Tumpahan minyak terlihat di saluran air dan lahan basah di sekitar situs Chevron setelah serangan itu, menurut saksi Reuters dan seorang pejabat setempat. Jumlah tumpahan minyak tersebut belum bisa dipastikan.
Serangan—yang kedua terjadi dalam sepekan—terjadi saat ketegangan berkobar antara perusahaan minyak internasional dan warga Niger Delta, beberapa di antaranya mendorong perusahaan-perusahaan energi asing untuk meninggalkan negara ekonomi terbesar Afrika itu demi kemandirian ekonomi.
Lihat juga:Militan 'The Avengers' Dibekuk di Nigeria |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Delta Niger Avengers, kelompok radikal yang relatif baru, telah mengaku bertanggung jawab atas sejumlah pengeboman pipa di negara itu sepanjang tahun ini. Mereka juga menyatakan Chevron dan perusahaan minyak lainnya harus meninggalkan Nigeria pada akhir Mei.
Minggu lalu kelompok mengaku bertanggung jawab atas peledakan listrik yang mengaliri fasilitas Chevron, memaksa perusahaan itu untuk menutup faslilitas daratnya.
Serangan yang dilakukan oleh kelompok itu sejak Februari telah memangkas produksi minyak Nigeria setidaknya 300 ribu barel minyak per hari (bph) dan menutup dua kilang. Kelompok ini juga telah menyerang fasilitas milik Royal Dutch Shell.
Sumur minyak yang diserang pada Rabu berada di Dibi dekat Warri, sekitar 426 kilometer di tenggara dari Lagos, kota terbesar Nigeria.
Penduduk setempat mengonfirmasi kepada Reuters bahwa serangan telah terjadi.
Juru bicara Chevron, Kurt Glaubitz, mengatakan, mereka tidak akan “mengomentari demi keselamatan dan keamanan personel dan operasi kami.”
Tidak jelas apa efek serangan ini terhadap hasil harian Chevron di Nigeria. Tahun lalu Chevron memompa sekitar 224 ribu barel per hari di Nigeria, sekitar 9 persen dari produksi global perusahaan tersebut.
Sementara itu, militansi telah tersebar luas selama satu dekade terakhir di Delta, salah satu daerah termiskin Nigeria yang justru menghasilkan 70 persen dari pendapatan negara. (stu)