Sampah Makanan di Malaysia Setara 30 Kali Menara Petronas

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Kamis, 16/07/2015 12:18 WIB
Sampah Makanan di Malaysia Setara 30 Kali Menara Petronas Sejumlah pejabat Malaysia berpendapat negara itu harus memiliki peraturan untuk mengekang pemborosan makanan dan menyiapkan cara agar makanan yang tak termakan dapat diberikan ke orang yang membutuhkan. (Reuters/Anindito Mukherjee)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan ton makanan yang tidak termakan dan kemudian menjadi sampah yang menggunung di Malaysia setiap hari selama bulan suci Ramadan.

Lembaga milik pemerintah Malaysia, Pengelolaan Limbah Padat dan Korporasi Pembersihan Umum memperkirakan sekitar 270 ton makanan terbuang begitu saja selama bulan puasa. Padahal, jumlah tersebut cukup untuk memberi makan sekitar 180 juta orang.

Makanan sisa tersebut, jika ditumpuk, tingginya diperkirakan mencapai 30 kali tinggi Menara Kembar Petronas, yang sempat menjadi gedung tertinggi di dunia.


Pemborosan makanan selama Ramadan diperkirakan mencapai sekitar 30 ribu ton lebih banyak dari bulan lainnya. Ini merupakan fakta yang mengejutkan, karena sampah makanan diperkirakan lebih sedikit karena warga Muslim yang berpuasa tidak dapat makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Sejumlah pakar mengkritik perilaku boros dan berlebih-lebihan warga Malaysia ketika berbuka puasa. Ribuan sajian berbuka puasa tak termakan dan akhirnya terbuang sia-sia setiap hari.

"Hal yang sangat menyedihkan adalah kita kehilangan arti dan tujuan Ramadan yang sebenarnya. Bahwa kita harus belajar disiplin, dan kita gagal," kata Nadzim Johan dari Asosiasi Konsumen Muslim Malaysia, dikutip Channel News Asia, Kamis (16/7).

Nadzim menyalahkan hotel-hotel yang kerap menyajikan makanan yang berlebihan. Setiap berbuka puasa, hampir seluruh hotel di Malaysia menawarkan prasmanan dengan sajian puluhan hidangan lokal dan barat yang menggoda selera.

Restoran juga turut berperan dalam pemborosan makanan ini, karena mempersiapkan makanan yang berlebihan di saat bisnis sudah lambat di seluruh negeri.

Namun, ada beberapa pemilik restoran yang kini tengah menghindari pemborosan makanan.

"Kami tahu berapa banyak orang yang datang setiap hari. Kami akan mempersiapkan sesuai perkiraan jumlah tamu, sekitar 100 atau 200 porsi, jadi kami tidak membuang-buang makanan," kata Abdul Malek, manajer Restoran Fatima.

Sejumlah saran untuk menghentikan pemborosan makanan juga berdatangan. Dewan Kota Kuala Lumpur, misalnya, mengusulkan tumpukan makanan dijadikan kompos.

Meski demikian, sejumlah pejabat lain berpendapat Malaysia harus memiliki peraturan untuk mengekang pemborosan makanan dan menyiapkan cara agar makanan yang tak termakan dapat diberikan ke orang yang membutuhkan.
(ama/stu)