Ban pulang ke Korsel bulan lalu setelah selama satu dekade tinggal di New York dan diharapkan banyak pihak akan bertarung dalam pemilu tahun ini. Namun, pencalonannya dihadapkan dengan serangkaian kendala.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau belum pernah menyatakan secara resmi akan mencalonkan diri sebagai presiden, Ban sudah berkali-kali tampil di muka publik dan berbicara soal perlunya melakukan perubahan politik di negara yang sedang dilanda skandal korupsi itu.
Sejumlah laporan mengklaim Ban telah menandatangani kontrak untuk menyewa kantor seluas 660 meter persegi di Seoul. Selain itu, kemarin, dia juga mendorong perubahan konstitusi untuk mengurangi kewenangan eksekutif presiden demi pemerintahan yang lebih kooperatif.
Pria berusia 72 tahun itu semula diperkirakan akan bergabung dengan Partai Saenuri yang saat ini sedang berkuasa setelah Presiden Park Geun-hye dimakzulkan atas dugaan korupsi. Kemungkinan lain adalah dia mendirikan partai sendiri untuk mendukungnya dalam pemilu.
Namun, dia kesulitan mendapatkan dukungan dalam sistem politik Korea yang sangat partisan. Selain itu, dugaan korupsi juga diarahkan pada beberapa saudaranya.
"Saya sangat kecewa akan sikap picik, egois beberapa politisi," ujarnya. "Saya telah mengambil kesimpulan bahwa tidak ada artinya untuk maju bersama mereka."
"Dalam rangka menyelesaikan masalah kita saat ini, kita mesti meninggalkan sikap egois seperti 'mesti saya atau tidak sama sekali'," kata Ban menambahkan.
(aal)