Hal ini disampaikan oleh seorang pejabat pertahanan senior AS yang dikutip USA Today, Kamis (21/4). Pejabat yang tidak ingin disebut namanya itu mengatakan kini ISIS mulai menjatah bahan bakar di beberapa wilayah kekuasaan mereka dan memotong gaji para tentara dan pegawai pemerintah hingga setengahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ISIS kini tengah berjuang menambah jumlah tentara setelah antara 1.500 hingga 2.000 anggota mereka tewas terbunuh dalam sebulan. Menurut sumber, tentara asing yang baru masuk Suriah dan Irak hanya mampu memenuhi 25 persen dari kebutuhan personel ISIS.
Karena kekurangan tentara, ISIS kini mulai memaksa anggota mereka yang masih muda dan kurang pengalaman untuk terjun ke medan perang. Para pegawai pemerintah juga kini diperintakan angkat senjata.
Kendati ISIS mulai melemah, namun kelompok pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi ini masih menjadi ancaman keamanan global terbesar, terutama karena mereka mengincar serangan di Eropa dan beberapa negara Barat.
Selain itu, ISIS masih menguasai Raqqa di Suriah dan sebagian Mosul di Irak. ISIS juga memiliki tentara yang sangat loyal, yang siap bertempur mati-matian tanpa dibayar, seperti disampaikan oleh sumber USA Today.
Hal ini dibenarkan oleh pengamat terorisme. "ISIS memang melemah, tapi tidak berarti kehancuran mereka di depan mata," kata Stephen Biddle, profesor di George Washington University dan pengamat di Council on Foreign Relations. (den)