Meskipun Perwakilan PBB Staffan de Mistura dijawalkan akan tiba di Damaskus dalam waktu dekat untuk berupaya mempercepat upaya diplomatik, gencatan senjata yang disepakati Rusia dan Amerika Serikat terancam berakhir dengan pertempuran pemerintah dengan pasukan pemberontak di dekat Aleppo.
Gencatan senjata mulai berlaku pada Februari lalu dengan tujuan membuka jalan bagi dimulainya kembali pembicaraan untuk mengakhiri perang Suriah yang telah berlangsung selama lima tahun. Namun, pelanggaran gencatan senjata kerap terjadi, dengan masing-masing pihak yang bertikai saling menyalahkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dmitry Sablin, anggota dari majelis tinggi Rusia parlemen dan anggota delegasi, menyatakan kepada kantor berita RIA bahwa, "angkatan udara Rusia akan membantu tentara Suriah yang beroperasi di lapangan dengan ofensif."
Baik Front al-Nusra, yang berkaitan dengan al-Qaidah, maupun ISIS tidak termasuk dalam gencatan senjata ini.
Sementara, kelompok pemberontak melaporkan dimulainya kembali serangan udara Rusia di wilayah selatan Aleppo. Pemerhati perang Suriah, The Syrian Observatory for Human Rights menyatakan total terdapat 35 kombatan yang tewas di kedua belah pihak dalam waktu 24 jam terakhir. Wilayah ini terus berkecamuk sejak 10 hari lalu.
Lihat juga:ISIS Beli Senjata Api Lewat Facebook |
Kodmani juga menyatakan kepada Journal du Dimanche bahwa misi pemantauan gencatan senjata AS-Rusia "tak berdaya."
Perang Suriah telah menewaskan lebih dari 250.000 orang, menciptakan krisis pengungsi terburuk di dunia, dan memungkinkan munculnya kelompok militan dengan teror yang mengglobal seperti ISIS.
Direktur Observatory, Rami Abdulrahman menyatakan "di Aleppo gencatan senjata akan segera runtuh." (ama)