Menurut Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno LP Marsudi, upaya ini tidak akan sia-sia dan tetap penting dalam kontribusi terhadap upaya pembebasan Palestina dari Israel.
"Jika bicara masalah Palestina itu kita harus berpikir do something or do nothing. Kami memilih untuk do something," ujar Retno dalam bincang-bincang dengan awak media di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (4/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retno menyebut upaya ini sebagai investasi. "Sekecil apapun pengaruhnya, kita harus tetap berusaha," katanya.
"Di Timur tengah semakin banyak konflik, perhatian tercurahkan ke Suriah, Irak, Yaman, Daesh [ISIS], dan isu Palestina semakin bergeser. Kami berharap Palestina kembali menjadi perhatian dunia," ucap Hasan.
KTT Luar Biasa OKI di Jakarta akan menghasilkan dua dokumen soal Palestina, yaitu resolusi dan deklarasi. Dokumen resolusi akan berisi konfirmasi kembali negara-negara OKI dengan fokus Palestina dan Yerusalem, yang menjadi lokasi Masjid al-Aqsa.
Hasan mengungkapkan Indonesia telah merancang cetak biru deklarasi yang telah diserahkan ke para delegasi OKI. Rancangan deklarasi dan resolusi nantinya akan dibahas di pertemuan pejabat tinggi dan menteri luar negeri negara anggota OKI pada Minggu, 6 Maret 2016 untuk kemudian disahkan dalam pertemuan pemimpin negara pada Senin, 7 Maret 2016.
"Pertemuan ini bukan event tapi sebuah proses. Ini adalah milestone, semoga melalui KTT ini, kuartet bisa didorong untuk bisa memulai kembali proses perdamaian Palestina," jelas Hasan.
Turut hadir dalam KTT Luar Biasa OKI kali ini adalah negara kuartet, sebutan untuk empat pihak mediator perundingan damai Palestina dan Israel, yaitu Amerika Serikat, Rusia, PBB dan Uni Eropa. Keempat anggota kuartet telah memastikan akan mengirim delegasi ke KTT Luar Biasa OKI.
Sejauh ini sudah 47 dari 56 negara anggota OKI yang mengonfirmasi hadir pada KTT, terdiri dari kepala negara, kepala pemerintahan, pangeran, dan menteri. (ama)