Penelitian yang dilakukan oleh Chinese University of Hong Kong ini menunjukkan 67,4 person dari responden meminta para pengunjuk rasa untuk segera bubar.
Sementara dukungan masyarakat terhadap aksi mahasiswa ini juga turun dengan 43,5 persen menyatakan tidak lagi mendukung, dan hanya 33,9 persen yang masih menyatakan mendukungnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 40 persen responden merasa reaksi pemerintah tidak cukup dan hampir setengahnya berpendapat pemerintah harus memberi konsesi.
Hasil jajak pendapat ini dipublikasikan setelah para pengunjuk rasa mendapat surat yang memerintahkan mereka untuk segera mengosongkan daerah Admiralty.
Surat ini memberi polisi Hong Kong kewenangan untuk membersihkan blokade-blokade yang dipasang sewaktu-waktu yang juga sejalan dengan keputusan pengadilan yang memerintahkan penghentian aksi demonstrasi.
Para pengunjuk rasa menuntut pencalonan terbuka dalam pemilihan kepala pemerintahan Hong Kong yang akan dilaksanakan pada 2017.
Beijing menegaskan hanya akan mengijinkan penyelenggaraan pemilu tahun itu dengan kandidat yang telah diseleksi sebelumnya.
Aksi unjuk rasa, yang pada puncaknya diikuti oleh 100 ribu orang, kini berkurang jauh hingga hanya diikuti oleh ratusan mahasiwa yang tinggal di tenda warna warni di perempatan-perempatan jalan utama di wilayah itu.
Sementara itu pada Senin (17/11), Tiongkok dan Hong Kong meluncurkan skema Stock Connect yang mengijinkan investor indvidiu dari negara lain dan juga Tiongkok bermain di bursa saham Hong Kong dan Shanghai.
Tidak ada protes di bursa Hong Kong terhadap skema yang akan meningkatkan hubungan finansial wilayah itu dengan Tiongkok daratan.