Warga desa dari Thayethamin, yang berlokasi sekitar dua jam perjalanan ke arah timur laut Yangon, menghancurkan sebuah masjid pada Kamis (23/6) setelah terjadi perselisihan mengenai konstruksi masjid tersebut.
Banyak foto diunggah ke media sosial pada Jumat (24/6) yang menampilkan gambar masjid yang hancur, furnitur yang berceceran di sepanjang jalan, dan sekelompok besar pria berkeliaran, beberapa diantaranya bersenjatakan tongkat. Namun, detail mengenai insiden itu masih simpang siur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika itu, ratusan orang tewas dalam bentrokan antara minoritas Muslim Rohingya dan etnis Buddha di negara bagian Rakhine, berujung pada eksodus warga Rohingya ke berbagai negara ASEAN. Pada 2013, kekerasan terus terjadi di wilayah lain Myanmar.
Kekerasan yang terjadi kembali meningkatkan tensi terkait keberadaan 1,1 juta minoritas Rohingya,yang hidup dalam keadaan seperti politik apartheid di Rakhine sejak 2012.
Persoalan Rohingya telah lama menjadi beban bagi pemimpin politik Myanmar yang juga pemenang Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi. Ia kerap dikritik karena tak menunjukkan ketegasan menuju solusi bagi masalah Rohingya.
Kaum Rohingya sendiri yang menyebut diri mereka dengan istilah itu. Banyak dari mereka yang sudah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi, namun kebanyakan kaum Buddha yang menyebut mereka dengan sebutan "Bengali”—suatu istilah yang menunjukkan mereka sebagai pendatang ilegal dari Bangladesh.
Suu Kyi mengajak masyarakat Myanmar untuk tidak lagi menggunakan istilah "Rohingya", namun "masyarakat Islam di Rakhine.”
Pada Senin, PBB juga menyerukan Suu Kyi untuk menjadikan penuntasan diskriminasi Rohingya sebagai prioritas nomor satu pemerintah Myanmar. PBB menambahkan bahwa kekerasan dan pelanggaran terhadap kaum Rohingya, termasuk eksekusi dan penyiksaan, dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. (stu)