser dan festival musik, baik skala lokal maupun internasional.
Keriuhan konser itu ditandai beberapa acara konser dan festival musik hanya berselang sepekan atau bahkan berlangsung dalam periode yang sama, seperti Pestapora 2002 dan We The Fest 2022.
Para penonton pun seolah-olah dibanjiri dengan berbagai jadwal konser, yang sudah pasti menggoda keinginan banyak masyarakat untuk merogoh kocek yang tak sedikit. Meski begitu, konser pun tetap ramai didatangi penonton.
"Yang saya lihat, tentu itu adalah bentuk euforia dari dampak pascapandemi, saat para penikmat festival itu terkungkung selama sekitar 2,5 tahun," kata pengamat musik Wendi Putranto saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Bagi saya, pertunjukan musik, terutama bagi orang Jakarta dan penduduk kota metropolitan lain di Indonesia, bukan lagi soal kebutuhan primer atau sekunder. Itu sudah menjadi kebutuhan intangible," kata Wendi.
Para festival itu pun bukan hanya pemain lama seperti WTF atau Synchronize Fest, tetapi juga pemain baru seperti Pestapora. Sehingga, bisnis industri konser musik tampak begitu amat bergairah.
Akan tetapi, keriuhan dan gairah geliat konser musik di Indonesia tercoreng dengan sejumlah keributan bahkan hingga menjadi pembahasan di media sosial.
Penggemar grup asal Korea, SEVENTEEN, mengamuk kepada promotor Mecimapro terkait pelaksanaan konser Be The Sun Jakarta, beberapa waktu lalu. (Getty Images/Emma McIntyre)
Misalnya, ketika penggemar grup asal Korea, SEVENTEEN, yang mengamuk kepada promotor Mecimapro terkait pelaksanaan konser Be The Sun Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, Mecimapro pun menuai banyak kritikan dari penggemar Super Junior, ELF, saat idola mereka konser sebelum keriuhan penggemar SEVENTEEN.
Selain penggemar Kpop, para fan Westlife juga misuh-misuh karena konser idola mereka di Yogyakarta berlangsung dalam gelap karena hujan. Akibatnya, promotor Rajawali Indonesia memutuskan mengganti uang pembelian tiket para penonton.
Itu baru konser dengan skala internasional. Beberapa video keluhan para penonton festival-festival musik lokal di daerah juga seliweran di TikTok. Misalnya ketika pengunjung Playlist Festival di Bandung mengeluhkan macet hingga venue yang becek.
Untuk alasan cuaca yang disebut menjadi dalang kekacauan konser di Indonesia beberapa waktu terakhir, Wendi menilai tata letak panggung dan segala risikonya seharusnya sudah diterangkan kepada pihak manajemen artis.
"Kan itu panggungnya tanpa atap, yang mana kalau hujan akan berbahaya untuk urusan kelistrikan juga. Nah itu seharusnya bisa diantisipasi sebelumnya," kata Wendi.
Sehingga yang menjadi pertanyaan adalah, apakah promotor Indonesia belum siap menghadapi banjir euforia akan konser pascapandemi?
Terkait hal itu, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI), Dino Hamid dalam kesempatan terpisah mengakui bahwa ada kekagetan dari para pelaku industri pertunjukan musik dalam menjemput antusiasme masyarakat.
"Karena kan dulu timnya mungkin udah ada yang enggak terlibat lagi di industri ini. Bisa jadi juga kondisi lapangannya berubah karena sekarang harus lebih taat prokes. Dari pembiayaan mungkin juga sekarang ada peningkatan, ada banyak faktor," kata Dino Hamid.
"Jadi mungkin kalau bicara faktor, kondisi saya sih ada kagoknya. Kagoknya, wah setelah dua tahun berhenti, kita buat acara yang ribuan (penonton)," lanjutnya.
Dino menyoroti satu hal dalam konser yang bila tidak berjalan beriringan, bisa menimbulkan masalah seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir, yaitu kemampuan promotor dan penonton dalam mengelola ekspektasi.
Ketika keinginan penonton tak bisa diakomodir dengan baik oleh promotor, tentu akan menimbulkan komplain. Namun ketika penonton juga terlalu berekspektasi tinggi, kekecewaan jadi hal yang niscaya terjadi.
