Setahun Usai Gempa, Warga Nepal Gelar Perenungan

Hanna Azarya Samosir/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 25/04/2016 15:30 WIB
Setahun Usai Gempa, Warga Nepal Gelar Perenungan Peringatan ini dianggap hanya akan membawa dampak kecil terhadap kehidupan rakyat yang masih terpuruk pasca gempa. (Reuters/Navesh Chitrakar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tepat satu tahun setelah bencana terparah sepanjang sejarah di Nepal pada 25 April lalu, warga di kaki Pegunungan Himalaya itu mengenang kembali riwayat gempa 7,8 skala Richter yang menewaskan 9.000 jiwa tersebut.

Dalam acara yang dimulai tepat pukul 11.56 waktu setempat tersebut, nama para korban akan dibacakan. Para saksi dan kerabat korban dari berbagai penjuru dunia pun kembali datang ke Desa Langtang.

Salah satu orang yang hadir adalah petualang dan fotografer dari Australia, Athena Zelandonii. "Tak ada alasan untuk tidak kembali," ujarnya kepada Reuters saat baru sampai di Kathmandu.


Zelandonii dianggap cukup beruntung. Meskipun sempat tertimbun reruntuhan setelah gempa, ia masih selamat.

Sementara itu, banyak orang yang hadir dalam acara peringatan tersebut masih berduka lantaran anggota keluarganya tak ditemukan lagi jejaknya, termasuk seorang warga Amerika Serikat, Dawn Habash.

Kedua anak Habash, Khaled dan Yasmine, masih terus mencari tahu bagaimana nasib ibunya setelah bencana tersebut. Hingga kini, yang mereka ketahui hanyalah Habash sempat turun gunung menuju Langtang sebelum gempa terjadi.

Khaled dan Yasmine bersama pamannya, Randy, berharap setidaknya dapat menemukan jasad dari Habash. "Karena kami membutuhkan itu. Terkadang, saya masih tiba-tiba memikirkan - bagaimana jika? Itu tidak sehat," kata Khaled.

Acara ini akan dilanjutkan dengan upacara peringatan nasional pada Minggu mendatang di Dharahara Tower. Di sana, lilin akan dinyalakan dan Nepal berkabung selama tiga hari kemudian.

Namun, peringatan ini dianggap hanya akan membawa dampak kecil terhadap kehidupan rakyat yang masih terpuruk usai gempa. Satu dari tujuh penduduk masih tinggal di rumah sementara, kebanyakan hanya beratap seng di tengah pedesaan yang hancur berkeping-keping.

[Gambas:Video CNN]

Kehidupan politik dan ekonomi di Nepal pun hancur. Pemerintah Nepal dianggap gagal memaksimalkan penggunaan dana bantuan luar negeri senilai US$4,1 miliar untuk pembangunan kembali.

Sektor pariwisata yang menyumbang 9 persen pendapatan Nepal juga terpuruk karena para pendaki cemas dengan keamanan di Pegunungan Himalaya.

Permintaan izin pendakian ke puncak Himalaya menurun, dari 357 permintaan izin pada tahun lalu, menjadi 289 permintaan izin pada periode ini. Namun, kini permintaan tersebut perlahan kembali menanjak.

Para pemilik penginapan juga mulai membangun kembali aset mereka yang terkubur longsoran gempa. Salah satunya adalah Sunita Rai, pemilik Kumbila Lodge di Dhole.

Rai sudah membangun kembali ruang makan dari penginapannya. Namun kini, ia kebingungan mencari dana untuk membayar uang sewa tanah yang sangat tinggi, sekitar tujuh kali lipat dari pendapatan perkapita rata-rata di Nepal.

Ia pun terpaksa menjadi kuli angkut jika para pendaki mulai datang demi mendapatkan pemasukan tambahan.

"Para pendaki belum banyak yang kembali jadi untuk membayarnya saya harus mengangkat beban berat ke atas gunung ketika sedang tidak ramai pendaki," katanya. (ama)