Turki Geram Soal Komunikasi Konsulat AS dengan Pengikut Gulen

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 30/03/2017 11:51 WIB
Turki Geram Soal Komunikasi Konsulat AS dengan Pengikut Gulen Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, menganggap pernyataan dari Kedubes AS tak begitu meyakinkan. (Reuters/Murad Sezer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Turki geram karena konsulat Amerika Serikat di Istanbul dilaporkan sempat berkomunikasi dengan Adil Oksuz, salah satu pengikut Fethullah Gulen, tokoh agama yang dituding mendalangi upaya kudeta pada 15 Juli lalu dan kini masih dalam pelarian.

Kedutaan Besar AS di Turki sebenarnya sudah mengonfirmasi komunikasi dengan dosen teologi itu sebatas untuk pemberitahuan mengenai visa AS Oksuz yang telah dicabut. Namun, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menganggap, pernyataan itu tak cukup meyakinkan.

"Itu adalah pernyataan resmi jika Anda mempercayainya. Kami perlu memeriksa lebih lanjut apakah ada hal-hal lain. Kami mengharapkan respons yang lebih memuaskan dari AS," tutur Yildirim seperti dikutip AFP Kamis (30/3).


Kecurigaan Turki bermula saat media lokal mengutip surat dakwaan jaksa yang memaparkan salah satu nomor telepon konsulat AS sempat menghubungi Oksuz.

Otoritas Turki selama ini menetapkan Oksuz sebagai tersangka yang terlibat dalam upaya penggulingan Presiden Recep Tayyip Erdogan tahun lalu.

Dia dituding menjadi perantara antara Gulen dan pasukan militer dalam misi penggulingan yang berakhir gagal tersebut. Pemerintah pun memburu Oskuz dan pada 21 Juli, meminta perwakilan AS untuk mencegah buronan itu keluar dari Turki.

Di hari yang sama, konsulat AS di Istanbul dilaporkan berkomunikasi dengan Oskuz. Namun menurut Kedubes AS, komunikasi itu sekadar memberi kabar kepada Oskuz bahwa visanya dicabut.

"Kami kemudian mencabut visa AS yang bersangkutan dan berupaya menghubunginya untuk memberi tahu bahwa visanya telah dibatalkan," bunyi pernyataan resmi kedubes AS.

Selama ini, tak sedikit pihak yang mencurigai Washington turut berperan dalam upaya kudeta tersebut. Juli lalu, media lokal pro-pemerintah berspekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan AS dalam upaya kudeta.

Salah satu kolumnis surat kabar bernama Ibrahim Karagul bahkan berani menyatakan bahwa AS ingin membunuh Erdogan.

Menanggapi spekulasi ini, Duta Besar AS untuk Turki, John Bass, akhirnya menegaskan bahwa negaranya tidak pernah "berencana, mendukung, dan memiliki pengetahuan dari setiap kegiatan ilegal yang berlangsung pada 15 Juli lalu."