Karena Malu, Ayah Algojo ISIS Tak Mau Keluar Rumah

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 05/03/2015 13:01 WIB
Karena Malu, Ayah Algojo ISIS Tak Mau Keluar Rumah Jassem Emwazi mengatakan tidak ada bukti pasti bahwa Jihadi John adalah putranya, Mohammed Emwazi. (Reuters/SITE Intel Group)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berita terungkapnya identitas Jihadi John, algojo dengan logat Inggris kental yang kerap hadir dalam video pemenggalan ISIS, adalah Mohammed Emwazi telah beredar luas. Pemberitaan ini membuat ayah Mohammed, Jassem Emwazi, muak dan malu sehingga tak berani keluar rumah, bahkan untuk berdoa di masjid.

Dalam sebuah perbincangan melalui saluran telepon pada Senin (2/3) dengan rekannya, Abu Meshaal, Jassem menumpahkan emosinya.

Tujuan awal Jassem menghubungi Meshaal adalah untuk memberi kabar bahwa ia akan absen kerja sebagai penjaga toko di depo supermarket Cooperative di perbatasan Kuwait dan Irak.


"Ia berkata bahwa ia tidak bisa bekerja karena ia merasa sangat malu kepada orang lain. Ia duduk di rumah dan bahkan tidak bisa pergi ke masjid untuk berdoa karena ia malu terhadap anaknya. Ia tidak mau orang lain melihatnya, jadi ia berdoa di rumah," tutur Meshaal seperti dikutip Telegraph, Selasa (3/3).

Pembahasan kian mendalam ketika Jassem tiba-tiba membahas bahwa Mohammed adalah malapetaka bagi keluarganya.

"Ia sangat emosional dan menangis setiap saat. Ia berkata, 'Anak saya itu anjing, ia binatang, teroris.' Ia mengaku sudah berbicara kepadanya (Mohammed) untuk membujuknya kembali ke kehidupan pribadinya, tapi anaknya tidak mendengarkannya. Ia berkata, 'Persetan dengan anak saya,'" kata Meshaal melanjutkan ceritanya.

Menurut Meshaal, Jassem mengaku kepadanya bahwa ia sudah mengutuk Mohammed ketika putranya itu meminta restu untuk pergi berperang dalam jihad lewat telepon dari Turki pada 2013.

"Mohammed menelepon ayahnya dan berkata, 'Saya akan pergi ke Suriah untuk perang jihad. Tolong, tolong bebaskan saya dan maafkan saya atas segalanya.' Jassem berkata, 'Persetan! Saya harap kamu mati sebelum sampai ke Suriah.'" ucap Meshaal.

Kendati demikian, beberapa hari berselang, Jassem mengatakan tidak ada bukti pasti bahwa Jihadi John adalah putranya.

"Tidak ada yang membuktikan apa yang telah diberitakan di media, terutama melalui video dan potongan adegan, bahwa yang diduga adalah anak saya, Mohammed," ujar Jassem kepada harian Kuwait, al Qabas, seperti dikutip CNN, Kamis (5/3).

Jassem mengatakan bahwa berita yang beredar hanya rumor salah. Untuk mencegah terulangnya pemberitaan yang keliru, Jassem menyewa jasa pengacara asal Kuwait, Saken Al-Hashash.

Memberikan keterangan lebih lanjut kepada CNN, Al-Hashash mengatakan bahwa ia mewakili Jassem akan melayangkan tuntutan bagi siapapun yang mengklaim Emwazi adalah Jihadi John. Menurut, Al-Hashash, kliennya adalah korban fitnah.

Pengakuan ini bertolak belakang dengan keterangan istrinya, Ghania Emwazi, yang mengaku kepada penyidik bahwa ia langsung mengetahui Jihadi John adalah anaknya saat mendengar suaranya, walaupun wajahnya tertutupi balaclava.

Ghania langsung berteriak "itu putraku" saat dia melihat pria itu dalam rekaman video yang menampilkan James Foley, sesaat sebelum memenggal kepala wartawan asal Amerika Serikat tersebut. Namun, Ghania bungkam dan tidak melaporkannya pada aparat.

Diberitakan Telegraph, Senin (2/1), hal ini diketahui dalam interogasi penyidik di Kuwait terhadap Jassem dan saudara laki-laki Mohammed, Emqazi, sejak Minggu kemarin.

"Ibunya mengenali suaranya dan dia berteriak 'itu putraku' saat dia berbicara sebelum memenggal sandera pertamam AS. Saat video itu diputar lagi, ayahnya yakin bahwa itu anaknya," kata seorang penyidik.

Menurut kerabat Emwazi, Jassem marah sekaligus sedih atas apa yang terjadi pada putranya. "Saya menunggu hari demi hari untuk mendengar kematiannya," kata Jassem. (stu)