Benyettou, 32 tahun, dilaporkan bertemu dengan Kouachi bersaudara di awal dekade 2000-an ketika dia bekerja untuk Filiere des Buttes Chaumont, sebuah kelompok ekstremis yang membantu menyalurkan pejuang dari Perancis ke Irak.
Seperti dilaporkan media Perancis Le Parisien, Benyettou dahulu dikenal kerap memberikan khotbah radikal di masjid Adda'wa di Paris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat serangan di kantor Charlie Hebdo berlangsung, Benyettou tidak sedang bertugas. Namun, Benyettou bertugas di rumah sakit tersebut pada Jumat (9/1) dan Sabtu (10/1) malam.
Rekan sesama perawat di rumah sakit yang tampaknya tidak tahu tentang masa lalu Benyettou menggambarkan dia sebagai "seorang siswa magang yang rajin dan bijaksana".
"Mustahil untuk membayangkan bahwa orang ini, yang kata semua orang merupakan salah satu mentor utama dari Kouachi bersaudara, mungkin merawat salah satu korban dari anak didik radikalnya," kata seorang dokter di rumah sakit tersebut, yang tak mau disebutkan namanya, seperti ditulis Al-Arabiya, Senin (12/1).
"Aku tidak bisa membayangkan bahwa rumah sakit itu tidak menyadari masa lalu Benyettou," ujar dokter tersebut.
Setahun lebih tua dari Cherif Kouachi, Farid Benyettou adalah penganut Islam taat dan sering menjadi mentor bagi beberapa anak muda serta mulai populer di beberapa masjid di wilayah imigran di Paris.
Bersama Farid Benyettou, Cherif mulai menghadiri kelas-kelas agama. Ia mulai menonton video-video soal Jihad dan mulai menumbuhkan janggutnya.
Dalam kesaksiannya di pengadilan pada 2008, Cherif mengaku Farid Benyettou telah mengajarkan bahwa pelaku bom bunuh diri bisa mati sebagai martir atau syahid.
Salah satu pekerja sosial yang diwawancarai France 3 mengingat bahwa, sementara di tahanan menunggu persidangan, Cherif mulai memahami bahwa ia telah dimanipulasi oleh Benyettou.
"Dia menyadari bahwa ia telah tertipu dan terjerat dalam sesuatu yang ia sendiri bahkan tidak dimengerti," kata Cherif. (ama/stu)