Lanjut ke sebelah...
Meski begitu, melihat banyak pula konser yang sukses dalam periode 'banjir' konser ini, Dino optimis jika bisnis pertunjukan di Indonesia sudah kembali menemukan titik terang di era pascapandemi.
"Kan banyak yang sukses tuh kemarin. Synchronize sukses, Pestapora sukses, saya sendiri kemarin waktu Noah Decade Experience juga alhamdulillah sukses," kata Dino.
"Kayaknya success story-nya oke-oke semua. Jadi menurut saya kalau pun ada case-case kayak tadi, itu sifatnya force majeure sih, bukan satu hal yang memang dikarenakan kondisi post-pandemi," lanjutnya.
Di sisi lain, akademisi Manajemen Konser dan Festival Universitas Pelita Harapan (UPH), Yosie Revie Pongo menilai kekacauan konser yang terjadi beberapa waktu terakhir tak lepas dari sejumlah promotor yang 'aji mumpung'.
Menurut Revie, sejumlah promotor memang memanfaatkan momentum dahaga pertunjukan musik yang dirasakan publik tapi tidak diiringi dengan prinsip awal dihelatnya sebuah pertunjukan, yakni kenyamanan penonton.
"Karena dalam sebuah konser atau festival itu kan produknya bukan hanya penampilan si artisnya saja," kata Revie.
"Tapi pengalaman penuh mulai dari proses pembelian tiket, itu sudah menjadi sebuah bentuk keseluruhan dari sebuah konser. Jadi promotor harus melihat kalau mereka menjual suatu pengalaman penuh itu," lanjutnya.
"Nah ketika penonton itu enggak puas dengan banyak hal, hingga sekali, dua kali, tiga, sampai empat kali lama-lama kan kepercayaan itu hilang," kata Revie.
Apalagi, kata Revie, bila promotor menyalahgunakan relasi kuasa yang terjadi antara mereka dengan penonton. Penonton, apalagi mereka yang fanatik, tak akan sungkan menghadapi berbagai hal yang tak nyaman demi bertemu idolanya.
"Jadi menurut saya, pihak promotor juga harus memperhatikan hal-hal itu. Walaupun notabene, fans itu lemah sekali karena mereka dianggap membutuhkan konser itu," jelas Revie.
Seperti yang disebut Revie, sejumlah penggemar memang rela menempuh berbagai hal yang tak nyaman demi bertemu idola mereka. Mereka pun tak kapok bila harus berjibaku hanya demi melihat sang idola.
"Buat aku sih enggak kapok. Karena kalau udah mengalami kayak gitu, jadi lebih berani buat protes sebelum hari H konser atau waktu hari H," kata Hapsari yang merupakan penonton konser dan kerap ikut perang tiket untuk bisa menonton konser.
Begitu pula dengan Almira, penonton konser yang harus menerima kekalahan tak mendapatkan tiket konser Justin Bieber yang jadi idolanya. Meski kemudian konser itu dibatalkan, Almira tak merasa repot bila harus berperang dalam merebut tiket.
Penggemar mengakui mereka kerap mendapatkan pengalaman tak nyaman dalam konser, mulai dari penukaran tiket hingga saat konser berlangsung. Mereka pun hanya ingin satu hal dari promotor, kenyamanan melihat idola.: (CNNIndonesia/Adi Ibrahim)
Kedua penggemar ini pun mengakui mereka kerap mendapatkan pengalaman tak nyaman dalam konser, mulai dari penukaran tiket hingga saat konser berlangsung. Mereka pun hanya ingin satu hal dari promotor, kenyamanan melihat idola.
"Intinya sebenarnya kejelasan aja sih. Mulai dari kejelasan line upnya seperti apa, open gate jam berapa, kalau reschedule juga h-1 bulan atau jauh-jauh hari banget ngabarinnya," kata Almira.
"Sama buat promotor, tolonglah bikin banyak plan misal cuaca ini hujan dan lain-lain, perlu perencanaan sebanyak mungkin biar konser berjalan lancar. Biar penonton enggak kecewa juga, sudah bayar tapi tidak sesuai ekspektasi," lanjutnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa daerah di Indonesia hanya dalam beberapa bulan terakhir sudah kebanjiran banyak konser dan festival musik, baik skala lokal maupun internasional.
