Perdagangan Ilegal

Perdagangan Satwa Masih Terjadi

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 03/10/2014 09:48 WIB
Perdagangan Satwa Masih Terjadi Seekor monyet direlokasi setelah dieksploitasi untuk atraksi Topeng Monyet. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Saat ini dunia mengalami lonjakan perburuan satwa liar. Perburuan untuk perdagangan ilegal dikhawatirkan akan menggagalkan konsep pelestarian hewan yang sudah dilaksanakan sejak satu dekade lalu.

Kegiatan tersebut dilarang oleh hukum karena para pelaku mengambil satwa di alam liar tanpa izin dan tidak mampu melestarikan sehingga banyak satwa yang punah.

Perdagangan satwa dikerjakan oleh jaringan internasional dan sama bahayanya seperti perdagangan obat terlarang dan senjata.

Cula badak, gading gajah dan kulit harimau yang jadi incaran, terutama di Asia. 

Belum lagi masyarakat daerah yang kerap menjagal hewan untuk tradisi upacara tahunan seperti perburuan lumba-lumba di Taiji, Jepang.

Di Vietnam, bahkan ada mitos yang mengatakan bahwa cula badak dapat menyembuhkan kanker sehingga menyebabkan perburuan besar-besaran di Afrika Selatan serta mendorong harga cula badak bersaing dengan emas..

Beberapa tempat menjadi lokasi favorit jual beli satwa liar, di antaranya; perbatasan Cina, Timur Tengah, Afrika Selatan, Asia Tenggara, perbatasan timur Uni Eropa, Meksiko, Karibia, Indonesia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.

Situs Havocsvope menulis beberapa harga satwa yang diperdagangkan di pasar gelap, antara lain; gajah US$28,200, gorila US$400,000, komodo US$30,000, orangutan US$45,000 dan harimau U$50,000.

Pada awal 1990-an, kelompok pemantau perdagangan ilegal (TRAFFIC) memperkirakan nilai perdagangan satwa liar sekitar US$160 miliar. 

Tahun 2009, nilai estimasi impor globalnya lebih dari US$323 miliar. 

TRAFFIC memperkirakan perdagangan resmi produk satwa liar ke dalam Uni Eropa saja sudah bernilai sekitar €93 miliar pada tahun 2005, dan meningkat menjadi hampir €100 miliar pada tahun 2009. 

Tahun 2011, 23 ton gading dari 2.500 gajah disita dalam 13 kasus perdagangan ilegal. Di tahun yang sama, 3.200 kasus perburuan liar juga mengancam kehidupan harimau.

Berbagai antisipasi telah dilakukan oleh banyak negara untuk mencegah perburuan dan perdagangan hewan ilegal.

Reuters menulis, pemerintah Amerika Serikat sejak tahun 2011 menjalankan perjanjian anti-perdagangan ilegal dengan Afrika Barat, Kolombia, Brasil, Inggris, prancis, Spanyol, Jerman dan Portugal.

Dalam program seharga US$100 juta itu, para aparat akan sama-sama menginformasikan apabila ada transaksi yang mencurigakan dalam hal senjata, obat terlarang hingga perdagangan hewan. 

Sedangkan Kenya juga berencana menggunakan pesawat tanpa awak untuk membantu memerangi pemburu gajah dan badak.