Kolumnis Tidak Terdaftar

Krisis Pangan

Komunitas Tani, Solusi Atasi Kelaparan Dunia

Kolumnis Tidak Terdaftar, CNN Indonesia | Rabu, 10/09/2014 16:23 WIB
Komunitas Tani, Solusi Atasi Kelaparan Dunia PBB melaporkan sekitar 98 persen kasus kelaparan di dunia terjadi di negara berkembang.
, CNN Indonesia -- Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa sekitar 98 persen kasus kelaparan di dunia terjadi di negara berkembang, dan keadaan ini mungkin akan semakin parah karena dalam 12 tahun ke depan, populasi dunia bisa mencapai 8 juta orang.

Bencana kelaparan dapat diatasi dengan menyasar para produsen pangan. Heifer Internasional, misalnya, bekerjasama dengan komunitas petani kecil selama hampir 70 tahun untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan surplus pangan untul dijual atau diberikan pada penderita kelaparan.

Selain itu, pemberdayaan petani perempuan harus ditingkatkan. Berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Agrikultur PBB (FAO), sekitar 300 juta peternak dan petani kecil di dunia adalah petani perempuan yang sering menghasilkan lebih sedikit makanan ketimbang petani laki-laki.


Petani perempuan sulit mendapatkan bibit unggul karena biasanya memiliki lahan sawah dan hewan ternak yang lebih sedikit. Selain itu, mereka juga mempunyai tingkat pendidikan yang lebih rendah dan sulit mendapatkan pinjaman atau asuransi.

Sebenarnya, jika petani perempuan memiliki hak yang sama dengan petani laki-laki, FAO mengatakan, jumlah orang kelaparan di dunia dapat berkurang sampai dengan 17 persen.

Penyetaraan hak petani pria dan perempuan dapat dilakukan dengan menghubungkan antar petani, membentuk komunitas petani, menghubungkan mereka pada rantai pasokan, dan pada pasar.

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah peningkatan asupan hewan ternak dan agrikultur lain seperti kambing, sapi, bibit, atau pohon.

Jika peningkatan produk pangan telah tercapai, komunitas petani dapat menjadi wadah kerja sama untuk membentuk sistem peningkatan kesejahteraan dengan menyalurkan produk tani ke pasaran.

Jika transformasi petani ini dapat terbentuk, baik petani pria maupun wanita dapat memiliki rasa kemandirian dan kepercayaan diri yang lebih baik.

Dampak yang besar akan terjadi jika petani merasa bangga atas produksi pangan yang mereka lakukan tanpa ada perasaan tertekan, tidak dihargai, dan tidak penting.

Program transformasi petani yang dapat menjadi contoh adalah program Wirausaha Pedesaan untuk Kerjasama Agrikultur oleh Heifer International di Haiti, yang berkomitmen untuk membangun ulang komunitas di pedesaan dan meningkatkan kesempatan ekonomi.

Komunitas tani harus segera dikembangkan dengan tepat sehingga petani kecil yang ada saat ini dapat mencukupi kebutuhannya dan dan bersiap untuk memproduksi pangan dalam menghadapi perkembangan populasi yang sangat cepat.

Hanya dengan cara itulah kelaparan dunia dapat kita atasi.

Pierre Ferrari adalah Presiden Direktur 'Heifer International', organisasi yang berdedikasi untuk mengakhiri kelaparan dan kemiskinan melalui pelatihan agrikultur dan sumbangan hewan ternak.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS