Hasil Investigasi: MH17 Jatuh Ditembak Rudal Buatan Rusia

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 13/10/2015 19:27 WIB
Hasil Investigasi: MH17 Jatuh Ditembak Rudal Buatan Rusia Bagian pesawat yang ditemukan dikumpulkan dan direkonstruksi di basis militer di Gilze-Rijen. (Reuters/Maxim Zmeyev)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Keamanan Transportasi Belanda pada Selasa (13/10) akhirnya secara resmi melansir hasil investigasi jatuhnya pesawat penumpang MH17 di Ukraina tahun lalu.

Sesuai prediksi, hasil investigasi menguak fakta bahwa pesawat yang lepas landas dari Belanda menuju Malaysia tersebut ditembak rudal Buk buatan Rusia, tapi tak diketahui siapa pelakunya.

Diberitakan Channel NewsAsia, laporan tersebut juga dilengkapi dengan peta lokasi kejadian, di mana puing pesawat ditemukan di dekat Desa Grabove, Ukraina, tepatnya di daerah separatis pro-Rusia.


Hasil penyelidikan menampik pernyataan Rusia bahwa pesawat tersebut ditembak oleh pasukan atau tentara Ukraina. Pasalnya, pesawat itu terbang di ketinggian 10 kilomter di atas wilayah tersebut.

"Dapat diasumsikan bahwa para pemberontak tak dapat mengoperasikan alat semacam ini. Saya curiga ada keterlibatan mantan pejabat Rusia," ujar salah satu sumber kepada harian Belanda, Volkskrant, seperti dikutip Channel NewsAsia.

Namun, Dewan Keamanan Transportasi Belanda menekankan bahwa investigasi ini tidak menekankan pada siapa yang melakukan.

Investigasi kriminal internasional pimpinan Belanda lainnya juga masih berlangsung. Hakim Fred Westerbeke mengatakan bahwa ia tidak akan berhenti sampai pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan MH17 ini diadili.

Insiden pada 17 Juli yang menewaskan 298 orang ini memang menelan korban paling banyak dari Belanda, sementara korban lainnya merupakan warga Malaysia, Australia, Indonesia, Inggris, Jerman, Belgia, Filipina, Kanada, Selandia Baru.

Namun, jaksa tidak dapat mengajukan perkara jika institusi peradilannya belum ditetapkan. Pada Juli, Rusia memveto proposal Belanda untuk mengadakan pengadilan internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kini, pemerintah Belanda sedang mencari alternatif lain.

Sementara itu, perusahaan pembuat rudal Buk, Almaz-Antey, juga dijadwalkan menggelar jumpa pers lain pada Selasa. Menurut Reuters, konten konferensi pers tersebut akan mendiskreditkan hasil temuan Dewan Keamanan Transportasi Belanda. (stu/stu)