"Pihak Rusia sudah merespons ide untuk membangun kembali infrastruktur [Suriah]. Untuk itu, banyak kesepakatan sudah ditandatangani, termasuk perjanjian senilai US$675 juta dan US$280," ujar Perdana Menteri Suriah, Wael Nader al-Halqi, seperti dikutip RT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Suriah sudah menawarkan Rusia untuk berpartisipasi dalam upaya eksplorasi dan pembangunan lahan minyak serta gas.
Damaskus juga siap unuk mendiskusikan pembayaran dalam mata uang nasional dengan Rusia. Kini, Suriah masih menegosiasikan zona perdagangan bebas dengan Rusia, Belarusia, dan Kazakhstan. Jika perjanjian disepakati dan perdagangan mencapai tingkat tertentu, Damaskus akan mulai membayar dengan mata uang lokal.
Al-Halqi juga menyebutkan bahwa Suriah dan Rusia juga ingin membuka sebuah bank untuk memfasilitasi transfer antar-negara. Bank itu akan dikontrol 50-50 dengan kedua bank pusat negara masing-masing.
Dalam urusan perdagangan, Suriah tertarik untuk mempromosikan barang-barang Rusia di Timur Tengah. "Suriah memiliki keuntungan geografis, membuat kami dapat menjadi pusat pembangunan komersial dan industri bagi perusahaan-perusahaan Rusia di pasar Timur Tengah," kata Al-Halqi.
Berbicara mengenai ekspor Suriah ke Rusia, Al-Halqi mengatakan bahwa pada kuarter pertama 2016, Suriah menjual lebih banyak barang ke Moskow ketimbang periode 2015. (ama)