Dilaporkan Wall Street Journal, pangkalan drone itu rencananya akan dibangun di dekat markas ISIS di Libya, untuk membantu "memahami apa yang terjadi di wilayah tersebut," kata pejabat senior yang enggan disebutkan namanya, Ahad (12/7).
(Baca juga: Ancaman ISIS Melebar Hingga ke Afrika Utara)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semenjak ISIS memanfatkan kekosongan keamanan akibat konflik dua faksi yang berkecamuk di Libya, sejumlah kelompok militan dilaporkan berbaiat setia kepada ISIS, menajamkan eksistensi ISIS di negara ini.
(Baca juga: ISIS Berencana Invasi Eropa Melalui Libya)
Pemerintah AS hanya memiliki izin untuk menerbangkan drone di pangkalan itu, bersama dengan sejumlah personel militer.
(Baca juga: Maroko Bongkar Jaringan Militan ISIS)
Negara-negara Afrika Utara yang bersekutu dengan AS, seperti Mesir dan Tunisia, dinilai menjadi wilayah strategis untuk menerapkan rencana ini, karena berbatasan langsung dengan Libya.
Meski demikian, hingga kini belum ada pejabat pemerintah yang menyebutkan di negara mana saja rencana ini akan diterapkan.
Sejumlah pejabat militer AS menyatakan kepada Reuters bahwa pangkalan drone di negara-negara Afrika Utara dapat digunakan sebagai markas serangan udara terhadap ISIS di Libya. Pangkalan tersebut juga dapat menjadi titik peluncuran untuk misi operasi khusus melawan para militan. (ama/stu)