Gempa Bumi, Sejumlah Perusahaan Besar di Jepang Tutup

Amanda Puspita Sari/AFP, CNN Indonesia | Jumat, 15/04/2016 16:56 WIB
Gempa Bumi, Sejumlah Perusahaan Besar di Jepang Tutup Sejumlah perusahaan terbesar di Jepang, termasuk Sony dan Toyota, menutup operasinya di wilayah selatan Jepang, menyusul gempa bumi berkekuatan 6,5 SR. (Reuters/Kyodo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa perusahaan terbesar di Jepang, termasuk Sony dan Toyota, menutup operasinya di wilayah selatan Jepang, menyusul gempa bumi yang mengguncang kawasan itu. Para pakar menilai penutupan operasi sejumlah perusahaan terbesar di Jepang ini dapat menimbulkan dampak ekonomi. 

Sedikitnya sembilan orang tewas akibat gempa berkekuatan 6,5 ​​skala Richter yang mengguncang Jepang pada Kamis (14/4) malam. Sejumlah ruas jalan hancur dan beberapa rumah runtuh di Kyushu, pulau di wilayah barat daya Jepang. 

Di samping sejumlah infrastrutur publik yang hancur akibat gempa, beberapa perusahaan di sektor baja, mobil dan teknologi Jepang menghentikan sementara produksi mereka. 


Eksportir Toyota, Honda dan Sony kini tengah melakukan pemeriksaan keamanan untuk melihat kemungkinan kerusakan akibat gempa di sejumlah pabrik dan pemasoknya. 

Perusahaan besar Jepang lainnya yang menutup sementara operasinya termasuk Mitsubishi Electric, Renesas dan Fujifilm serta pembuat ban, Bridgestone, serta perusahaan minuman Suntory Holdings.

Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, Motoo Hayashi menyatakan belum ada dampak bencana yang parah di Jepang utara melebihi gempa tahun 2011.

"Ada beberapa perusahaan yang menghentikan operasi, tapi sejauh ini saya belum menerima laporan soal dampak besar [gempa] seperti yang telah kita lalui ketika gempa pada Maret 2011," kata Hayashi kepada Jiji Press, dikutip dari AFP

Gempa yang mengguncang Jepang pada Maret 2011 memicu tsunami yang menelan ratusan sekolah dan rumah, menewaskan lebih dari 18 ribu orang dan memicu kebocoran reaktor nuklir yang melepaskan radiasi. Tragedi itu kerap disebut sebagi bencana nuklir paling berbahaya sejak tragedi Chernobyl tahun 1986.

Ketika itu, gempa juga menyebabkan puluhan perusahaan besar Jepang tutup selama beberapa bulan, menyebabkan produksi negara itu anjlok dan memengaruhi kondisi ekonomi Jepang. 

Gempa tahun 2011 menutup akses sejumlah pemasok dan pemadaman listrik di beberapa wilayah, menyebabkan puluhan perusahaan besar Jepang tutup selama beberapa bulan. Sony dan Toyota juga menutup produksi mereka selama beberapa pekan, menyebabkan produksi sektor industri Jepang anjlok.

Banyak produsen komponen yang berbasis di daerah yang terkena dampak gempa paling parah. Gempa ini juga menjadi peringatan bagi perusahaan Jepang untuk mendirikan kantor atau pabrik yang tersebar di berbagai daerah di Jepang untuk menghindari penutupan pabrik ketika bencana menimpa. 

"Secara keseluruhan, kerusakan sejauh ini terkonsentrasi di Kumamoto," kata Harumi Taguchi, pakar ekonomi dari IHS Economics di Tokyo.

"Jika rantai pasokan terhambat akibat karena kereta dan kondisi jalan [yang hancur], pengaruhnya bisa menyebar ke prefektur tetangga dan daerah lain," katanya. 

Meski begitu, lanjut Taguchi, jika dibandingkan dengan gempa di Kobe pada 1996 dan tragedi nuklir tahun 2011, bencana ini menimbulkan "kerusakan yang terbatas."

Namun, gempa pada Kamis malam ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Jepang yang tengah berupaya membangkitkan kembali sistem ekonomi dan mendorong pertumbuhan. 

"Ekonomi Jepang memiliki momentum pertumbuhan yang lemah dan masih dalam keadaan rapuh dengan absennya mesin pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan," kata Yasunari Ueno, pakar ekonomi pasar dari Mizuho Securities di Tokyo 

"Setiap insiden yang kuat dan tak terduga bisa mendorong Jepang ke fase resesi," ujarnya. (ama/stu)