Mendagri Jerman Ingin Ada Sistem Pengenal Wajah di Bandara

Dwi Febrina Fajrin/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 16:25 WIB
Mendagri Jerman Ingin Ada Sistem Pengenal Wajah di Bandara Ilustrasi (Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere ingin memperkenalkan perangkat lunak pengenal wajah di bandara dan stasiun kereta untuk membantu mengidentifikasi tersangka teror menyusul serangan militan bulan lalu.

Dalam wawancaranya dengan koran Bild am Sonntag, Thomas de Maiziere menuturkan perangkat lunak internet kini mampu menentukan apakah sesorang yang terlihat di foto merupakan selebriti atau politisi.

"Saya ingin menggunakan teknologi pengenal wajah pada video kamera di bandara dan stasiun kereta. Kemudian, jika tersangka terlihat dan dikenali, akan ada pemberitahuannya pada sistem," kata De Maiziere.


Ia mengatakan sistem yang sama sebelumnya sudah diuji coba pada pengecekan bagasi tanpa pemilik, kamera melaporkan hanya dalam beberapa menit.

Jerman mulai berada dalam kondisi siaga setelah kelompok militan ISIS mengklaim sebagai dalang dibalik dua penyerangan yang terjadi di negara tersebut. Satu serangan terjadi di kereta dekat Wuerzburg dan serangan lainnya terjadi pada festival musik di Ansbach. Pelaku yang merupakan pencari suaka melukai sekitar 20 orang pada insiden tersebut.

Belajar dari kejadian itu, penyelenggara festival bir terbesar di dunia Munich's Oktoberfest akan meningkatkan keamanan seperti melarang pemakaian ransel, melakukan pemeriksaan di semua pintu masuk, dan mendirikan pagar.

"Kita harus terbiasa akan peningkatan keamanan, seperti antrian yang lebih panjang, pengecekan yang lebih ketat atau kartu masuk pribadi. Ini membosankan, tidak nyaman, dan memakan waktu namun saya pikir tidak membatasi kebebasan pribadi," tambah De Maizere.

Banyak negara yang juga ingin menerapkan teknologi serupa. Namun secara kultur, masyarakat Jerman skeptis terkait pengawasan semacam itu akibat penindasan yang pernah dilakukan oleh polisi rahasia Stasi di Jerman Timur dan Gestapo di bawah kepemimpinan Nazi. (stu)