Korban Protes Venezuela Terus Bertambah, Maduro Bergeming

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Rabu, 26/04/2017 13:28 WIB
Warga Venezuela terus melakukan demonstrasi guna menuntut lengsernya Presiden Nicolas Maduro, kendati aksi tersebut telah menewaskan 26 orang. Demonstrasi di Venezuela terus memakan korban. Hingga hari ini, korban tewas berjumlah 26 orang. (REUTERS/Christian Veron)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua orang warga Venezuela kembali tewas akibat tembakan dalam demonstrasi yang terus berujung ricuh. Insiden itu menambah jumlah korban tewas menjadi 26 orang dalam aksi protes yang berlangsung selama sebulan terakhir. Demonstrasi itu juga melukai 437 orang.

Warga Venezuela terus melakukan protes guna menggulingkan Presiden Nicolas Maduro, yang dituding menyebabkan krisis ekonomi, sosial dan politik di negaranya.

Kantor Jaksa Penuntut Umum mengatakan Orlando Medina, 23, ditembak di jalanan di Distrik Lara, sementara Luis Marquez, 52, tewas di kota Andean, Merida. Keduanya tewas usai berpartisipasi dalam pawai anti-Maduro.


Dalam tiga minggu terakhir setelah kelompok oposisi Venezuela menggelar protes di jalanan, 15 orang tewas karena bentrokan dengan pasukan keamanan, sementara 11 orang lainnya, tewas dalama aksi penjarahan di malam hari.


Di sisi lain, aktivis politik dan media Venezuela melaporkan jumlah korban yang lebih tinggi, namun hal itu belum terkonfirmasi.

Partai Sosialis yang berkuasa menuduh opisisi berusaha melakukan kudeta kekerasan dengan bantuan Amerika Serikat, sementara pihak oposisi mengatakan bahwa Maduro adalah seorang diktator yang melakukan represi pada demonstrasi damai.

Aksi protes yang berlangsung nyaris setiap hari, baik oleh lawan dan pendukung Maduro, ada banyak korban tewas di kedua belah pihak, termasuk satu sersan Garda Nasional.

“Semua kematian ini menyakitkan, baik itu dari pihak pemerintah ataupun oposisi,” kata Ketua Jaksa Agung Luisa Ortega, sembari menambahkan, empat korban tewas diantaranya adalah remaja.

Adapun, tujuan warga melakukan demonstrasi adalah menuntut pemilu, pembebasan aktivis dari penjara, juga otonomi bagi badan legislatif yag dipimpin oposisi. Tapi, protes itu juga disebabkan oleh krisis ekonomi, juga langkanya makanan serta obat-obatan.


Aksi protes ini merupakan yang terparah sejak 2014, dimana 43 orang tewas dalam kericuhan yang juga menuntut Maduro mundur.

Dalam aksi tersebut, lebih dari 1500 orang ditahan dan 800 diantaranya masih dipenjara hingga kini.

Hari ini, Rabu (26/4) kelompok oposisi kembali merencanakan long march di Caracas agar tuntutan mereka dipenuhi. Aksi sebelumnya, kerap dipatahkan oleh pasukan keamanan yang bersenjatakan gas air mata, peluru karet dan meriam air.

Di sisi lain, warga bersenjatakan batu dan bom Molotov.

“Warga Venezuela akan terus berada di jalan hingga ada pengumuman pemilu, bantuan kemanusiaan, kebebasan bagi tahanan politik dan kemerdekaan untuk institusi publik, terutama Majelis Nasional," kata Ismael Garcia, legislator dari partai oposisi Justice First, dikutip AFP.