Televisi lokal pada Senin (7/3) memperlihatkan tentara dan polisi berjongkok di pintu-pintu dan atap, sementara suara tembakan menggema di pusat kota. Mayat para militan terlihat tergeletak di jalanan dekat dengan barak militer setelah tentara berhasil membengkuk mereka.
Pasca serangan, otoritas menutup akses ke kota resor Djerba yang menjadi tujuan wisata bagi turis asing, memberlakukan jam malam di Ben Guerdan dan menutup dua perbatasan dengan Libya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun lalu, militan yang dilatih di kamp militer di LIbya melancarkan dua serangan di Libya.
“Serangan ini belum pernah terjadi sebelumnya, terorganisir dengan baik. Mereka ingin mencoba mengendalikan wilayah Ben Guerdane dan menjadikannya sebagai Wilaya baru mereka," kata Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi, mengacu pada sebutan ISIS untuk daerah yang mereka rebut dan dijadikan bagian dari khilafah mereka.
Tentara menewaskan 35 militan dan menahan enam lainnya, menurut Kementerian Dalam Negeri Tunisia. Sementara itu, rumah sakit dan sumber keamanan menyebut 11 warga sipil menjadi korban tewas bersama dengan 11 tentara.
“Jika militer tidak siap, teroris sudah mengibarkan bendera mereka di Ben Guerdan dan mendapat kemenangan simbolik,” kata Abd Elhamid Jelassi, wakil presiden partai Islam, Ennahda, yang berkoalisi dengan pemerintahan Tunisia.
Saat ini, lebih dari 3.000 warga Tunisia sudah bergabung dengan ISIS dan kelompok militan lain di Suriah dan Irak. Pejabat keamanan Tunisia mengatakan mereka kebanyakan kembali dan bergabung dengan kelompok militan di Libya.
[Gambas:Video CNN] (stu)