Keriuhan konser itu ditandai beberapa acara konser dan festival musik hanya berselang sepekan atau bahkan berlangsung dalam periode yang sama, seperti Pestapora 2002 dan We The Fest 2022.
Para penonton pun seolah-olah dibanjiri dengan berbagai jadwal konser, yang sudah pasti menggoda keinginan banyak masyarakat untuk merogoh kocek yang tak sedikit. Meski begitu, konser pun tetap ramai didatangi penonton.
"Yang saya lihat, tentu itu adalah bentuk euforia dari dampak pascapandemi, saat para penikmat festival itu terkungkung selama sekitar 2,5 tahun," kata pengamat musik Wendi Putranto saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Bagi saya, pertunjukan musik, terutama bagi orang Jakarta dan penduduk kota metropolitan lain di Indonesia, bukan lagi soal kebutuhan primer atau sekunder. Itu sudah menjadi kebutuhan intangible," kata Wendi.
Para festival itu pun bukan hanya pemain lama seperti WTF atau Synchronize Fest, tetapi juga pemain baru seperti Pestapora. Sehingga, bisnis industri konser musik tampak begitu amat bergairah.
Akan tetapi, keriuhan dan gairah geliat konser musik di Indonesia tercoreng dengan sejumlah keributan bahkan hingga menjadi pembahasan di media sosial.
Penggemar grup asal Korea, SEVENTEEN, mengamuk kepada promotor Mecimapro terkait pelaksanaan konser Be The Sun Jakarta, beberapa waktu lalu. (Getty Images/Emma McIntyre)
Misalnya, ketika penggemar grup asal Korea, SEVENTEEN, yang mengamuk kepada promotor Mecimapro terkait pelaksanaan konser Be The Sun Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, Mecimapro pun menuai banyak kritikan dari penggemar Super Junior, ELF, saat idola mereka konser sebelum keriuhan penggemar SEVENTEEN.
Selain penggemar Kpop, para fan Westlife juga misuh-misuh karena konser idola mereka di Yogyakarta berlangsung dalam gelap karena hujan. Akibatnya, promotor Rajawali Indonesia memutuskan mengganti uang pembelian tiket para penonton.
Itu baru konser dengan skala internasional. Beberapa video keluhan para penonton festival-festival musik lokal di daerah juga seliweran di TikTok. Misalnya ketika pengunjung Playlist Festival di Bandung mengeluhkan macet hingga venue yang becek.
Untuk alasan cuaca yang disebut menjadi dalang kekacauan konser di Indonesia beberapa waktu terakhir, Wendi menilai tata letak panggung dan segala risikonya seharusnya sudah diterangkan kepada pihak manajemen artis.
"Kan itu panggungnya tanpa atap, yang mana kalau hujan akan berbahaya untuk urusan kelistrikan juga. Nah itu seharusnya bisa diantisipasi sebelumnya," kata Wendi.
Sehingga yang menjadi pertanyaan adalah, apakah promotor Indonesia belum siap menghadapi banjir euforia akan konser pascapandemi?
Terkait hal itu, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI), Dino Hamid dalam kesempatan terpisah mengakui bahwa ada kekagetan dari para pelaku industri pertunjukan musik dalam menjemput antusiasme masyarakat.
"Karena kan dulu timnya mungkin udah ada yang enggak terlibat lagi di industri ini. Bisa jadi juga kondisi lapangannya berubah karena sekarang harus lebih taat prokes. Dari pembiayaan mungkin juga sekarang ada peningkatan, ada banyak faktor," kata Dino Hamid.
"Jadi mungkin kalau bicara faktor, kondisi saya sih ada kagoknya. Kagoknya, wah setelah dua tahun berhenti, kita buat acara yang ribuan (penonton)," lanjutnya.
Dino menyoroti satu hal dalam konser yang bila tidak berjalan beriringan, bisa menimbulkan masalah seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir, yaitu kemampuan promotor dan penonton dalam mengelola ekspektasi.
Ketika keinginan penonton tak bisa diakomodir dengan baik oleh promotor, tentu akan menimbulkan komplain. Namun ketika penonton juga terlalu berekspektasi tinggi, kekecewaan jadi hal yang niscaya terjadi.
Lanjut ke sebelah...
