Perkelahian Geng di Malaysia, Sejumlah Wartawan Terluka

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Rabu, 15/07/2015 01:51 WIB
Perkelahian Geng di Malaysia, Sejumlah Wartawan Terluka Perkelahian berbau rasisme dipicu oleh penangkapan seorang pemuda yang mencuri di sebuah toko yang menjual ponsel di Low Yat Plaza. (Ilustrasi/Thinkstock/Brian Jackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah wartawan dan karyawan bar terluka akibat sebuah perkelahian antara pemuda di Bukit Bintang, deket Low Yat Plaza akhir pekan lalu.

Dilaporkan The Malaysian Insider, perkelahian tersebut dipicu oleh penangkapan seorang pemuda yang mencuri di sebuah toko yang menjual ponsel di Low Yat Plaza. Awalnya, pemuda yang tidak disebutkan namanya, terlihat hendak membeli ponsel Lenovo S860 seharga 799, atau sekitar Rp2,7 juta.

Namun, ketika sang petugas toko lengah, pemuda itu melarikan diri membawa ponsel yang hendak dibelinya. Pengejaran terjadi, dan sang pemuda pun berhasil ditangkap, sempat dipukuli dan dibawa ke kantor polisi.


Namun pada Ahad (12/7) malam, sekelompok pemuda yang diduga teman sang pencuri ponsel menerobos masuk ke toko ponsel tersebut, melakukan penyerangan terhadap tujuh karyawan toko, dan memaksa mereka ke luar area perbelanjaan.

Dikutip dari MalaysiaKini, rekaman video insiden tersebut tersebar luas dan menjadi viral di media sosial. Akibat kejadian ini, sekitar 200 pemuda yang mengaku berasal dari lembaga pemerhati hak Melayu, Pekida, mengepung mal tersebut pada pukul 7 malam dan meminta polisi untuk menutup mal dan meminta keadilan terhadap penyerangan tujuh karyawan toko tersebut.

Sementara polisi mengepung mal dan meminta massa membubarkan diri, keadaan terus memanas. Kelompok pemuda ini meneriakkan kata-kata kasar yang memicu sentimen rasisme antara etnis Melayu dengan warga keturunan China. Menolak untuk membubarkan diri, kondisi sekitar mal semakin ramai, dan terdapat sejumlah wartawan yang meliput kejadian ini.

Lewat tengah malam, massa kemudian melakukan aksi-aksi yang berujung ricuh, termasuk melakukan penyerangan kepada beberapa wartawan dan sejumlah karyawan di salah satu bar di area mal. Aksi saling lempar tak terhindarkan. Dua wartawan bahkan harus dilarikan ke rumah sakit karena terluka parah.

Aksi ini baru mereda setelah satu unit polisi reserse federal Malaysia mendatangi tempat kejadian dengan membawa meriam air untuk membubarkan massa.

Kepala Departemen Penyelidikan Kriminal Malaysia Datuk Zainuddin Ahmad memgumukan bahwa perkelahian tersebut tidak dilandaskan pada isu rasisme, namun murni upaya pembalasan dendam suatu kelompok pemuda yang tidak senang temannya dituduh mencuri ponsel.

Dilaporkan Channel NewsAsia, sejak Senin (14/7) pagi keadaan sudah mulai membaik di sekitar area mal. Polisi menangkap 18 pemuda berusia 20 tahunan dalam insiden tersebut. Diperkirakan, insiden ini menyebabkan kerugian sebesar 70 ribu ringgit, atau sekitar Rp244 juta.

Terkait insiden ini, organisasi wartawan Malaysia, Gerakan Media Marah atau Geramm merilis pernyataan yang mengecam penyerangan terhadap wartawan ini. (ama/stu)