Referendum Yunani Hasilkan Penolakan atas Desakan Eropa

Denny Armandhanu/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 06/07/2015 06:57 WIB
Referendum Yunani Hasilkan Penolakan atas Desakan Eropa Ribuan rakyat Yunani turun ke jalan mengibarkan bendera dan memasang kembang api. (Reuters/Dimitris Michalakis)
Athena, CNN Indonesia -- Hasil referendum menunjukkan bahwa rakyat Yunani mengatakan "tidak", menolak persyaratan penghematan dari Uni Eropa, Bank Sentral Eropa dan IMF untuk dana talangan baru. Hasil ini disambut gegap gempita di Yunani, namun membuat pusing Eropa.

Diberitakan Reuters, Minggu (5/7), lebih dari 60 persen rakyat Yunani mendukung Perdana Menteri Alexis Tsipras yang mengatakan bahwa Eropa tidak bisa lagi "memeras" mereka. Hasil ini diharapkan mendorong Eropa memberikan dana talangan tanpa persyaratan yang memberatkan.

Sebelumnya Eropa dan IMF telah menyelamatkan Yunani dua kali dari krisis ekonomi sejak tahun 2011 dengan total pinjaman hingga 240 miliar euro.


"Kalian membuat keputusan yang berani. Mandat yang kalian berikan pada saya bukanlah mandat untuk berseteru dengan Eropa, tapi mandat untuk memperkuat posisi negosiasi demi solusi yang tepat," kata Tsipras.

Ribuan rakyat Yunani turun ke jalan mengibarkan bendera dan memasang kembang api. Dikhawatirkan akan terjadi aksi kekerasan. Kebanyakan mereka sudah jengah dengan penghematan dan pemotongan tunjangan pensiun yang disyaratkan oleh Troika -IMF, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Uni Eropa- demi utang baru.

"Pesan dari 'tidak' adalah bahwa kami tidak takut tekanan dari Eropa. Kami ingin hidup dengan adil dan bebas di Eropa," ujar seorang warga, Stathis Efthimiadis, 47.

Belum jelas apa respons Eropa menghadapi hasil referendum ini. Namun Yunani kini dihadapkan dalam risiko besar, yaitu bangkrutnya perbankan yang bisa memaksa mereka keluar dari euro dan kembali mencetak uang sendiri, drachma.

Tanpa pendanaan darurat dari ECB, bank-bank di Yunani akan kehabisan uang dalam hitungan hari. Jika demikian, pemerintah terpaksa mencetak uang baru untuk membayar tunjangan pensiun dan gaji. Namun nilai drachma diperkirakan akan terpuruk jauh terhadap euro.

Pemerintah Yunani bersikeras pilihan "tidak" terhadap langkah penghematan akan memperkuat posisi mereka dalam bernegosiasi dengan kreditor. Namun tidak demikian halnya dengan Eropa yang mengatakan bahwa Tsipras telah membawa Yunani ke gerbang kehancuran.

"Tsipras dan pemerintahnya membawa rakyat Yunani ke jalan pengabaian dan keputusasaan," ujar menteri perekonomian Jerman Sigmar Gabriel seraya menambahkan bahwa Yunani telah memotong jembatan dengan Eropa.

Menteri-menteri Eropa akan bertemu pekan ini untuk membicarakan hasil referendum tersebut. Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande rencananya akan bertemu Senin pagi ini.

Tsipras mengatakan bahwa Yunani akan kembali ke meja perundingan dengan posisi yang lebih kuat. ECB diperkirakan masih akan memberikan dana darurat untuk bank-bank di Yunani.

Referendum digelar atas seruan Tsipras delapan hari lalu setelah berbulan-bulan negosiasi tanpa hasil untuk meminta utang baru. Tujuh tahun sudah Yunani hidup dalam krisis, bergantung utang, menyebabkan satu dari empat warganya menanggur, perekonomian terpuruk.

Lima tahun terakhir, rakyat Yunani harus mengencangkan ikat pinggang karena utang baru berarti penghematan dan pemotongan gaji.

Tidak mampu meminjam uang di pasar modal, utang publik Yunani adalah salah satu yang terbesar di dunia. IMF memperingatkan pekan lalu Yunani butuh dana segar sebesar 50 miliar euro.

Survei menunjukkan kebanyakan rakyat Yunani ingin tetap ada di euro. Namun kebanyakan meragukan ancaman kehancuran dari Eropa. Mereka yakin utang bisa didapatkan tanpa harus menaikkan pajak dan menyunat dana pensiun yang disyaratkan kreditor.

"Saya sudah menganggur selama hampir empat tahun dan tetap mengatakan pada diri sendiri untuk bersabar. Tapi kami sudah muak dengan kerugian dan pengangguran," kata Eleni Deligainni, warga berusia 43 tahun. (den)