Aji Mumpung
Beberapa daerah di Indonesia banjir konser dalam beberapa bulan terakhir tepat pascapandemi, tapi sebagian pun banjir keluhan dari penonton. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Meski begitu, melihat banyak pula konser yang sukses dalam periode 'banjir' konser ini, Dino optimis jika bisnis pertunjukan di Indonesia sudah kembali menemukan titik terang di era pascapandemi.
"Kan banyak yang sukses tuh kemarin. Synchronize sukses, Pestapora sukses, saya sendiri kemarin waktu Noah Decade Experience juga alhamdulillah sukses," kata Dino.
"Kayaknya success story-nya oke-oke semua. Jadi menurut saya kalau pun ada case-case kayak tadi, itu sifatnya force majeure sih, bukan satu hal yang memang dikarenakan kondisi post-pandemi," lanjutnya.
Di sisi lain, akademisi Manajemen Konser dan Festival Universitas Pelita Harapan (UPH), Yosie Revie Pongo menilai kekacauan konser yang terjadi beberapa waktu terakhir tak lepas dari sejumlah promotor yang 'aji mumpung'.
Menurut Revie, sejumlah promotor memang memanfaatkan momentum dahaga pertunjukan musik yang dirasakan publik tapi tidak diiringi dengan prinsip awal dihelatnya sebuah pertunjukan, yakni kenyamanan penonton.
"Karena dalam sebuah konser atau festival itu kan produknya bukan hanya penampilan si artisnya saja," kata Revie.
"Tapi pengalaman penuh mulai dari proses pembelian tiket, itu sudah menjadi sebuah bentuk keseluruhan dari sebuah konser. Jadi promotor harus melihat kalau mereka menjual suatu pengalaman penuh itu," lanjutnya.
"Nah ketika penonton itu enggak puas dengan banyak hal, hingga sekali, dua kali, tiga, sampai empat kali lama-lama kan kepercayaan itu hilang," kata Revie.
Apalagi, kata Revie, bila promotor menyalahgunakan relasi kuasa yang terjadi antara mereka dengan penonton. Penonton, apalagi mereka yang fanatik, tak akan sungkan menghadapi berbagai hal yang tak nyaman demi bertemu idolanya.
"Jadi menurut saya, pihak promotor juga harus memperhatikan hal-hal itu. Walaupun notabene, fans itu lemah sekali karena mereka dianggap membutuhkan konser itu," jelas Revie.
Seperti yang disebut Revie, sejumlah penggemar memang rela menempuh berbagai hal yang tak nyaman demi bertemu idola mereka. Mereka pun tak kapok bila harus berjibaku hanya demi melihat sang idola.
"Buat aku sih enggak kapok. Karena kalau udah mengalami kayak gitu, jadi lebih berani buat protes sebelum hari H konser atau waktu hari H," kata Hapsari yang merupakan penonton konser dan kerap ikut perang tiket untuk bisa menonton konser.
Begitu pula dengan Almira, penonton konser yang harus menerima kekalahan tak mendapatkan tiket konser Justin Bieber yang jadi idolanya. Meski kemudian konser itu dibatalkan, Almira tak merasa repot bila harus berperang dalam merebut tiket.
Penggemar mengakui mereka kerap mendapatkan pengalaman tak nyaman dalam konser, mulai dari penukaran tiket hingga saat konser berlangsung. Mereka pun hanya ingin satu hal dari promotor, kenyamanan melihat idola.: (CNNIndonesia/Adi Ibrahim)
Kedua penggemar ini pun mengakui mereka kerap mendapatkan pengalaman tak nyaman dalam konser, mulai dari penukaran tiket hingga saat konser berlangsung. Mereka pun hanya ingin satu hal dari promotor, kenyamanan melihat idola.
"Intinya sebenarnya kejelasan aja sih. Mulai dari kejelasan line upnya seperti apa, open gate jam berapa, kalau reschedule juga h-1 bulan atau jauh-jauh hari banget ngabarinnya," kata Almira.
"Sama buat promotor, tolonglah bikin banyak plan misal cuaca ini hujan dan lain-lain, perlu perencanaan sebanyak mungkin biar konser berjalan lancar. Biar penonton enggak kecewa juga, sudah bayar tapi tidak sesuai ekspektasi," lanjutnya.