Kutukan Sumber Daya

Minyak Berlimpah Tapi Tetap Sengsara

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Rabu, 10/09/2014 15:58 WIB
Minyak Berlimpah Tapi Tetap Sengsara Nigeria negara kaya minyak, namun 91 juta warga negaranya masih mengais makanan.
Jakarta, CNN Indonesia -- Negara-negara Afrika terkenal punya cadangan minyak berlimpah, namun kekayaan alam ini tidak ternyata tidak bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan warganya, bahkan masih banyak orang yang kelaparan, ibarat tikus mati di lumbung padi.

Contohnya Nigeria, salah satu di antara pengekspor minyak di dunia dan produsen terbesar yang ada di Afrika.

Minyak berkontribusi sebesar 90 persen dari jumlah ekspor negara ini secara keseluruhan, sekaligus 80 persen dari jumlah pemasukan negara.


Namun, menurut data Kementerian Agrikultur Nigeria, 91 juta warga negara, yang mewakili 65 persen jumlah populasi tidak terjamin pasokan pangannya, alias masih mengais makanan.

Joseph E. Stiglitz, Professor di Columbia University peraih Nobel bidang ekonomi, mengatakan bahwa rata-rata negara kaya sumber daya malah berkembang lebih lambat dan terjadi kesenjangan yang besar antar rakyat, atau yang dikenal dengan nama "kutukan sumber daya".

Menurut Joseph dalam sebuah tulisannya di Slate.com, ada tiga alasan mengapa hal ini terjadi.

Pertama biasanya negara kaya sumber daya punya nilai mata uang yang tinggi, berimbas pada ekspor barang lain.

Kedua, pengelolaan sumber daya biasanya hanya menarik sedikit tenaga kerja, tidak berdampak banyak dalam mengatasi angka pengangguran.

Ketiga, harga sumber daya yang fluktuatif menyebabkan pertumbuhan ekonomi tidak stabil, kadang berbanding terbalik dengan saat menerima pinjaman dari bank internasional, menyebabkan sulit saat pembayaran.

"Disfungsi politik juga memperparah masalah, seiring munculnya konflik soal akses kepemilikan sumber daya, memicu korupsi dan pemerintahan yang tidak demokratis," kata Joseph.

Hal serupa sebenarnya terjadi juga di Indonesia.

Tirta Mursitama, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, kutukan sumber daya di negara ini terjadi karena salah urus.

"Seperti di Indonesia saja, ada isu-isu seperti tambang emas, minyak, tembaga yang lebih banyak dimanfaatkan oleh asing. Saya rasa masalah seperti itu dapat terjadi di mana-mana, termasuk di Afrika," kata Tirta pada CNN Indonesia.

Selain kesalahan dalam mengatur sumber daya, penyebab lain kemiskinan di negara kaya sumber daya adalah konflik yang berkecamuk.

Salah satunya di daerah Mingkaman, Sudan Selatan, tempat terjadi perang saudara yang membuat 90.000 warganya terpaksa mengungsi dan rentan kelaparan.

Menurut PBB, sekitar 4 juta orang -- lebih dari sepertiga populasi Sudan Selatan mengalami ancaman kekurangan pangan. Sekitar dua juta anak kekurangan gizi dan lembaga dunia ini juga sudah memperingatkan bahaya kematian yang mengancam 50.000 anak jika bantuan tidak ditambah.

Produksi minyak mentah, pemasukan terbesar negara ini, turun sepertiga bagian menjadi 160 ribu barel per hari semenjak konflik meletus.

Pemasukan itu bukan dialokasikan untuk kesejahteraan, melainkan untuk membeli senjata.

"Embargo senjata benar-benar dibutuhkan untuk menahan pasokan persenjataan untuk orang-orang dan kelompok di semua pihak yang telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan serta untuk melindungi warga sipil yang terancam bahaya," kata organisasi Amnesti Internasional dalam pernyataan (3/9).

Pertempuran terjadi di Sudan Selatan Desember tahun lalu ketika Presiden Salva Kiir menuduh wakil presidennya Riek Machar dan pejabat pemerintahan senior lain merencanakan kudeta.